Bantu 250 Anak Yatim Bertahan Hidup dan Terus Sekolah di Tempat Pembuangan Sampah

Para santri di Pondok Pesantren Nurjadiid, Kampung Ciketing, RT003/RW 003, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat (foto Inilah.com)

Perjuangan hidup sebagai anak-anak yatim di tempat pembuangan sampah terpadu (TPST), Bantargebang, Bekasi sungguh berat. Di usia masih belia mereka harus berpikir keras bagaimana bisa bertahan hidup selepas ditinggal orang tua.

Walau masih bisa sedikit memiliki harapan lantaran ditampung sebagai santri di Pondok Pesantren Nurjadiid, Kampung Ciketing, RT003/RW 003, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.

Tetapi jangankan untuk mendapat fasiltas pendidikan yang layak, untuk makan sehari-hari saja anak-anak yatim di Pondok Pesantren Nurjadiid masih kesulitan. Bahkan setiap hari rela bergantian memulung di sekitar tempat pembuangan sampah. Barang-barang bekas yang dipungut dijual ke lapak. Hasilnya digunakan untuk menopang biaya konsumsi sehari-hari.

Tidak ada donatur. Pendiri Pesantren Nurjadiid hanya seorang pemulung bernama Saung Galing. Penghasilan Rp100 ribu sehari dari pria berusiah 28 tahun itu tidak mampu mencukupi kehidupan sehari anak-anak yatim di sana.

Baca juga  Cerita Nenek Mirha Hidup Mandiri di Bilik Reyot yang Mau Ambruk
Whatsapp Image 2021 11 19 At 10.38.03 - inilah.com
Setiap hari para santri rela bergantian memulung di sekitar tempat pembuangan sampah untuk menopang biaya konsumsi

Aktivitas belajar pun terbatas selain mengandalkan guru yang mengajar hanya dalam seminggu sekali, fasilitas pendidikan seperti buku pelajaran, alat tulis dan sarana terkait lainnya juga minim. Namun pendidikan Islam terus diajarkan bagi anak-anak di sana.

Bagi Saung Galing fondasi utama mengubah masa depan anak-anak itu menjadi orang yang berguna adalah mengerti agama yang diyakini sejak belia.

Persoalan keterbatasan tidak hanya berhenti pada hal-hal di atas. Para anak-anak yatim di sana juga tidur di atas tikar bekas tanpa bantal, ditambah basah kuyup akibat tampias air hujan yang masuk lewat celah-celah atap.

Mata para santri juga mengalami kesakitan lantaran kerap kemasukan serbuk campuran semen dan pasir akibat dinding tembok masih kasar belum ‘aci’.

Baca juga  DKI Siapkan Kompensasi Bau untuk Bantargebang Rp379,5 miliar

Ketika berada di lantai dua, para santri tidak bisa leluasa. Sedikit lengah saja berisiko jatuh ke bawah. Tingginya sekitar 3,5 meter. Pagar di balkon tak kokoh, karena tak ada biaya terpaksa menggunakan bambu sebagai tiang penyanggah guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan tetapi rasa takut jatuh tetap membayangi anak-anak yatim itu.

Dapur yang digunakan untuk memasak juga masih gubuk, sudah reyot termakan usia dan sering bocor jika hujan turun.

Dari tahun 2010 hingga sekarang pembangunan Pondok Pesantren Nurjadiid tak kunjung selesai. Ada sekitar 250 anak di sana, namun yang bisa ditampung hanya sebagian karena tempat dan biaya terbatas. Tidak cukup hanya mengandalkan penghasilan Saung Galing dari memulung.

Baca juga  Pandemi Tak Jua Reda, Bendera Putih Jadi Petanda

Kawan para orang baik saat ini Saung Galing membutuhkan dana sebesar Rp150 juta guna membeli berbagai perlengkapan untuk menunjang fasilitas pendidikan bagi para anak yatim. Juga membeli matras, bantal, lemari, dan membangun dapur serta meneruskan pembangunan pondok pesantren. Seperti mengokohkan pagar yang rapuh dan benahi kamar para santri yang belum layak.

Bagi Kawan Inilah yang baik bisa menyisihkan sedikit hartanya kepada anak-anak yatim di sana melalui laman Kitabisa.com di tautan  ini . Semoga bantuan para orang baik menjadi tabungan pahala untuk kehidupan di masa kini dan masa depan. Amin

Tinggalkan Komentar