Selasa, 16 Agustus 2022
18 Muharram 1444

Bisnis Kripto Benar-benar Runtuh, Penjelasan Apalagi dari Indodax?

Sabtu, 02 Jul 2022 - 17:26 WIB
Bisnis Kripto Benar-benar Runtuh, Penjelasan Apalagi dari Indodax?
CEO Indodax, Oscar Darmawan (Genpi).

Runtuhnya nilai duit kripto, khususnya Bitcoin yang kapitalisasinya terjumbo, masih dipandang wajar. Waduh, ada yang rugi triliuanan dari investasi uang kripto, dianggap biasa.

CEO Indodax, Oscar Darmawan menilai, penurunan harga Bitcoin yang saat ini berada di kisaran Rp300 jutaan masih dalam batas wajar, jika ditinjau dari analisis teknikal dan merupakan siklus empat tahunan yang pernah terjadi sebelumnya.

“Setelah Bitcoin mengalami all time high di 2013, 2017 dan 2021, maka akan terjadi penurunan harga yang cukup signifikan di tahun berikutnya yang diikuti dengan penurunan kripto lainnya. Kita bisa lihat bagaimana penurunan terjadi pada tahun 2014, 2018 dan sekarang di tahun,” ujar Oscar dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (2/7/2022).

Menurutnya, siklus empat tahunan tersebut sering dimanfaatkan orang untuk membeli dan mengumpulkan aset kripto. Karena saat harga Bitcoin turun, harga aset kripto lain biasanya mengikuti.

“Biasanya harga mayoritas kripto akan mengikuti Bitcoin sebagai aset kripto yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar. Momen bearish saat ini justru adalah momen yang sering dimanfaatkan para trader jangka panjang untuk mengumpulkan portofolio kripto dengan membeli kripto yang mereka inginkan di harga yang murah,” kata Oscar.

Baca juga
Lonjakan Biaya Hidup Bikin Sebagian Warga Inggris Beralih ke Judi dan Kripto

Di Indodax sendiri ada 200 lebih jenis aset kripto dan tidak semua mengalami penurunan seperti Bitcoin. Ada beberapa aset kripto lain yang justru naik, seperti token derivatif.

Token derivatif merupakan token yang bergerak berlawanan dengan harga kripto pada umumnya. Indodax menyediakan token derivatif seperti Hedge dan Bear yang harganya akan naik ketika harga Bitcoin turun ataupun Ethhedge dan Bnbhedge yang harganya juga akan ikut naik ketika harga Ethereum dan BNB turun.

Token derivative biasanya bisa dimanfaatkan oleh para trader jangka pendek yang tetap ingin menuai profit pada saat pasar sedang bearish.

Dia menjelaskan, trader atau investor perlu memahami pentingnya analisis teknikal dan menerapkan manajemen keuangan yang baik. Oscar mengatakan, analisis teknikal adalah cara melihat prediksi pergerakan harga ke depan dengan melihat tren yang sudah terjadi, melalui candle atau chart. Cara sederhana adalah pola support, di mana harga kripto dari bawah yang terpantau akan naik. Atau pola sebaliknya, yaitu resisten, dimana harga akan turun dari puncak.

Baca juga
Menimbang Fatwa Haram MUI, NU, dan Muhammadiyah Soal NFT dan Uang Kripto

“Investor perlu mengetahui candlestick mana yang mengindikasikan suatu harga akan naik atau suatu harga akan turun. Apa perbedaan antara candlestick hijau dan merah. Bagaimana cara mengidentifikasi tren menggunakan garis tren. Bagaimana pola harga kripto dan lain sebagainya,” ujar Oscar.

Ia menambahkan investor pemula bisa mempelajari tips analisis teknikal Bitcoin dan kripto lainnya di internet, termasuk belajar dari Indodax.academy.

Asal tahu saja, Indodax merupakan platform jual beli (marketplace) aset kripto terbesar di Indonesia.

Berdiri tahun 2014, Indodax berkantor pusat di Gedung Millenium Centennial Center, Jakarta Selatan. Lembaga ini resmi dan legal karena terdaftar di Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Baca juga
Neraca Dagang Surplus 22 Bulan, Menko Airlangga Optimis Investor Antri Masuk Indonesia

Sedikitnya 8 juta member terverifikasi bergabung dengan Indodax. Tidak hanya Bitcoin (BTC), ratusan aset kripto tersedia di platform ini. Ada berbagai fitur yang menjadikannya platform pilihan bahkan untuk pemula sekalipun.

 

Tinggalkan Komentar