Sabtu, 28 Januari 2023
06 Rajab 1444

Belajar dari Will Smith dan Ustaz Yusuf Mansur, Ketika Emosi Membutakan Hati

Selasa, 12 Apr 2022 - 13:08 WIB
Emosi Hati
(ilustrasi)

Beberapa hari terakhir ini media sosial mempertontonkan bagaimana seseorang public figure tak bisa mengendalikan amarah. Sebelumnya muncul kasus Will Smith menampar Chris Rock dan kini video kemarahan Ustaz Yusuf Mansur. Amarah atau emosi bisa melanda siapa saja, namun bukan berarti kita tidak bisa mengendalikannya.

Will Smith memukul komedian Chris Rock di ajang pengumuman Piala Oscar 2022 yang membuat orang di seluruh dunia terkejut. Rupanya Will Smith tak terima dengan guyonan Chris Rock yang menyinggung penampilan istrinya Jada Pinkett Smith, yang kini memiliki rambut botak karena penyakit alopecia. Akibatnya Smith pun dihukum larangan hadir di ajang Oscar selama 10 tahun.

Sementara Ustaz Yusuf Mansur (UYM) menjadi viral ketika videonya yang beredar menunjukkan kemarahannya saat berbicara tentang bisnis Paytren. Terlihat UYM sangat emosional sampai menggebrak meja. Tak ayal, video ini viral dan kemudian mendapatkan banyak komentar dari netizen.

Emosi Alami

Sama seperti kebahagiaan dan kesedihan, kemarahan juga merupakan emosi alami. Bahkan orang yang paling tenang pun bisa mengalami serangan amarah. Ada beberapa orang jarang marah, yang lain mungkin memiliki temperamen yang sangat pendek.

Saya pernah bertemu orang yang begitu ringan tangan ketika tersulut emosinya. Sangat sulit menghentikannya meskipun tubuhnya sudah dipegang cukup kuat oleh beberapa orang, namun tetap meronta untuk meluapkan emosi kepada lawannya. Ada pula yang lebih memilih diam, masuk ke ruangan dan menyepi sambil menangis.

Baca juga
Viral Grup Marah Marah di Facebook, Bagaimana Mengelola Emosi Anda?

Banyak cara yang berbeda pada setiap orang untuk melampiaskan kemarahannya. Ada yang melempar barang, berteriak, ada pula yang dengan lantang mengungkapkan ketidakpuasannya. Lalu ada pula yang mengasingkan diri, menangis, berlama-lama uring-uringan, atau jatuh sakit.

Tingkat kesabaran pada orang yang mudah marah sangat rendah dan sering muncul karena frustrasi. Biasanya dipengaruhi apa yang mereka alami di masa lalu atau riwayat keluarga. Jika seseorang pernah mengalami pengalaman traumatis, pernah mengalami kehilangan atau berduka, kemarahan bisa menjadi akibat dari itu semua.

Seringkali, mengekspresikan kemarahan dengan cara yang kasar atau berupa agresi bukanlah jawaban. Kemarahan dan agresi adalah dua sisi mata uang yang sama. Kemarahan adalah emosi, ketika berubah bentuk menjadi kekerasan, berarti menjadi agresi. Oleh karena itu, dapat menimbulkan berbagai tanda dan gejala, baik emosional maupun fisik.

Para psikolog sudah menganjurkan kita untuk belajar mengelola amarah. Dari mulai mengidentifikasi tanda-tanda awal kemarahan, juga mengajarkan cara untuk menyelesaikan masalah. Termasuk cara mengelola kemarahan, dari teknik relaksasi, terapi perilaku hingga latihan dan jika diperlukan, obat-obatan.

Dari gejala fisik yang terjadi pada tubuh, tentu bisa dikenali bahwa Anda tengah mengalami amarah. Seperti terjadi peningkatan darah lebih tinggi, palpitasi jantung, ketegangan dan kekencangan otot, hilang kesadaran, hingga sensasi kesemutan.

Mengidentifikasi dan Mengelola Amarah

Penting untuk mengidentifikasi stressor Anda. Ketahui apa yang memicu kemarahan Anda. Apakah ini ada hubungannya dengan masa lalu atau hanya menjadi lebih sering di masa lalu? Para pakar menyarankan ketika berada pada situasi ini, bernapaslah sampai merasa rileks.

Baca juga
Mundur dari Anggota The Academy, Will Smith Mengaku Patah Hati Usai Tampar Chris Rock

Kemudian, bicaralah pada diri sendiri, katakan pada diri sendiri untuk ‘santai’ dan ‘tenang’. Melakukan lari, jalan cepat, atau olahraga rutin lainnya dapat membantu menenangkan saraf. Aktivitas yoga juga dapat membantu mengendurkan otot, melepaskan ketegangan.

Daripada berteriak, lebih baik komunikasikan kemarahan Anda dalam bentuk percakapan yang produktif. Pikirkan solusi, jalan ke depan, ketimbang meninjau kembali faktor-faktor yang menyebabkan keadaan stres seperti itu. Beri diri Anda waktu istirahat, istirahat secara sederhana. Jauhkan diri Anda dari lingkungan negatif dan kelilingi diri Anda dengan energi positif.

Ada pula beberapa rekomendasi yang bisa kita Anda lakukan untuk mengendalikan amarah. Misalnya segera pergi ke tempat lain, entah itu kamar tidur, atau ruangan untuk menenangkan diri. Ini merupakan cara yang baik untuk menahan diri agar tidak mengatakan sesuatu di saat emosi tak terkontrol yang mungkin Anda sesali nanti.

Beberapa orang menyarankan Anda mendengarkan musik yang bisa memiliki kekuatan untuk mengubah suasana hati dalam beberapa menit. Musik memiliki efek menenangkan pikiran, membuat kita merasa rileks. Rekomendasi lainnya adalah melakukan relaksasi sederhana, seperti pernapasan dalam atau meditasi selama 10 menit.

Yang perlu diingat saat marah, adalah kita tidak akan pernah bisa menemukan kedamaian jika menyimpan dendam. Ekspresikan perasaan Anda, coba selesaikan perasaan negatif dan akhirnya maafkan orang-orang ini. Tindakan memaafkan ini juga bisa memperkuat hubungan Anda dengan orang yang Anda cintai.

Baca juga
Marah-marah Jadi Kebiasaan, Pemicu Tingginya Angka Hipertensi?

Ada pula yang menyarankan Anda untuk meluapkan amarah. Seringkali orang menunda diskusi atau konflik memanas. Kemudian menahan rasa marah sampai jangka waktu yang entah sampai kapan. Bahkan tidak menyelesaikannya, tentu akan sangat mungkin berdampak pada respons psikologis yang mengganggu selanjutnya.

Menekan kemarahan adalah tindakan yang dipilih secara sadar untuk menutupi pikiran atau perasaan atau dorongan terkait perilaku tertentu. Biasanya ketika kita menekan emosi seperti ini, bisa memicu perasaan cemas.

“Memendam marah bukanlah cara yang baik. Lalu apakah marah harus Anda luapkan begitu saja?” kata dr Jiemi Adrian, pakar kedokteran jiwa dalam channel video YouTube-nya.

Yang jelas, pikirkan baik-baik ketika Anda mulai merasakan amarah. Bayangkan efeknya jika Anda kebablasan, dan cari jalan keluar terbaik dengan mengelola emosi secara benar. Jangan begitu mudah Anda melampiaskannya sehingga terpaksa harus menebus konsekuensi dari kemarahan itu. [ikh]

Tinggalkan Komentar