Sabtu, 20 Agustus 2022
22 Muharram 1444

Banyak Utang SMI Malah Bangga, Sebut PengkrItiknya tak Paham Neraca

Rabu, 05 Jan 2022 - 23:30 WIB
Banyak Utang SMI Malah Bangga, Sebut Pengkrtiknya tak Paham Neraca

Terkait derasnya kritik utang pemerintah yang terus menggunung, Menteri Keuangan Sri Mulyani agak marah juga. Dia menyebut para pengkritik utang tak paham soal keuangan negara.

Dia malah menyebut mereka (para pengkrtiknya), minim pengetahuan keuangan negara. Tak heran, yang paling banyak diperbincangkan hanya sebatas utang. Karenanya, ia mengaku senang bisa memberikan kuliah umum kepada masyarakat karena tidak berimbangnya informasi yang tersedia di publik.

“Yang sering dengar dari headline, utang negara sudah Rp6.000 (triliun), apakah masih aman? Tidak pernah melihat neraca itu seluruhnya,” ujar Sri Mulyani saat penandatanganan Prasasti Penanda Aset SBSN, Rabu (5/1/2021).

Baca juga
Sri Mulyani Ungkap Potensi Rugi Pertamina dan PLN Ratusan Triliun, Menteri Erick Disindir

Sri Mulyani mencontohkan, penerbitan utang lewat penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) yang kemudian digunakan untuk pembangunan universitas. Padahal, bersamaan dengan pencatatan utang, bertambah pula aset negara dalam bentuk bangunan universitas.

Dia menjelaskan, aset negara juga tidak hanya berbentuk wujud yang bisa disentuh seperti bangunan, tapi juga aset tak kasat mata seperti kualitas SDM.

Ia menyebut semakin banyak pembangunan fasilitas pendidikan yang akhirnya berdampak pada perbaikan SDM, semakin kuat pula underlying atau landasan pengembalian utang.”Instrumen pembiayaan, itu kata-kata orang Kemenkeu. Kalau kata orang awam instrumen utang, tapi itu pembiayaan untuk membiayai proyek-proyek yang menjadi underlying atau landasan bagi SBSN,” jelasnya.

Baca juga
Sri Mulyani Sengaja Tahan PMN Rp7,5 Triliun, Menunggu Restu 365 Kreditur Garuda

Selain aset, ia menyebut pemanfaatan utang juga digunakan untuk belanja yang dinikmati oleh masyarakat luas, contohnya subsidi gaji pekerja, bantuan sosial (bansos), vaksinasi gratis, dan insentif listrik dan energi, termasuk belanja gaji PNS, dan banyak lainnya.”Ini yang perlu kita pahami dan ingin terus dijelaskan ke publik, sehingga rakyat tahu kenapa bayar pajak,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar