Bisnis Asuransi Mengilap, AAJI: Konsumen Unit Link Tetap Tinggi

Asuransi - inilah.com
Bisnis asuransi

Sepanjang pandemi COVID-19 di 2020 hingga 2021, industri asuransi jiwa di Indonesia malah tumbuh pesat. Masyarakat semakin sadar akan perlindungan diri.

Ketua Dewan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Budi Tampubolon mengatakan, produk asuransi unit link yang mengombinasikan manfaat proteksi dan investasi, menawarkan kemudahan kepada masyarakat.

“Untuk tidak perlu memiliki dua produk keuangan. Dengan memiliki produk asuransi unit link, kebutuhan investasi masyarakat terpenuhi dari satu produk keuangan saja,” paparnya, Jakarta, Senin (13/12/2021).

Tingginya tingkat kepercayaan masyarakat dibuktikan dengan pertumbuhan premi sebesar 37,8% pada kuartal III-2021. Angka ini lebih tinggi ketimbang periode sama di tahun lalu.

Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) per semester II-2021, menunjukkan, kontribusi pendapatan premi 62,5% dari produk unit-link industri asuransi jiwa, atau mencapai Rp93,3 triliun, tumbuh 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Data AAJI menunjukkan, tingkat kepercayaan masyarakat akan produk unit link yang memadukan proteksi dan investasi.

Baca juga  Pakar UGM: Indonesia Sudah Waktunya Garap Nuklir untuk Listrik

Masih kata Budi, dengan keistimewaannya ini, tak heran masih banyak konsumen yang tertarik membeli produk unit link, dibandingkan produk asuransi tradisional yang hanya fokus menjual proteksi. Dalam 10 tahun terakhir, produk unit link meroket 10.000%, sementara asuransi tradisional hanya tumbuh 380%.

Meski begitu, ada kontroversi yang merebak terkait produk unit-link. Untuk dapat lebih memahami persepsi masyarakat akan unit link, YouGov, lembaga survei asal Inggris, pada Juli 2021 mengadakan jajak pendapat terhadap 2.000 responden di seluruh Indonesia.

Survei secara daring ini, menunjukkan 89% responden pemilik asuransi unit link, memiliki sentimen positif atau netral. Khusus nasabah yang sudah menutup polis, persepsi terhadap unit link, masih cukup baik. Sebanyak 14% sangat positif, 24% cukup positif, dan 41% netral. Hanya 21% yang memiliki sentimen negatif, terindikasi karena nilai investasi yang tidak sesuai harapan.

Baca juga  Tarif Karantina Mandiri Menguras Dompet, Bos Hotel Ngaku Buntung

Pengamat asuransi, Kapler Marpaung menerangkan, produk asuransi unit link kerap diterpa kontroversi negatif, karena masih rendahnya literasi keuangan masyarakat Indonesia. “Literasi keuangan adalah indeks pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang mempengaruhi sikap untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta pengelolaan keuangan dalam mencapai kesejahteraan,” terang Dosen Program MM-FEB Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) dari OJK pada 2019, indeks literasi keuangan mencapai 38,03%. “Sementara indeks inklusi keuangan sebesar 76,19%. Angka tersebut meningkat dibandingkan survei OJK pada 2016,” paparnya.

Kapler menyatakan, kecakapan tenaga pemasar di masa lalu, turut menjadi salah satu faktor. Saat ini, kecakapan tenaga pemasar sudah jauh lebih baik. Seiring kesadaran masyarakat akan pentingnya membeli produk asuransi melalui tenaga pemasar yang bertanggung jawab dan committed. “Upaya edukasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asuransi juga turut diapresiasi. Menggandeng para ahli finansial, edukasi kerap dilakukan di ranah media sosial yang ampuh menarik perhatian masyarakat,” paparnya.

Baca juga  Utang Lagi, Utang Lagi...ADB Gelontorkan 500 Juta Dolar AS

Terkait prosedur penjualan produk Unit Link, Rista Qatrini Manurung, Direktur Hukum, Kepatuhan dan Risiko AIA, mengatakan, perseroan mewajibkan tenaga pemasar untuk memasarkan produk sesuai kebutuhan nasabah (needs based selling) melalui NeedsLab, platform penjualan resmi. “Platfor itu telah kami rancang untuk memastikan seluruh proses penjualan tenaga pemasar kami sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ungkapnya.

Dia menambahkan, penjualan unit link memiliki banyak kontrol untuk memastikan bahwa nasabah memahami polis yang dibeli. Diantaranya melalui pre dan post closing penjualan, seperti adanya ilustrasi, rekaman penjualan (khusus penjualan yang dilakukan secara daring), welcome call, free look period yaitu kurun waktu yang diberikan bagi nasabah untuk mempelajari polisnya, pengiriman ihtisar polis dan mystery shopping.

Tinggalkan Komentar