Rabu, 01 Februari 2023
10 Rajab 1444

Bom Rusia Ledakkan Sekolah, Jill Biden Kunjungi Ibu Negara Ukraina di Kyiv

Senin, 09 Mei 2022 - 10:18 WIB
Penulis : DSY
Editor : Ibnu Naufal
Bom Sekolah - inilah.com
Para petugas ICRC tengah mencoba melakukan penyelamatan di sebuah sekolah yang ambruk dan terbakar karena serangan bom Rusia. Disebutkan 60 dan 90 orang yang berada di sana, tewas.

Sekitar 60 orang tewas setelah sebuah bom menghantam sebuah sekolah di Ukraina timur, kata Presiden Volodymyr Zelensky. Sebelumnya, Gubernur Luhansk, Serhiy Haidai, mengatakan 90 orang telah berlindung di gedung di Bilohorivka, dan 30 diselamatkan.

Haidai mengatakan sebuah pesawat Rusia telah menjatuhkan bom pada hari Sabtu, meledak dan membunuh  orang-orang tersebut. Hingga kini Rusia belum berkomentar.

Luhansk telah menjadi arena pertempuran sengit ketika pasukan Rusia dan pejuang separatis berusaha mengepung pasukan pemerintah Ukraina. Sebagian besar wilayah telah berada di bawah kendali separatis yang didukung Rusia selama delapan tahun terakhir.

Bilohorivka dekat dengan kota Severodonetsk yang dikuasai pemerintah, di mana pertempuran sengit dilaporkan terjadi di pinggiran kota pada hari Sabtu. Satu surat kabar Ukraina, Ukrayinska Pravda, mengatakan desa itu menjadi “titik panas” selama pertempuran pekan lalu.

Ledakan itu merobohkan gedung yang terbakar dan petugas pemadam kebakaran membutuhkan waktu tiga jam untuk memadamkan api, menurut gubernur yang  menulis berita itu di Telegram. Dia mengatakan hampir seluruh desa telah berlindung di ruang bawah tanah sekolah.

Korban tewas terakhir hanya akan diketahui ketika puing-puing telah dibersihkan, kata gubernur.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan dia “terkejut” dengan serangan mematikan itu, seraya menambahkan: “Warga sipil harus selalu dihindarkan pada saat perang.”

Baca juga
Presiden Jokowi Bertolak ke Jerman Hadiri G7

Di tempat lain di negara itu, pejuang Ukraina di pabrik baja di pelabuhan Mariupol telah mengatakan kepada dunia bahwa mereka tidak akan menyerah kepada pasukan Rusia dan telah meminta bantuan untuk mengevakuasi mereka yang terluka.

Rusia telah mengepung daerah itu selama berminggu-minggu, meminta para pejuang Ukraina dari Batalion Azov untuk meletakkan senjata mereka. Tetapi dalam konferensi pers langsung dari pabrik yang hancur itu, anggota batalion mengatakan mereka tidak akan menyerah.

Salah satu dari mereka, Letnan Illia Samoilenko, mengatakan: “Menyerah bagi kami tidak dapat diterima karena kami tidak dapat memberikan hadiah sebesar itu kepada musuh. Kami pada dasarnya telah mati. Sebagian besar dari kami tahu ini. Itu sebabnya kami bertarung tanpa rasa takut.”

Para pejuang itu juga mengkritik pemerintah Ukraina yang mengatakan telah gagal dalam mempertahankan Mariupol. Namun Presiden Volodymyr Zelensky membalas, mengatakan Ukraina tidak memiliki persenjataan berat yang diperlukan untuk membuka blokir kota dan bahwa upaya diplomatiknya sendiri yang telah mengamankan evakuasi semua warga sipil yang terperangkap di dalam pabrik baja.

Komite Palang Merah Internasional (ICRC), yang bertanggung jawab untuk mengoordinasikan evakuasi dari Mariupol bersama PBB, mengatakan 170 warga sipil tiba di kota Zaporizhzhia yang relatif aman dari Mariupol pada Ahad lalu.

Baca juga
Putin Yakin Rudal Antarbenua Sarmat Bikin Nyali Negara Barat Ciut

Dalam sebuah pernyataan, lengan internasional Palang Merah itu mengatakan telah melakukan operasi empat hari, yang dimulai pada 5 Mei, “termasuk evakuasi 51 warga sipil dari Azovstal”. Sebelumnya pada Mei, sekitar 500 orang dievakuasi dari Azovstal dan daerah Mariupol ke Zaporizhzhia, kata ICRC.

Juga pada hari Ahad, dalam pidato memperingati Perang Dunia Kedua, Presiden Zelensky menuduh Rusia menerapkan “rekonstruksi berdarah Nazisme” dan mengatakan tentara Rusia meniru “kekejaman” di masa perang dunia II itu.

Rekaman dalam pidato video pemimpin Ukraina itu menunjukkan dia dengan latar belakang bangunan tempat tinggal yang hancur.

Pada saat yang sama, pemerintah Barat terus menunjukkan dukungan mereka untuk perjuangan Ukraina.

Pada Ahad lalu Presiden Ukraina mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin G7–termasuk Presiden AS Joe Biden dan Boris Johnson dari Inggris–melalui konferensi video. Setelah pertemuan itu, kedua pemimpin negara Barat itu menjanjikan dukungan berkelanjutan mereka ke Ukraina dan tekad mereka untuk menghentikan pasokan minyak Rusia. Pembayaran untuk energi Rusia berjumlah jutaan dolar setiap hari dan membantu mendanai upaya perang Rusia.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, juga bertemu langsung dengan Zelensky setelah melakukan kunjungan mendadak ke kota Irpin, dekat Kyiv, yang dirusak oleh pasukan Rusia di awal invasi. Pada konferensi pers sesudahnya, Trudeau mengumumkan bantuan militer lebih lanjut untuk Ukraina.

Baca juga
Inflasi Tembus 200 Persen, Bayang-bayang Kelabu Inflasi 1990-an Rundung Rusia

Utusan dari Bundestag Jerman bertemu Zelensky di Kyiv juga pada Ahad, sementara Ibu Negara AS, Jill Biden menyeberang ke Ukraina dari Slovakia untuk bertemu istri Zelensky, Olena Zelenska.

Sejak invasi Rusia dimulai pada 24 Februari, PBB telah mencatat setidaknya 2.345 kematian warga sipil dan 2.919 terluka di Ukraina, kata Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB dalam pembaruan data bulan lalu. Ribuan kombatan juga diyakini tewas atau terluka di kedua sisi.

Lebih dari 12 juta orang dikatakan telah meninggalkan rumah mereka sejak konflik dimulai, dengan 5,7 juta pergi ke negara-negara tetangga dan 6,5 juta orang lainnya diperkirakan mengungsi di dalam negara yang dilanda perang itu. [BBC]

Tinggalkan Komentar