Badai La Nina Bisa Datang Lebih Awal, BMKG Ingatkan Siaga Banjir

Badai La Nina Bisa Datang Lebih Awal, BMKG Ingatkan Siaga Banjir - inilah.com
(ist)

Fenomena akibat cuaca La Nina diprediksi akan kembali berulang kembali pada akhir 2021. Kemunculan kembali La Nina yang lebih cepat dari rata-rata siklus keberulangannya ini bakal menambah intensitas hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Prediksi tentang peluang terjadinya kembali La Nina ini diumumkan Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO). ”Ada kemungkinan 40 persen bahwa La Nina, yang baru melanda Bumi antara Agustus 2020 dan Mei 2021, akan muncul kembali pada akhir tahun,” sebut kepala WMO Petteri Taalas dalam siaran pers.

La Nina mengacu pada pendinginan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik khatulistiwa tengah dan timur, yang umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. Efeknya berdampak luas pada cuaca di seluruh dunia, biasanya dampak yang berlawanan dengan fenomena El Nino, yang memiliki pengaruh pemanasan pada suhu global.

Jika El Nino biasanya berdampak pada meningkatnya intensitas kekeringan di wilayah Indonesia, sebaliknya La Nina berdampak pada meningkatnya intensitas hujan di sebagian wilayah Indonesia. ”Perkiraan ini sesuai dengan rilis prakiraan musim hujan 2021/2022 yang lebih basah. Kita juga sudah mempertimbangkan di akhir tahun atau awal tahun depan ada potensi La Nina,” kata Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan, Minggu (12/9/2021).

Baca juga  Penjaringan Direksi LPP RRI, Pakar: Sulit Berkembang Tanpa Milenial

Seperti diprediksi BMKG sebelumnya, musim hujan di Indonesia tahun ini diperkirakan datang lebih awal di sebagian besar wilayah Indonesia. Selain itu, banyak wilayah akan mengalami intensitas hujan yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya.

Sejumlah wilayah di Indonesia juga diprediksi mengalami intensitas hujan lebih tinggi daripada biasanya, antara lain sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian selatan, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian barat hingga selatan, Sulawesi, Maluku Utara bagian barat, Pulau Seram bagian selatan, dan Papua bagian selatan.

Seiring dengan perubahan iklim, menurut Dodo, siklus ENSO (El Nino Southern Oscillation) cenderung lebih rapat. Berdasarkan  pantauan BMKG, La Nina terjadi pada tahun 2007/2008, kemudian terjadi lagi pada 2010/2011, tahun 2018, terakhir terjadi pada 2020/2021. Sementara untuk El Nino, menurut Dodo, terakhir terjadi pada 2019 dan sebelumnya pada 2015.

Baca juga  Tsunami di Cilegon Belum Pasti, BMKG: Itu Peta Bahaya

Taalas juga mengatakan, perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia memperkuat dampak peristiwa yang terjadi secara alami, seperti La Nina, dan semakin memengaruhi pola cuaca kita. Dia menunjuk pada panas dan kekeringan yang lebih intens, yang meningkatkan risiko kebakaran hutan, serta banjir yang meluas.

”Kita telah melihat ini dengan efek yang menghancurkan dan tragis dalam beberapa bulan terakhir di hampir semua wilayah di dunia. Perubahan iklim meningkatkan keparahan dan frekuensi bencana,” katanya.

Taalas menambahkan, terlepas dari pengaruh pendinginan La Nina, suhu di wilayah daratan pada September dan November 2021 diperkirakan tetap di atas rata-rata tahuannya. Efek pendinginan global dari La Nina tahun ini dinilai tidak akan cukup untuk mencegah suhu naik lebih tinggi daripada biasanya.

Baca juga  BMKG: Waspada Hujan Disertai Petir di Sejumlah Wilayah Indonesia

Suhu di atas rata-rata ini diperkirakan terjadi di bagian tengah dan timur Amerika Utara, Asia utara dan Arktik, serta di bagian tengah dan timur Afrika dan Amerika Selatan bagian selatan. Meski demikian, anomali curah hujan di atas rata-rata, yang umumnya terkait dengan La Nina, masih bisa terjadi.

Bagian selatan Amerika Selatan, misalnya, mempertaruhkan curah hujan di bawah normal. Dari Mediterania ke Semenanjung Arab dan ke Asia Tengah, curah hujan di bawah normal juga mungkin terjadi. Sementara bagian utara bisa melihat lebih banyak hujan daripada biasanya.

Tinggalkan Komentar