Rabu, 25 Mei 2022
24 Syawal 1443

Berkaca dari Maura Meninggal karena Serangan Jantung di Usia Muda

Maura Meninggal karena Serangan Jantung
Dokumentasi INILAH.COM/Didik Setiawan

Maura Magnalia Madyaratry, putri sulung pasangan Nurul Arifin dan Mayong Suryo Laksono meninggal dunia karena serangan jantung. Dia meninggal pada usia 27 tahun.

Maura meninggal dunia karena serangan jantung, dia lahir pada 20 September 1994. Dia juga diduga meninggal karena mengalami kelelahan.

“Sebab penyakitnya adalah henti jantung,” kata Mayong di rumah duka, Depok, Selasa, (25/01/2022).

Tren Penyakit Tidak Menular (PTM) mengancam usia produktif

Berkaca dari kejadian Maura meninggal karena serangan jantung di usia produktif, mengutip dari situs Kementerian Kesehatan RI, Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi sebuah ancaman pada kelompok usia muda.

Direktur Pencegahan Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Cut Putri Ariane menjelaskan saat ini tren PTM semakin meningkat, dan menyerap biaya terbesar dalam JKN.

Baca juga
Ingin Fokus Ngajar, Eks Pegawai KPK Ini Tolak Pinangan Polri

”Kalau kita lihat, jantung koroner merupakan penyakit penyebab kematian tertinggi, diikuti kanker, Diabetes militus dengan komplikasi, ada tuberculosis, kemudian PPOK,” kata Cut, seperti yang inilah.com kutip dari laman kemenkes, Jakarta, Selasa, (25/01/2022).

Sementara itu, dari penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menunjukkan bahwa saat ini perkembangan PTM di Indonesia kian mengkhawatirkan.

Pasalnya peningkatan tren PTM diikuti oleh pergeseran pola penyakit, jika dulu, penyakit jenis ini biasanya dialami oleh kelompok lanjut usia, maka kini mulai mengancam kelompok usia produktif.

Ancaman ini, menurut Cut, akan berdampak besar bagi SDM dan perekonomian Indonesia ke depan. Karena, di tahun 2030-2040 mendatang, Indonesia akan menghadapi bonus demografi yang mana usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan kelompok usia non produktif.

Baca juga
Ada Upaya Menzalimi Ketum, Golkar Tegaskan Kader Solid Dukung Airlangga

Namun, apabila tren PTM usia muda naik, maka upaya Indonesia untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat dan cerdas menuju Indonesia maju pada 2045 mendatang, sulit tercapai.

Tren PTM di Indonesia karena gaya hidup tidak sehat

Cut mengungkapkan masih tingginya prevalensi PTM di Indonesia disebabkan gaya hidup yang tidak sehat.

Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa 95,5 persen masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah. Kemudian 33,5 persen masyarakat kurang aktivitas fisik, 29,3 persen masyarakat usia produktif merokok setiap hari, 31 persen mengalami obesitas sentral serta 21,8 persen terjadi obesitas pada dewasa.

Baca juga
Foto: 14 Ribu Pelanggaran Batas Kecepatan di Tol Terekam Kamera ETLE

”Perilaku kita di era teknologi sekarang ini, ternyata tidak semakin baik. Mungkin momentum ini yang mengingatkan kita semua bahwa ketika imunitas tubuh kita turun, orang semakin banyak yang peduli untuk mengubah gaya hidup,” tutur Cut.

Cut menekankan perubahan gaya hidup harus dilakukan sedini mungkin sebagai investasi kesehatan masa depan.

Kemudian dengan pengendalian faktor risiko juga harus dilakukan sedini mungkin. Masyarakat harus memiliki kesadaran kesehatan agar tahu kondisi badannya, agar semakin mudah diobati sehingga tidak terlambat.

”Jangan lupa deteksi dini, untuk orang sehat merasa dirinya tidak memiliki keluhan, belum tentu tetap sehat, lakukan skrining minimal 6 bulan sampai 1 tahun sekali,” kata Cut.

Tinggalkan Komentar