Kamis, 26 Mei 2022
25 Syawal 1443

BMKG: Gempa Sulut Akibat Deformasi Lempeng Laut Maluku

Gempa Sulut Maluku

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan gempa bermagnitudo 6,0 (sebelumnya disebut 6,1) yang mengguncang Sulawesi Utara (Sulut) pada Sabtu (22/1/2022) pagi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat deformasi lempeng Laut Maluku.

Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno menjelaskan analisis BMKG menunjukkan gempa itu memiliki parameter yang telah diperbarui magnitudo 6,0 dengan episenter di laut 34 kilometer selatan Kota Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara pada kedalaman 37 kilometer.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya deformasi lempeng Laut Maluku. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik mendatar (oblique thrust),” jelas Bambang.

Baca juga
Mengaku Petugas PLN, 5 Orang Gasak Berlian Senilai Rp1 Miliar

Hasil pantauan BMKG sampai dengan Sabtu pukul 11.30 WIB memperlihatkan adanya sembilan gempa susulan atau aftershock dengan magnitudo terbesar 4,5.

Guncangan gempa yang terjadi pada Sabtu pagi sekitar pukul 09.26 WIB itu sendiri dirasakan dalam skala III-IV MMI di Melonguane, dengan getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah.

Bambang memastikan bahwa lewat hasil permodelan BMKG bahwa gempa itu tidak memiliki potensi tsunami. Dia pun mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang serta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.

“Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yg membahayakan kestabilan bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah,” ujarnya.

Tinggalkan Komentar