Sabtu, 26 November 2022
02 Jumadil Awwal 1444

Banjir Bandang di Garut, 1.600 Rumah Terendam, 400 Diantaranya Rusak

Sabtu, 24 Sep 2022 - 21:00 WIB
Penulis : Wiguna Taher
Img 20220924 Wa0022 - inilah.com
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum (Jaket biru) saat meninjau dan menyerahkan bantuan untuk warga terdampak bencana banjir di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Sabtu (24/9/2022). (Foto: Biro Adpim Jabar)

Banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (22/9/2022) malam, menyebabkan lebih dari 1.600 unit rumah terdampak. Diantara ribuan rumah yang terkena banjir luapan Sungai Cipalebuh dan Sungai Cikaso itu, diperkirakan 400 rumah mengalami kerusakan.

Sabtu (24/9/2022) pagi, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum meninjau dan menyerahkan bantuan untuk korban banjir. Peninjauan ini sekaligus untuk memastikan penanganan berjalan optimal. “Kehadiran saya ke sini adalah ikhtiar untuk mencari solusi bagaimana supaya kejadian ini tidak terulang kembali,” kata Uu.

Selain itu, Uu juga menyarankan agar masyarakat yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana untuk pindah ke tempat lebih aman. “Kemudian seandainya kami sudah mengadakan progres untuk mengantisipasi banjir, tetapi ada banjir lagi dan lainnya. Saya menyampaikan hari ini mudah-mudahan ada yang terfikir untuk pindah ke tempat lain yang lebih aman lagi,” ucap Uu.

Baca juga
Ribuan Korban Gempa Cianjur Butuh Tenda, Makanan hingga Tandon Air

Sebelumnya, Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengatakan, saat ini masih menghitung jumlah kerugian akibat kejadian banjir Bandang tersebut. “Ada lima kecamatan (yang terkena banjir). Yang paling parah di Pameungpeuk, terus Cisompet, kemudian Singajaya, Banjarwangi, dan juga Cibalong,” kata Helmi melalui siaran pers, Sabtu (24/9/2022).

Ia menyebutkan, ada sekitar 1.644 rumah terdampak. “Ini jumlahnya sedang diinventarisir, tapi diperkirakan yang rusak itu sekitar 200 sampai 400 rumah, yang 1.200 rumah itu kemungkinan yang terendam saja,” kata Helmi .

Berdasarkan laporan,  hingga Jumat (23/9/2022), terdapat sekitar 40 kepala keluarga yang mengungsi. Sebagian warga mulai membersihkan rumahnya yang terdampak banjir. Sementara warga yang rumahnya mengalami rusak berat mengungsi ke rumah keluarganya.

Baca juga
Empat Pemain PSG Positif COVID-19, Termasuk Messi

Helmi mengatakan, secara kasat mata, kerugian yang diakibatkan bencana banjir bandang dan longsor ini lebih dari Rp 10 miliar. Bencana juga mengakibatkan sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan.

Dia mencontohkan, terdapat beberapa jembatan yang rusak, salah satunya yaitu jembatan yang baru saja diresmikan. “Kemudian jembatan Merah Putih, dan jembatan Manglayang. Ada tiga jembatan, satu di Pameungpeuk, dua di Cibalong,” kata dia.

Untuk langkah penanggulangan yang akan dilakukan, Helmi mengatakan, terdapat dua pilihan, yaitu relokasi dan tanggul. Untuk saat ini penanganan dengan pembuatan tanggul dinilai lebih rasional. “Tanggul ini dengan bronjong. Itu mungkin pilihan yang paling rasional saat ini adalah bronjong, tapi kita koordinasi nanti dengan provinsi, karena sungai ini ada di bawah provinsi,” jelasnya.

Baca juga
Rekomendasi Lima Saham Saat IHSG Berstatus Netral

Untuk penanganan jangka panjang diperlukan upaya rehabilitasi lahan kritis di wilayah hulu sungai.  “Jadi memang ini pilihannya, ya memang tadi selain karena hujan yang sangat deras, memang di atas itu harus kita perbaiki, ini kebanyakan lahan-lahan ini sudah tidak ada tegakan kerasnya,” tandasnya.

Pemkab Garut telah menetapkan status tanggap darurat bencana yang berlaku selama tujuh hari sejak Jumat (23/9/2022).

Tinggalkan Komentar