Jumat, 30 September 2022
04 Rabi'ul Awwal 1444

BI Sebut US$2 Miliar Modal Asing Cabut dari Indonesia

Kamis, 21 Jul 2022 - 19:39 WIB
BI Sebut US$2 Miliar Modal Asing Cabut dari Indonesia
Bank Indonesia/ist

Bank Indonesia (BI) mencatat, aliran modal asing keluar bersih dari pasar keuangan domestik, mencapai 2 miliar dolar AS, memasuki triwulan III-2022 hingga 19 Juli 2022. Kambing hitamnya, ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi.

Sebelumnya, investasi portofolio pada triwulan II-2022, mencatat aliran modal asing masuk bersih sebesar 200 juta dolar AS.

“Ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi dan mengakibatkan terbatasnya aliran modal asing serta menekan nilai tukar di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” ungkap Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur bulan Juli 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (21/7/2022).

Ia menyebutkan, nilai tukar rupiah pada 20 Juli 2022 terdepresiasi 0,60 persen dibandingkan akhir Juni 2022, namun dengan volatilitas yang terjaga.

Baca juga
Burden Sharing Bikin Pemerintah Manja dan Potensi Moral Hazard

Depresiasi tersebut sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara untuk merespons peningkatan tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global, di tengah persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap positif.

Dengan perkembangan ini, mata uang Garuda sampai dengan 20 Juli 2022 terdepresiasi 4,9 persen dibandingkan dengan level akhir 2021.

Namun Perry menjelaskan kondisi kurs rupiah tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Malaysia yang menurun 6,41 persen, India 7,07 persen, dan Thailand 8,88 persen.

Baca juga
Survei BI Membuktikan: Kredit Korporasi dan Rumah Tangga Menanjak di Juni 2022

“Ke depan, BI terus mencermati perkembangan pasokan valas dan memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi,” tegas Perry. [ipe]

Tinggalkan Komentar