Minggu, 04 Desember 2022
10 Jumadil Awwal 1444

BI Ingatkan Potensi Kripto Ancam Stabilitas Keuangan Dunia

Sabtu, 16 Jul 2022 - 12:17 WIB
BI Ingatkan Potensi Kripto Ancam Stabilitas Keuangan Dunia
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Pesatnya perdagangan aset kripto ternyata menimbulkan resiko baru yang cukup serius. Lantaran sifat kripto yang volatil.

Seperti disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, terdapat potensi ancaman aset kripto terhadap stabilitas keuangan dunia. Hal itu berdasarkan laporan penilaian risiko terbaru Financial Stability Boards (FSB).

“Ini karena skala aset kripto, kerentanan struktural, dan meningkatnya keterkaitan dengan sistem keuangan tradisional,” kata Perry dalam Pembukaan Hari Kedua Pertemuan Ketiga Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (3rd FMCBG) G20 2022 di Nusa Dua, Badung, Bali, Sabtu (16/7/2022).

Menurut dia, FSB terus mempromosikan implementasi efektif dari berbagai rekomendasi tingkat tinggi untuk regulasi, pengawasan, dan kelalaian pengaturan stablecoin global.

Baca juga
Tunggu Inflasi Inti Seleher, BI Baru Naikan Suku Bunga

Selain itu, FSB telah mengidentifikasi implikasi peraturan dan kebijakan utama dari pengembangan pasar aset kripto, termasuk pasar stablecoin.

Selanjutnya, perkembangan terkini di pasar aset kripto juga mendesak FSB untuk terus membangun kesadaran publik akan risiko yang terkait dengan aset kripto.

Dengan latar belakang tersebut, Perry menilai pandangan seluruh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 akan menjadi penting sebagai bagian dari menjaga stabilitas keuangan global.

“Terutama tentang masalah-masalah mendesak dari perkembangan pasar aset kripto baru-baru ini, serta strategi untuk mempromosikan pendekatan regulasi dan pengawasan yang konsisten terhadap aktivitas aset kripto,” tuturnya.

Baca juga
Tiga Bulan Pertama, Duit Asing Pulang Kampung US$1,1 Miliar

Sebelumnya, BI mengungkapkan aset kripto menjadi salah satu faktor pendorong bank sentral di seluruh negara mulai meluncurkan mata uang digital bank sentra atau yang biasa disebut Central Bank Digital Currency (CBDC).

Di Indonesia, rencananya CBDC akan dinamakan dengan Rupiah Digital yang kini masih terus dikaji.

 

Tinggalkan Komentar