Jumat, 30 September 2022
04 Rabi'ul Awwal 1444

Balada Kopda M, Ingin Cabut Nyawa Istri Berakhir Bunuh Diri

Jumat, 29 Jul 2022 - 10:14 WIB
Kopdam - inilah.com
Kopda M. Iustrasi: Inilah.com

Pelarian Kopda Muslimin (M) berakhir sudah. Begitu pula dengan nasibnya. Tersangka otak pembunuhan berencana terhadap istri, Rina Wulandari, ditemukan tewas di rumah orang tuanya, Kamis (28/7/2022) pagi, di Kelurahan Trompo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, karena menenggak racun. Jenazah dimakamkan tanpa upacara militer di Kendal, Jatim, setelah diautopsi di RS Bhayangkara Semarang.

Kopda M menghiasi pemberitaan dalam 10 terakhir karena dituduh mengarsiteki upaya pembunuhan terhadap istri sah. Upaya tersebut dilakukan berkali-kali, mulai dengan cara santet, racun, hingga menyewa kelompok pembunuh bayaran. Namanya takdir sudah ada yang mengatur, sang istri hidup, sedangkan Kopda M memilih jalan suram mengakhiri hidup dengan cara tidak kesatria.

Dugaan bunuh diri terlihat dari kronologi sebelum Kopda M ditemukan merenggang nyawa di TKP, Gang Adem Ayem, oleh orang tuanya pada pukul 07.00 WIB. Anggota Batalyon Arhanud 15 itu muncul pada pukul 05.30 WIB untuk bertemu orang tua dan meminta maaf atas perbuatannya. Sang ayah, Mustaqim, meminta si sulung untuk menyerahkan diri kepada aparat.

Selepas itu Kopda M masuk kamar, dan muntah-muntah. Lantas tewas. Warga sekitar geger mendengar kabar tersebut. Jadi tontonan karena rumah dipasang garis polisi dan didatangi pejabat TNI-Polri seperti Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi, Dirreskrimum Polda Jateng, Kombes Pol Djuhandani, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Irwan Anwar, Kapolres Kendal AKBP Jamal Alam serta Dandim Kota Semarang Letkol Inf Honi Havana.

Olah TKP dilaksanakan. Penyidik gabungan mengamankan alat bukti ponsel dan bekas muntahan. Kuat diduga Kopda M menenggak racun. “Muslimin sempat meminta maaf. Orang tua lalu berkata agar Kopda M menyerahkan diri,” kata Kapolda Ahmad Luthfi.

Hasil autopsi jenazah di RS Bhayangkara menyimpulkan Kopda M tewas akibat keracunan. “Dari hasil pemeriksaan dalam tubuh diketahui mati lemas karena penyakit pada otak atau keracunan,” kata Komandan Polisi Militer Kodam IV/Diponegoro Kolonel Rinoso Budi.

Untuk memastikannya dibutuhkan waktu hingga empat pekan karena harus melalui pemeriksaan patologi anatomi dan laboratorium toksikologi untuk membuktikannya. “Sedangkan jenazah sudah bisa dimakamkan,” lanjut Kolonel Rinoso.

Kopda M diburu setelah terjadi peristiwa penembakan terhadap Rina di depan rumahnya di Jalan Cemara III, Kota Semarang, terjadi pada 18 Juli 2022 yang lalu. Dua orang berboncengan motor melesatkan tembakan, satu proyektil bersarang di perut korban yang berupaya melindungi anaknya. Satu proyektil yang menembus perut ditemukan di lokasi.

Pada saat kejadian, Kopda M, berada di lokasi, memantau langsung dari lantai dua rumah. Sempat mengantar istri ke rumah sakit, tetapi lari pada malam hari. Keberadaannya tidak diketahui. Kesatuan pun dibuat bingung karena sejak insiden penembakan Kopda M tak pernah melapor.

Sementara kelompok pembunuh bayaran itu diringkus. Total  enam orang termasuk empat pelaku di lapangan yang ditangkap. Seorang lagi penyedia senjata api, seorang lagi perempuan berinisial W yang diduga kekasih gelap Kopda M. Peristiwa ini semakin miris ketika polisi membeberkan fakta hasil pemeriksaan para tersangka dan saksi-saksi, ditemukan bukti Kopda M membayar pelaku pembunuh bayaran sebesar Rp120 juta. Uang didapat dari ibu mertua.

Kopda M meminjam uang dengan dalih untuk kebutuhan rumah sakit. Total uang yang diterima sebesar Rp210 juta. Rinciannya Rp120 juta digunakan untuk membiayai pembunuhan istri, sisanya dipakai untuk melarikan diri. Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa menegaskan jajaran terus memburu Kopda M dan menyiapkan pasal berlapis kepada pelaku perbuatan tercela itu.

KSAD Jenderal Dudung juga memastikan bakal memburu Kopda M. Perburuan tak berbuah hasil, pria berbadan tambun memilih mengakhiri pelarian dengan cara frustrasi. Sedangkan istri, Rina Wulandari, saat ini masih dirawat di ruang ICU RS Dr Kariadi Semarang, dalam keadaan sadar namun masih lemah pascaoperasi kedua.

Tinggalkan Komentar