Minggu, 03 Juli 2022
04 Dzul Hijjah 1443

Berkaca pada Ekosistem GoTo, CEO: Teknologi Jadi Kunci Inklusi Keuangan

Kamis, 26 Mei 2022 - 18:21 WIB
Berkaca pada Ekosistem GoTo, Teknologi Jadi Kunci Inklusi Keuangan- inilah.com
Foto: Antara

Teknologi dapat menjadi kunci tercapainya inklusi keuangan yang memungkinkan masyarakat terlayani oleh bank atau lembaga keuangan dengan lebih masif. Penilaian tersebut datang dari CEO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk Andre Soelistyo seraya berkaca pada ekosistem GoTo.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (26/5/2022), Andre mengatakan bahwa banyak mitra Gojek dan Tokopedia yang awalnya tidak memiliki rekam jejak transaksi finansial sama sekali, sehingga tidak memiliki akses ke layanan keuangan formal. Para mitra tersebut sebagian besar memang tidak tersentuh dan terlayani oleh bank atau lembaga keuangan formal (unbanked).

Namun dengan kehadiran GoTo, melalui ekosistem Gojek (on-demand), Tokopedia (e-commerce), dan GoTo Financial (financial technology), para mitra itu bisa memiliki rekam jejak transaksi keuangan. Data itulah yang akan menjadi pendukung untuk dipergunakan dalam menciptakan produk keuangan yang inklusif, sehingga para mitra ini nantinya bisa memiliki akses keuangan, mulai dari simpanan, modal kerja, pembiayaan, hingga akses untuk produk asuransi dan lainnya.

Baca juga
Saham GOTO Turut Antar IHSG Kembali ke Atas Level Psikologis 7.000

“Menurut pengalaman kami, jika kita tidak mendukung mereka untuk meningkatkan pendapatan mereka lebih dulu, akan sulit mempertahankan inklusi keuangan, karena inklusi keuangan baru akan terjadi sesudahnya. Kami melihat merchant skala kecil, para driver, mereka tidak punya rekam jejak apa pun sebelumnya soal keuangan, namun karena kami adalah platform yang menghubungkan banyak transaksi digital, mereka akan memiliki rekam jejak tersebut,” ujar Andre dalam rangkaian acara Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) 2022 yang diselenggarakan di Davos, Swiss.

Ia juga menyampaikan bahwa ekosistem digital punya andil besar dalam menekan kesenjangan dalam inklusi ekonomi.

“Untuk dapat mengatasi masalah kesenjangan inklusi keuangan, kita harus terlebih dahulu membawa masyarakat masuk ke dalam inklusi digital,” kata Andre.

Ia pun menjelaskan soal pengembangan infrastruktur digital yang bisa dilakukan ke depan di antaranya real time payment hingga sistem pembayaran online berbasis Unified Payments Interface (UPI).

Baca juga
Airlangga Sebut Nilai Transaksi Ekonomi Digital Indonesia Bisa Tembus USD 146 Miliar pada 2025

“Untuk pengembangan infrastruktur ini, pemerintah, sektor swasta, dan publik perlu saling bekerja sama sehingga bisa terbangun infrastruktur yang dapat mendukung inklusi keuangan yang lebih terjangkau,” ujar Andre.

Dalam kesempatan yang sama, Andre pun menjelaskan mengenai GoTo yang merupakan ekosistem digital terbesar di Indonesia, menyajikan layanan on demand lewat Gojek, e-commerce via Tokopedia, dan teknologi finansial melalui platform GoTo Financial, dengan berbagai layanan pembayaran, pendanaan, hingga solusi keuangan untuk para pedagang.

Melalui GoTo Financial, perusahaan berkomitmen membuat layanan teknologi finansial dapat diakses oleh semua pihak dengan mudah dan aman lewat satu sentuhan, secara terintegrasi bersama-sama dengan dua platform GoTo lainnya, yaitu Gojek dan Tokopedia.

Selain dari partisipasinya di Pertemuan Tahunan WEF, Andre juga menjadi salah satu pembicara dalam sesi Deepening Digital Growth in The New Economic Landscape (Memperdalam Pertumbuhan Digital dalam Lanskap Ekonomi Baru) dalam rangkaian Indonesia Pavilion, acara penyerta yang diselenggarakan oleh Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia.

Baca juga
Tokopedia dan Gojek Digugat Rp2 Triliun, GoTo Siap Ambil Sikap

Dalam acara tersebut, Andre memaparkan peran teknologi dan ekosistem digital dalam mendukung pertumbuhan ekonomi pascapandemi COVID-19.

“Di GoTo, kami mengalami sepanjang dua tahun terakhir lebih dari satu juta pedagang baru bergabung ke dalam ekosistem kami. Dalam situasi ekonomi yang sulit tersebut, kami melihat peningkatan jumlah wirausahawan yang pertama kali berbisnis, mungkin memulai usaha makanan dari rumah mereka, atau menjual makanan melalui e-commerce,” kata Andre. [ikh]

Tinggalkan Komentar