Jumat, 20 Mei 2022
19 Syawal 1443

Bertahan di Kiev, Presiden Ukraina Sebut Dirinya ‘Target Nomor Satu’ Rusia

Presiden Ukraina
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (foto: president.gov.ua)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Jumat (25/2/2022) menyebut dirinya sebagai ‘target nomor satu’ Rusia dan berjanji untuk tetap berada di Kiev.

Pernyataan Zelenskyy itu muncul ketika pasukannya bertempur melawan tentara Rusia, yang bergerak menuju ibu kota Ukraina itu, dalam serangan terbesar terhadap sebuah negara Eropa sejak Perang Dunia II.

“Musuh telah menandai saya sebagai target nomor satu. Keluarga saya adalah target nomor dua. Mereka ingin memusnahkan Ukraina secara politik dengan menghancurkan kepala negaranya,” kata Zelenskyy lewat pesan video yang dikutip Reuters, Jumat.

“Saya akan bertahan di ibu kota. Keluarga saya juga di Ukraina,” lanjut dia.

Baca juga
Larangan Minyak Goreng Curah Dicabut, Pedagang Gorengan Pun Tersenyum

Rusia melancarkan invasi lewat darat, udara dan laut pada Kamis (24/2/2022), menyusul pernyataan perang Presiden Vladimir Putin. Diperkirakan sekitar 100.000 orang menyelamatkan diri ketika ledakan dan tembakan mengguncang kota-kota besar di Ukraina. Puluhan orang dilaporkan tewas.

Pejabat AS dan Ukraina mengatakan Rusia bermaksud merebut Kiev dan menggulingkan pemerintah, yang oleh Putin dianggap sebagai boneka AS.

Tentara Rusia menguasai pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl ketika mereka bergerak maju melintasi rute terpendek ke Kiev dari Belarus ke arah utara.

Putin mengatakan Rusia melakukan ‘operasi militer khusus’ untuk menghentikan genosida pemerintah Ukraina terhadap rakyatnya sendiri. Tuduhan itu disebut tidak berdasar oleh Barat.

Baca juga
Kapolri Perintahkan Kapolda Jaga Ketersediaan Minyak Goreng

Dia juga mengatakan Ukraina merupakan negara yang tidak sah karena secara historis tanahnya adalah milik Rusia.

Zelenskyy mengatakan pada Jumat bahwa 137 personel militer dan warga sipil tewas dan ratusan lainnya terluka dalam pertempuran. Pejabat Ukraina sebelumnya melaporkan sedikitnya 70 orang kehilangan nyawa.

AS dan anggota NATO lainnya telah mengirim bantuan militer ke Ukraina tapi belum ada langkah untuk mengerahkan pasukan karena khawatir dapat memicu konflik yang lebih luas.

Menteri Luar Negeri Dmytro Kuleba mengatakan Ukraina membutuhkan “lebih banyak senjata untuk terus bertempur… banyaknya tank, kendaraan lapis baja, pesawat, helikopter yang dikerahkan oleh Rusia di Ukraina, tak terbayangkan.”

Tinggalkan Komentar