Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

Biaya Hidup di Inggris Meroket, Nilai Tukar Poundsterling Anjlok Jadi Rp16.300

Selasa, 27 Sep 2022 - 22:04 WIB
Biaya Hidup di Inggris Tinggi, Nilai Tukar Poundsterling Anjlok Jadi Rp16.300
Poundsterling/ Foto: BBC

Nilai tukar poundsterling melemah terhadap mata uang dunia termasuk rupiah. Penyebabnya karena munculnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas keuangan Inggris yang saat ini tengah krisis akibat tingginya biaya hidup.

Mengutip dari Reuters pada Selasa (27/9/2022), nilai tukar poundsterling terus anjlok dalam sepekan. Nilai tukar mata uang tersebut berada di angka Rp16.902, dan ditutup di level Rp16.167.

Pada Selasa pukul 18.30 WIB, nilai tukar poundsterling masih berada di angkat Rp16.340 dan ditutup di angka Rp16.300. Anjloknya nilai tukar ini menjadi titik terendah mata uang Inggris sejak 2016 yang sempat tercatat di level Rp15.774.

Baca juga
Harga Emas Terdongkrak US$3,20 Karena Dolar AS Melemah

Poundsterling sempat berada di masa kejayaannya pada 2021 yang hampir menyentuh Rp20.000 atau tepatnya sebesar Rp19.619. Tak hanya terhadap rupiah, nilai tukar negara kerajaan ini juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Saat ini nilai tukarnya merosot 5 persen menjadi US$1,03.

Mantan Kanselir Inggris Tory Lord Ken Clarke mengungkapkan anjloknya nilai tukar poundsterling ini akibat kebijakan yang pemerintah Inggris baru-baru ini. Selain itu kondisi ekonomi Inggris yang sedang melemah turut menjadi faktor penyumbangnya.

Mata uang euro juga terpantau melemah dan berada pada level terendah sejak 20 tahun terakhir.

Penyebab melemahnya euro ini akibat konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Euro bisa kembali anjlok jika eskalasi perang Rusia dan Ukraina tidak kunjung mereda. Dampak geopolitik ini juga berdampak ke nilai tukar yuan China yang turun 0,5 persen atau mencapai level terendah selama 28 bulan terakhir.

Baca juga
Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS Dorong Penguatan Dolar

“Orang tidak boleh meremehkan krisis yang terjadi di seluruh Eropa. Saat ini euro dan pound sterling lebih rentan dibanding mata uang lainnya,” jelas kepala ekonom di ACY Securities, Clifford Bennet.

Tinggalkan Komentar