Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

Bicara Resesi Ekonomi, Sri Mulyani Tak Berniat Nakut-nakuti

Rabu, 26 Okt 2022 - 22:44 WIB
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Terkait pernyataan tentang resesi ekonomi yang menuai kritikan, Menteri Keuangan Sri Mulyani blak-blakan. Tujuannya bukan menakut-nakuti melainkan agar semuanya waspada.

“IMF menyampaikan bahwa terkait ekonomi 2023 ‘it’s gonna be dark’. Kalau saya mengatakan begitu, saya malah dianggap menakut-nakuti, tapi sebetulnya nggak, hanya ingin menyampaikan bahwa risiko itu sangat ada dan oleh karena itu kita harus waspada. Proyeksi dari pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan diperkirakan akan lebih lemah, bahkan kemungkinan terjadi resesi,” ucap Sri Mulyani dalam acara Leaders Talk Series #2 bertajuk ‘Indonesia Energy Investment Landscape’ secara virtual, Rabu (26/10/2022).

Baca juga
Lebaran Bangunkan Ekonomi Jabodetabek, Putaran Duitnya Rp55,6 Triliun

Selanjutnya dia menyebut adanya 60 negara yang berpotensi mengalami krisis utang. Untung saja, Indonesia tak termasuk di dalamnya. Meski, utang pemerintah Indonesia tidak kecil juga.

“Sebanyak 60 negara terancam krisis utang, sebelumnya sudah terlihat contohnya yaitu Sri Lanka. Ada 60 negara sudah terjebak dalam debt distress, atau kondisi keuangannya dinilai sudah bisa memicu krisis utang, bahkan krisis ekonomi,” ujar Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, bilang, meski menunjukkan pemulihan cepat dari pandemi Covid-19, dunia belum sepenuhnya pulih secara merata. Apalagi kini dihantam tekanan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina.

Perang ini kemudian memicu lonjakan harga komoditas, yang kemudian mendorong kenaikan inflasi, krisis energi, hingga pangan.

Baca juga
Optimis Ekonomi Pulih, Sri Mulyani Anggap Enteng Pelebaran Defisit Anggaran

“Dengan pemulihan ekonomi yang sangat cepat, dunia dihadapkan masalah supply chain yang tidak mampu mengikuti permintaan, kemudian muncul tekanan harga-harga atau inflasi yang diperparah dengan terjadinya perang saat ini,” kata dia.

Inflasi tinggi ini mendorong negara-negara maju secara agresif menaikkan suku bunganya. Hal ini kemudian menimbulkan pengetatan moneter dan gejolak pasar keuangan.

“Ini contohnya Amerika Serikat menaikkan suku bunga dan kenaikan likuiditas, menyebabkan penguatan dari dolar yang luar biasa. Ini menimbulkan dampak yang harus dilihat karena tekanannya sangat besar,” tuturnya.

 

Tinggalkan Komentar