Jumat, 12 Agustus 2022
14 Muharram 1444

Balon Udara Sering Melambungkan Konflik Korsel-Korut

Minggu, 03 Jul 2022 - 10:43 WIB
Balon Udara
(foto: DW News)

Balon udara menjadi tradisi di sejumlah daerah di Tanah Air untuk menyambut Lebaran. Namun, balon udara ternyata juga bisa memanaskan hubungan antarnegara seperti Korea Utara dan Korea Selatan. Balon udara jadi alat propaganda dan sering dituding sebagai biang kerok masalah.

Mungkin Anda masih ingat film kontroversial berjudul ‘The Interview’ yang tayang pada 2014 silam. Film komedi dan laga ini sempat membuat hubungan Amerika Serikat bersama Korea Selatan kontra Korea Utara memanas. Beberapa adegan di film ini dinilai mengolok-olok Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Pemerintah Korut juga mengatakan film tersebut memicu kebencian dan amarah warga serta prajuritnya karena bersifat provokatif.

Film ‘The Interview’ menceritakan tentang Dave Skylark (James Franco) dan produser Aaron Rapoport (Seth Rogen) yang memiliki acara populer, ‘Skylark Tonight’. Kepopuleran acara tersebut tersebar hingga Korea Utara. Mereka kemudian mengetahui bahwa Kim Jong-un (Randall Park) juga menggemari acara itu.

Skylark dan Rapoport ingin mewawancarai Kim Jong-un untuk melegitimasi status mereka sebagai jurnalis. Keduanya bersiap terbang ke Pyongyang untuk bertemu pimpinan Korea Utara tersebut. Namun, rencana itu diketahui CIA. Badan Intelijen Pusat AS itu langsung merekrut keduanya untuk membantu pembunuhan Kim Jong-un. Rapoport menyetujui ide CIA karena diiming-imingi hadiah besar. Hingga akhirnya, keduanya tiba di Korea Utara dan melakukan rencananya itu.

Film ini dianggap propaganda dan bisa menjadi pemicu perang karena menjelek-jelekkan Kim Jong-un. Korut sangat sensitif terhadap segala upaya luar untuk melemahkan kepemimpinan Kim Jong-un dan melemahkan kendali absolutnya atas 26 juta penduduk negara itu. Karena itu Pyongyang melarang peredaran film ini di negaranya.

Baca juga
Kasus Hipertensi Meningkat Sepanjang Pandemi COVID-19

Korut memang sangat tertutup termasuk dalam hal jaringan internet. Karena itu sulit bagi warganya untuk menonton film ini. Para aktivis dan warga dari negara tetangganya Korea Selatan berupaya agar warga Korut bisa menonton film ini sebagai upaya propaganda. Akhirnya puluhan ribu salinan film lewat DVD dan flashdisk ‘The Interview’ buatan Sony Picture ini pun terbang melintasi batas negara menuju Korut dengan perantaan balon udara.

Seorang pembelot Korea Utara yang kini berada di Korea Selatan, Lee Min-bok, sempat mengklaim telah mengirimkan 80 ribu salinan film yang isinya dianggap menghina pemimpin Korea Utara itu. “Jika Anda mengatakan kebenaran di Korea Utara, Anda akan mati. Tapi dengan menggunakan balon dari sini, saya bisa menyampaikan kebenaran dengan aman,” ujar Min-bok, saat itu.

Sebarkan COVID Lewat Balon Udara

Kali ini kembali ramai menjadi pembicaraan tentang balon udara ini. Klaim kali ini datang dari Korea Utara yang menuding Korea Selatan telah menyebabkan wabah COVID-19 di negaranya lewat perantaraan balon udara.

Pusat pencegahan epidemi negara itu telah menemukan sejumlah orang dengan gejala COVID-19 di Kota Ipho, dekat perbatasan tenggara Korea Selatan. Beberapa penduduk Ipho dengan gejala demam melakukan perjalanan ke Pyongyang. Pusat pencegahan epidemi tersebut mengatakan seorang tentara berusia 18 tahun dan seorang anak berusia 5 tahun melakukan kontak dengan ‘benda asing’ di kota yang terletak di wilayah timur Kumgang pada awal April dan kemudian dinyatakan positif varian Omicron.

Baca juga
Ketua dan Sejumlah Anggota Komisi I DPR Positif COVID-19

Pusat pencegahan epidemi kemudian memerintahkan otoritas untuk tetap waspada menangani hal-hal asing yang datang dari Korea Selatan. Termasuk balon udara yang mengudara dari negeri gingseng tersebut. Mereka juga menekankan bahwa siapa pun yang menemukan ‘benda asing’ harus segera memberi tahu pihak berwenang sehingga mereka dapat dipindahkan.

Di sisi lain, Kementerian Unifikasi Korea Selatan menanggapi klaim Korea Utara yang tidak berdasar dengan mengatakan tidak ada kemungkinan balon udara menyebarkan virus melintasi perbatasan.

Korea Utara mengakui wabah COVID-19 untuk pertama kalinya pada pada 12 Mei silam. Mereka melaporkan sejumlah kasus di Pyongyang yang didiagnosis dengan varian Omicron. Korea Utara sejak itu melaporkan sekitar 4,7 juta kasus demam dari 26 juta penduduknya. Namun hanya mengidentifikasi sebagian kecil dari mereka sebagai COVID-19. Mereka juga melaporkan 73 kasus meninggal akibat virus corona.

Langkah pengiriman pesan menentang Kim Jong-un sudah sering dilakukan oleh warga Korea Selatan. Warga tetangga Korea Utara itu telah mengirimkan USB flash disk, selebaran antipemerintah Korut, pertunjukan TV dan uang menggunakan balon udara. Pengiriman itu bertujuan mengedukasi dan menyadarkan warga Korea Utara tentang kekejaman pemimpin mereka.

Baca juga
Inilah Saham-saham Pilihan Senin, 14 Februari 2022

Korea Utara pun sudah menyiapkan penangkal saat balon udara menuju langit negeri mereka. Korea Utara akan menembaki balon supaya dokumen dan barang yang dikirimkan tak sampai ke tangan warganya. Warga Korsel di perbatasan mengaku terancam dengan tembakan dari Korea Utara itu.

Pemerintah Korea Selatan sebenarnya sudah mengeluarkan undang-undang yang mulai berlaku pada Maret 2021 untuk menghukum para pengirim selebaran anti-Pyongyang hingga tiga tahun penjara. Namun, kebijakan Seoul ini masih diperdebatkan hangat di Korsel karena dinilai mengorbankan kebebasan berbicara demi meningkatkan hubungannya dengan Korea Utara.

Aktivitas pengiriman balon udara dipastikan akan terus berlanjut sebagai salah satu alat propaganda. Sulit untuk menangkalnya. Seperti yang terjadi juga di Indonesia, meski sudah dilarang dan ancaman hukuman, karena mengganggu aktivitas penerbangan, balon udara masih melenggang bebas di udara. [ikh]

Tinggalkan Komentar