Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

Bela Polisi Serang Suporter, Pengerahan Buzzer Tragedi Kanjuruhan Jadi Sorotan

Rabu, 05 Okt 2022 - 11:41 WIB
LPSK Minta Tersangka Tragedi Kanjuruhan Dihukum Ganti Rugi
Tragedi Kanjuruhan telan ratusan korban jiwa (Foto: AFP)

Tragedi Kanjuruhan yang menelan ratusan korban dan tidak sedikit diantaranya remaja, semakin diperkeruh dengan hadirnya pendengung (buzzer) yang menyalahkan suporter dan membela aparat pengamanan dalam kasus terparah sepanjang sejarah pertandingan sepak bola kita. Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi mengakui adanya buzzer yang melempar isu dan narasi yang berpotensi membenamkan fakta ketidakprofesionalan aparat keamanan dalam melaksanakan tugas di Stadion Kanjuruhan.

“Di medsos (media sosial) siapa pun bebas menulis, banyak akun anonim akun buzzer semua bebas melempar isu dan narasi. Pasti ada satu yang membela polisi, kenapa? Hanya melihat sisi buruk dari suporter. Sementara, mereka yang melihat langsung tahu faktanya, bahwa penggunaan gas air mata ke tribun itu lebih parah lagi,” kata Fahmi, kepada Inilah.com, di Jakarta, Rabu (5/10/2022).

Fahmi menyebutkan aktivitas buzzer seperti itu patut diwaspadai karena bukan hanya membuka celah terjadi keterbelahan publik tetapi menjadi alat pihak tertentu untuk mencari pembenaran dan legitismasi. Padahal, secara universal, penggunaan gas air mata dalam pengamanan stadion dilarang.

Baca juga
Istri 'Kasir' Anak Dirut, Peran Keluarga Ismail Bolong di Tambang Batu Bara Ilegal

Ketentuan tersebut diatur dalam regulasi FIFA Stadium Safety and Security Regulations. Pada pasal 19 b) tertulis, ‘No firearms or “crowd control gas” shall be carried or used’. Intinya, FIFA menegaskan pelarangan penggunaan gas air mata dan senjata api untuk mengamankan massa dalam stadion.

Fahmi meyakini aparat yang melakukan pengamanan pada pertandingan Arema FC Vs Persebaya yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022), sewajarnya mengetahui hal itu atau minimal memahami dampak gas air mata bagi anak di bawah umur termasuk remaja yang belum memiliki KTP. Artinya, aparat justru gagal melakukan pengamanan hingga menimbulkan korban jiwa lantaran tidak profesional melaksanakan tugasnya.

Baca juga
Usai Tersingkir dari German Open, Pebulu Tangkis Jojo Positif COVID-19

“Normal saja, aparat yang terlatih pun kena gas air mata tidak bisa bernapas apalagi ini orang biasa jadi pada akhirnya juga menyalahkan polisi,” tukasnya.

Fahmi menambahkan dua sudut pandang dari Tragedi Kanjuruhan ini akan terus bermunculan. Namun kata Fahmi, lambat laun publik akan memahami siapa yang dimintai pertanggungjawaban atas kasus ini. “Jadi saya kira biarkan, nanti di medsos ini akan kelihatan mana yang benar mana yang salah di situ,” ujarnya.

Dugaan mobilisasi buzzer untuk membela aparat menguat dalam beberapa hari terakhir melihat narasi yang bermunculan di medsos. Pemilik akun twitter @almertarandha mengaku menerima voice noted melalui pesan WhatsApp dari seorang yang mengeklaim dirinya penjual warung di Stadion Kanjuruhan dan menuturkan peristiwa nahas itu bukan kesalahan polisi.

“Buzzer pro polisi pas Tragedi Kanjuruhan. Pake strageti baru, ngirim voicenote yang ceritanya klarifikasi dari penjual warung di stadion, intinya meninggal banyak bukan gara-gara gas air mata tapi sesama penonton yang ‘uyel-uyel-an’,” cuitnya sambil menyertakan tangkapan layar bukti pesan WhatsApp.

Tinggalkan Komentar