Minggu, 02 Oktober 2022
06 Rabi'ul Awwal 1444

BI Diprediksi Kerek Suku Bunga pada Kuartal III-2022

Selasa, 09 Agu 2022 - 22:18 WIB
BI Diprediksi Akan Naikkan Suku Bunga pada Kuartal III-2022
Bank Indonesia/Foto:ist

Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebanyak dua sampai tiga kali dimulai kuartal III 2022.

“Kami perkirakan suku bunga BI akan berkisar 4,00 sampai 4,25 persen sampai akhir tahun ini dengan kenaikan dimulai pada kuartal III tahun ini,” kata Katarina dalam temu media secara daring yang dipantau di Jakarta, Selasa (9/8/2022).

Dia menilai, saat ini, BI tidak perlu tergesa-gesa dalam menaikkan suku bunga acuan karena nilai tukar rupiah tidak terdepresiasi sedalam mata uang negara lain. Selain itu, inflasi inti Indonesia yang mencapai 2,86 persen pada Juli 2022 masih di kisaran perkiraan pemerintah 2 sampai 4 persen.

“Kita melihat Bank Indonesia akan meningkatkan suku bunga mulai kuartal III 2022 secara bertahap untuk menjaga daya tarik aset finansial Indonesia, tapi tidak perlu terlalu agresif seperti The Fed,” katanya.

Baca juga
BI Perkirakan Inflasi Bulan September Capai 1,10 Persen

Meskipun nantinya tingkat inflasi mereda karena penurunan harga komoditas, BI diperkirakan akan tetap menaikkan suku bunga untuk menjaga jarak suku bunganya dengan suku bunga The Fed dan bank sentral negara lain.

Adapun saat ini, suku bunga acuan Bank Indonesia berada pada level 3,50 persen, sementara suku bunga bank sentral AS The Fed sebesar 2,50 persen.

Hanya saja, peningkatan suku bunga BI tidak akan dilakukan secara agresif mengingat inflasi terkendali dan pemulihan perekonomian nasional masih terjaga dan tumbuh 5,44 persen year on year pada kuartal II 2022.

“Jadi karena pertumbuhan ekonomi sudah sangat baik, Bank Indonesia mau sangat berhati-hati dalam menaikkan suku bunga. Kita lihat ada inisiatif lain untuk jaga peredaran uang melalui peningkatan GWM (Giro Wajib Minimum) dan operasi pasar terbuka,” imbuhnya. [ipe]

Tinggalkan Komentar