Banyak Polisi Nakal, Lemkapi: Tidak Mudah Urus Semua Jajaran Polri

Banyak Polisi Nakal, Lemkapi: Tidak Mudah Urus Semua Jajaran Polri - inilah.com
Direktur Eksekutif Lemkapi Edi Hasibuan

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) Edi Hasibuan mengaku prihatin dengan banyaknya kasus yang melibatkan anggota kepolisian belakangan ini. Padahal Kapolri telah seringkali mengucap untuk menindak tegas anak buahnya yang melanggar kode etik kepolisian.

Dirinya mengakui untuk mengarahkan seluruh anggota Polri agar taat dan disiplin adalah tidak mudah. Terlebih lagi dengan tersebarnya anggota Polri sebanyak 470 ribu lebih di seluruh pelosok Indonesia.

“Tidak mudah mengurus semua jajaran Polri, pasti ada saja yang nakal,” ujarnya kepada Inilah.com.

Sehingga kasus-kasus tindak pidana yang melibatkan anggota kepolisian hingga kini masih terus terjadi.

Meskipun begitu, mantan Komisioner Kompolnas ini mengapresiasi tindakan tegas Jenderal Listyo Sigit Prabowo terhadap anggotanya yang dinilai membuat malu korpsnya tersebut. Terlebih lagi dengan pemecatan terhadap sejumlah anggota yang melakukan tindak pidana.

“Mereka yang melakukan perbuatan melawan hukum kalau ancaman hukumannya di atas empat tahun ya memang harus dipecat, sesuai dengan kode etik kepolisian,” jelasnya.

Berbeda jika perbuatan melawan hukum dengan ancaman hukumannya 1-2 tahun maka selain proses hukum, selanjutnya bisa diberi sanksi non job atau penurunan pangkat.

Baca juga  Gejala Penyakit Ginjal, Musisi Oddie Agam Meninggal Dunia

Sebelumnya kasus yang melibatkan anggota Polri terus bermunculan, mulai dari pelanggaran protokol kesehatan (prokes), kasus penganiayaan hingga kasus pelecehan seksual.

Dari kasus yang cukup menyita perhatian publik itu sedikitnya enam perwira Polri mulai dari jabatan kepala unit reserse kepolisian hingga kapolres dicopot sepanjang 2021 ini.

Berikut enam perwira Polri yang dicopot selama kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sgiti Prabowo,
1. AKP Ricky Pripurna
AKP Ricky Pripurna dicopot dari jabatannya sebagai Kapolsek Percut Sei Tuan (Sumatra Utara) atas pelanggaran protokol kesehatan (prokes) saat penyelenggaraan futsal di GOR Mini Pancing pada Februari 2021. Ajang futsal itu memicu terjadinya kerumunan penonton, padahal wilayah Kota Medan saat itu masih dalam pandemi Covid-19.

Atas pelanggaran itu, Ricky Pripurna dianggap lalai dalam menerapkan prokes saat pandemi Covid-19.

2. AKP Jan Piter Napitupulu
Setelah AKP Ricky Pripurna dicopot, posisi Kapolsek Percut Sei Tuan dipercayakan oleh AKP Jan Piter Napitupulu. Namun jabatan itu tidak bertahan lama, karena Jan Piter pun juga dicopot pada 13 Oktober 2021 lalu.

Jan Piter dicopot buntut dari kasus penanganan penganiayaan pedagang sayur di Pasar Gambir. Kasus ini menjadi perhatian publik lantaran korban penganiayaan berinisial LG yang melapor malah dijadikan tersangka.

Baca juga  Catat Rekor, Covid-19 Singapura Tembus 5.000 Kasus

Begitu juga dengan pelaku penganiayaan berinisial BS yang ikut ditetapkan sebagai tersangka. Akhirnya kasus tersebut diambil alih oleh Polrestabes Medan dan Polda Sumatra Utara.

3. AKP Hendri Surbakti
Hendri Surbakti dicopot dari jabatannya, Kapolsek Kutalimbaru (Sumatra Utara) buntut dari kasus pelecehan yang dilakukan oleh dua anak buahnya.

Dua orang penyidik Polsek Kutalimbaru berinisial Bripka RHL dan Aiptu DR diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap istri tersangka narkoba yang sedang ditahan. Tak hanya dicopotm keduanya juga harus menjalani hukuman sesuai kode etik kepolisian.

Kemudian menyusul AKP Hendri Surbakti yang juga dicopot dari jabatannya dan diganti oleh AKP Kasir Nasution

4. Kapolsek Parigi Moutong (Sulawesi Tengah)
Kapolsek Parigi Moutong berinisial IDGN langsung dijatuhi sanksi administrasi Pemberhentian Tidak dengan Hormat (PTDH) pada 23 Oktober 2021 karena diduga terkait kasus perbuatan asusila terhadap putri dari seorang tersangka kasus pencurian hewan ternak.

Ketika itu IDGN menjanjikan kepada korban berinisia S akan membebaskan ayahnya yang sedang mendekam di penjara jika mau tidur dengannya. Namun hingga perbuatan itu dilakukan, ternyata IDGN tidak kunjung membebaskan sang ayah dari penjara.

Baca juga  F1 GP Italia: Verstappen-Hamilton Tabrakan, McLaren Kuasai Monza

IDGN pun harus menjalani sidang kode etik dan terbukti melanggar hingga diberi sanksi PTDH.

5. AKBP Syaiful Anwar
Kapolres Nunukan AKBP Syaiful Anwar dicopot atas penganiayaan yang dilakukan terhadap anak buahnya saat acara bakti sosial Akabri 1999 Peduli di Aula Mapolres Nunukan. Aksi tersebut viral dari video yang tersebar di media sosial pada 25 Oktober 2021 lalu.

Korban yang merupakan anak buahnya sendiri yakni Brigadir Sony Limbong langsung terjungkal mendapat pukulan dan tendangan atasannya.

Peristiwa ini bermula ketika kapolres mengikuti acara puncak Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) melalui video conference dengan Mabes Polri dan Polda Kaltara. Namun di tengah acara terdapat gangguan teknis dan sang kapolres memanggil anak buahnya itu yang bertugas di bagian teknologi informasi dan komunikasi (TIK), tapi brigadir Sony tidak kunjung memberikan jawaban.

Hal itulah yang membuat kesal kapolres hingga terjadinya aksi penganiayaan. Atas kasus tersebut, AKBP Syaiful Anwar pun dicopot dan menjalani pemeriksaan di Propam Polda Kalimantan Utara.

Tinggalkan Komentar