Rabu, 30 November 2022
06 Jumadil Awwal 1444

Beredar Telur Retak Berharga Murah, Berbahayakah?

Minggu, 04 Sep 2022 - 12:35 WIB
Telur Retak Murah
(ist)

Saat ini harga telur masih tinggi. Ada beberapa pedagang yang menawarkan harga telur lebih murah, hanya saja kondisinya sudah dalam keadaaan retak. Sehatkah telur dalam kondisi seperti ini?

Harga telur masih terbilang tinggi di berbagai daerah. Masih berada di atas Rp30 ribu per kilogram bahkan di beberapa daerah seperti di kawasan timur Indonesia harganya bisa mencapai Rp40 ribu per kilogram.

Warga sudah mengeluhkan tingginya harga telur ini. Padahal banyak warga yang mengandalkan telur untuk dikonsumsi sehari-hari mengingat harganya yang murah dan kandungan gizi yang baik. Telur berukuran sedang menawarkan 5,53 gram protein, 4,18 gram lemak, dan 0,32 gram karbohidrat. Selain makronutrien, telur juga mengandung beberapa vitamin dan mineral.

Di tengah masih tingginya harga telur ini, beberapa penjual menyediakan telur yang mengalami keretakan tentunya dengan harga lebih murah. Beberapa pedagang menjualnya Rp1.500 per butir. Retakan pada telur ini biasanya terjadi saat pengangkutan ataupun penyimpanan oleh pedagang. Pembelinya ada dari kalangan konsumen individu, rumah makan, hingga pembuat kue atau roti.

Biasanya, pedagang hanya menjajakan telur retak yang mereka anggap masih layak konsumsi dan retakannya dinilai tak banyak. Lalu apakah telur retak aman dikonsumsi atau justru berbahaya dan rentan penyakit? Apa yang harus Anda lakukan jika Anda menemukan telur pecah?

Baca juga
Sering Narsis Berarti Alami Gangguan Kesehatan Mental?

Sebuah studi Juli 2017 yang diterbitkan dalam Asian-Australasian Journal of Animal Sciences menemukan bahwa telur yang retak sangat berpengaruh terhadap kualitasnya. Namun, yang lebih serius adalah kemungkinan mengalami kontaminasi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menjelaskan bahwa telur terkadang terkontaminasi oleh bakteri seperti Salmonella, yang dapat menyebabkan keracunan makanan. FDA memperkirakan bahwa makan telur yang terkontaminasi menyebabkan 79.000 kasus keracunan makanan dalam setahun.

Kontaminasi Salmonella lebih mungkin terjadi pada telur yang retak, karena bakteri bisa berada di kandang ayam dan dapat masuk ke telur melalui celah kecil. Telur juga bisa terkontaminasi dari dalam, sebelum cangkangnya terbentuk. Telur-telur bisa terlihat seperti tidak mengalami rusak parah tetapi mungkin masih membawa Salmonella.

FDA menyebutkan muntah, diare, kram perut, dan demam sebagai beberapa gejala keracunan makanan. Gejala ini bisa muncul 12 hingga 72 jam setelah Anda mengonsumsi telur yang terkontaminasi dan bisa bertahan hingga tujuh hari.

Menurut FDA, kelompok orang tertentu mungkin menghadapi konsekuensi yang lebih serius bahkan dapat mengancam jiwa. Kelompok-kelompok ini termasuk anak-anak di bawah usia 5 tahun, orang dewasa di atas usia 65 tahun, wanita hamil dan orang-orang yang kekebalannya mungkin tidak kuat, seperti orang yang baru saja menjalani transplantasi organ, penderita diabetes atau HIV/AIDS.

Jadi, apakah itu berarti Anda harus membuang semua telur yang pecah? Belum tentu. Anda tidak boleh membeli telur retak, namun, jika telur pecah dalam perjalanan pulang dari pasar atau toko, Anda dapat memecahkannya ke dalam wadah bersih, tutup rapat dan dinginkan hingga dua hari.

Baca juga
Puskesmas di Malang Berhasil Turunkan Stunting

Penurunan Kualitas

Telur pecah, retak dan kerusakan fisik masih merupakan faktor kerugian utama dalam industri perunggasan. Diperkirakan 13-20 persen dari produksi telur total retak, pecah dan rusak sebelum sampai ketujuan. Kerusakan telur secara fisik berupa keretakan dapat terjadi pada saat pengepakan, pengangkutan, dan penyimpanan di setiap pedagang.

Telur mudah mengalami penurunan kualitas baik kerusakan secara fisik, kimia maupun secara biologis. Telur yang disimpan dalam jangka waktu lebih dari dua minggu saja di ruangan terbuka umumnya dapat mengalami kerusakan.

Kerusakan lainnya di antaranya akibat udara dalam isi telur keluar sehingga derajat keasaman naik. Juga karena keluarnya uap air dari dalam telur yang menyebabkan penurunan berat serta putih telur menjadi encer sehingga kesegaran telur merosot.

Kerusakan pada telur biasanya ditandai dengan bau yang tidak sedap dan warna putihnya berubah menjadi biru-hijau. Jika sudah dalam kondisi ini tentu saja harus dibuang karena berbahaya jika dikonsumsi.

Mengutip informasi dari situs rsupsoeradji.id, ada beberapa faktor yang membuat telur pecah menjadi berbahaya untuk dikonsumsi. Pertama, retakan atau pecahan bisa memudahkan bakteri masuk, paling lama kondisinya 3 jam sejak telur itu retak, selanjutnya tidak layak dikonsumsi.

Baca juga
Membudayakan Pemantauan Kesehatan di Rumah

Kedua, soal kemasan. Sejak pertama diambil dari kandang kemudian dikirim ke tujuannya, telur memang tidak pernah dicuci tapi langsung dijual. Hal itu yang membuatnya tidak higienis apabila telurnya mengalami retakan atau pecahan.

Apakah bakteri yang berbahaya itu bisa ikut mati ketika telur direbus? Meskipun telur retak dimasak hingga matang dan bakterinya mati, akan tetapi upaya tersebut dinilai sia-sia karena kandungan protein sudah hilang. Belum lagi aroma yang dikeluarkan tidak sedap sehingga akan mempengaruhi rasa dan selera untuk mengonsumsinya.

Berhati-hatilah ketika memilih telur, pilihlah yang memiliki cangkang sempurna untuk menghindari efek buruk bagi kesehatan. Jangan lupa pula, bersihkan telur ketika sampai di rumah serta lakukan pengolahan dan pemasakan yang bersih dan benar-benar matang.

 

Tinggalkan Komentar