Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Harga BBM Subsidi Jadi Naik, Industri Tekstil Kurangi Produksi 15 Persen, Pengangguran Nambah

Jumat, 02 Sep 2022 - 22:15 WIB
BBM Naik, Produksi Tekstil Susut 15 Persen, Pengangguran Nambah
Presdien Jokowi tinjau industri tekstil. (Kompas.id).

Sejumlah pengusaha tekstil sangat berharap Presiden Jokowi menunda kenaikan harga BBM subsidi. Kalau naik, daya beli lonsor yang berdampak kepada penurunan produksi industri tekstil.

Ketua Umum Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta mengatakan, kenaikan harga BBM dan penurunan daya beli bakal memaksa industri untuk memangkas jumlah produksi. “Pengurangan jumlah produksi merupakan salah satu jalan keluar bagi pelaku industri TPT nasional untuk mengantisipasi efek domino kenaikan harga BBM,” ujar Redma, dikutip Jumat (2/9/2022).

Redma mengungkapkan, industri TPT nasional berpotensi mengurangi produksi sebesar 15 pada September 2022. Tentunya, kondisi ini merusak tren peningkatan kapasitas dan realisasi produksi TPT saat ini.

Baca juga
PDIP Mulai Bicara Kandidat Panglima TNI, Singgung Pertahanan Maritim

Sebagai informasi, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat hingga akhir Agustus 2022 sektor TPT nasional mampu meningkatkan kapasitas dan realisasi produksi masing-masing 21,75 persen dan 21,22 persen.

Selain itu, gangguan terhadap produksi TPT tidak hanya disebabkan oleh efek domino kenaikan harga BBM. Faktor utama lainnya yang membuat pelaku industri TPT mengurangi jumlah produksi adalah maraknya barang impor yang beredar di pasar dalam negeri.

Dia menjelaskan, sekitar 150 juta meter, kain impor sudah beredar di Tanah Air. Angka tersebut berpotensi bertambah karena hingga akhir tahun karena pemerintah membuka izin masuk untuk sebanyak 1 miliar meter kain impor. “Barang impor paling besar masuk dari China. Tercatat, barang dari China 40 persen dari total barang impor. Dari sekitar US$9 miliar nilai impor kain, barang dari China nilainya sekitar US$3 miliar,” jelasnya.

Baca juga
Ingin Ekonomi Melesat, Menko Airlangga Dorong Percepatan Penyelesaian 218 Proyek Infrastruktur di Jatim Senilai Rp294 Triliun

Redma mengatakan, kondisi tersebut diperparah dengan masih kurang bersahabatnya kondisi pasar ekspor seperti Amerika Serikat (AS) dan negara di Eropa akibat inflasi. Sampai dengan akhir Agustus 2022, terdapat 40 persen pesanan dari pasar ekspor menghilang akibat dampak inflasi di AS dan Eropa.

Sebelumnya, asosiasi memperkirakan nilai ekspor TPT nasional kemungkinan besar turun di kisaran 10 persen sampai dengan akhir tahun ini. “Jadi, kuenya mengecil, tapi persaingan dengan barang impor di pasar domestik makin ketat,” ujarnya.

 

Tinggalkan Komentar