Kamis, 11 Agustus 2022
13 Muharram 1444

Awas Omicron Mengancam, Kenali Gejalanya

Senin, 29 Nov 2021 - 13:59 WIB
Penulis : Ivan Setyadhi
Menteri Kesehatan Budi Gunawan - inilah.com
Menteri Kesehatan Budi Gunawan Sadikin

Varian baru COVID-19 yang pertama ditemukan di Afrika, omicron, memicu kekhawatiran internasional. Indonesia termasuk negara yang memperketat pintu masuk khususnya dari negara-negara Afrika.

Meski belum ditemukan di Indonesia, mengetahui gejala-gejala Omicron sangat penting sebagai langkah antisipasi.

Seorang dokter di Afrika Selatan mengatakan gejala varian baru sejauh ini ringan dan dapat dirawat di rumah. Hal ini disampaikan oleh Dr Angelique Coetzee, seorang praktisi swasta dan ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan (Afsel).

Sejauh ini, Dr Coetzee mengatakan, ada sekitar 24 pasien COIVD-19 yang dia tangani menunjukkan gejala tak biasa. Sebagian besar dari pasien tersebut merasa sangat lelah dan setengah dari pasien tidak vaksinasi.

“Gejala-gejala mereka sangat berbeda dan sangat ringan dibandingkan mereka (pasien Covid-19 lain) yang saya rawat sebelumnya,” kata Dr Coetzee, seperti dilansir Telegraph, Senin (29/11/2021).

“Gejala pada tahap itu sangat terkait dengan infeksi virus normal. Dan karena kami belum melihat COVID-19 selama delapan hingga 10 minggu terakhir, kami memutuskan untuk melakukan tes,” katanya, seraya menambahkan bahwa pasien dan keluarganya ternyata menjadi positif.

Baca juga
Sebelum Hilang, Eril tak Lompat dari Jembatan Tapi Turuni Tangga Sungai untuk Berenang

Pada hari itu, lebih banyak pasien datang dengan gejala yang sama. Saat itulah dia menyadari ada “sesuatu yang lain terjadi.” Sejak itu, dia melihat dua hingga tiga pasien setiap hari.

“Kami telah melihat banyak pasien Delta selama gelombang ketiga. Dan ini tidak sesuai dengan gambaran klinis,” katanya, seraya menambahkan bahwa dia memberi tahu NICD pada hari yang sama dengan hasil klinis para pasien tersebut.

Ia menyebut sebagian besar dari pasien mengalami gejala yang sangat ringan dan sejauh ini tidak ada yang menerima pasien untuk tindakan lebih lanjut di rumah sakit.”Kami dapat merawat pasien ini secara konservatif di rumah,” katanya.

Coetzee, yang juga di Komite Penasihat Menteri untuk Vaksin, mengatakan tidak seperti varian Delta, pasien belum melaporkan kehilangan penciuman atau rasa dan tidak ada penurunan besar dalam kadar oksigen dengan varian baru.

Pengalamannya sejauh ini adalah bahwa varian tersebut lebih mempengaruhi orang yang berusia 40 tahun atau lebih muda. Hampir setengah dari pasien dengan gejala Omicron yang dirawatnya juga belum divaksinasi.

Baca juga
Tarik-Ulur Pengganti Sambo, Wakapolri Jabat Rangkap Kadiv Propam

“Keluhan klinis yang paling dominan adalah kelelahan yang parah selama satu atau dua hari. Kata mereka, sakit kepala dan tubuh pegal-pegal,” bebernya.

Ilmuwan Afrika Selatan meyakini bahwa varian omicorn yang menyebabkan terjadinya lonjakan kasus di Provinsi Gauteng, Afrika Selatan. Lonjakan yang terjadi di Gauteng cukup tajam, dari sekitar 550 kasus baru per hari pada pekan lalu menjadi sekitar 4.000 kasus baru per hari saat ini.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, saat ini dunia dan Indonesia sudah jauh lebih cepat dan lebih canggih mengidentifikasi varian-varian baru.

“Pesan pertama yang ingin saya sampaikan adalah dunia dan Indonesia sekarang sudah jauh lebih cepat dan lebih canggih mengidentifikasi varian baru. Indonesia dan dunia sudah cepat mengidentifikasi sudah memiliki kapasitas lebih baik. Sehingga kalau ada varian baru kita tahu dan kita langsung bisa gerakan antisipasi,” kata Budi dalam konfrensi pers secara daring, Minggu (28/11/2021) malam.

“Jadi, setiap ada alfa beta, delta, setiap ada varian baru selalu terjadi lonjakan, jadi faktor utama lonjakan itu adalah varian baru,” sambungnya.

Baca juga
BMKG Prediksi Jakarta Diguyur Hujan Jumat Siang

Budi menerangkan, mutasi varian omicron ini sangat cepat karena mutasinya sangat banyak dan mutasi-mutasi yang berbahaya dari varian-varian sebelumnya ada di varian omicron. “Mutasi ada sekitar 50, 30 mutasinya ada di spike protein di mahkota dari coronanya, dan banyak mutasi mutasi yang ada di varian alfa, beta, delta, dan gamma yang buruk-buruk yang diidentifikasi,” kata Budi.

Mutasi yang buruk itu dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok yang pertama adalah kelompok mutasi yang meningkatkan keparahan. Informasi dari Afrika Selatan menunjukkan tidak ada perbedaan gejala dan mirip dengan varian lain. Beberapa individu pun diketahui tidak bergejala.

Kemudian, kelompok kedua adalah mutasi yang meningkatkan transmisi penularan. Kemungkinan, kata Budi, varian omicron ini lebih cepat menular dibanding varian delta dan reinfeksi.

Tinggalkan Komentar