Bos EVOS Esports Bicara 5G, Komunitas hingga Infrastruktur

Co-founder EVOS Esports sekaligus Waketum Asosiasi Video Game Indonesia Hartman Harris saat berkunjung ke kantor inilah.com.
Co-founder EVOS Esports sekaligus Waketum Asosiasi Video Game Indonesia Hartman Harris saat berkunjung ke kantor inilah.com.

Industri gim atau permainan digital tumbuh pesat terutama selama masa pandemi COVID-19.  Melihat tren tahun 2022 kedepan kehadiran jaringan 5G dinilai tak hanya berdampak terhadap industri smartphone, namun juga Industri gim dan e-sports diyakini akan semakin berkembang pasca pandemi.

Co-founder & Managing Director EVOS Esports Hartman Harris dalam sesi wawancara dengan Inilah.com baru ini mengungkapkan, bahwa jaringan 5G bakal mampu mengubah tren industri game secara signifikan.

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Asosiasi Video Games Indonesia (AVGI) mengklaim bahwa tren industri game akan berubah arah menuju layanan cloud gaming pada tahun depan.

“Pada 2022 saya lumayan excited genre game bakal berbeda seperti yang sudah ditandingkan yang sekarang khan MOBA,dll dengan adanya jaringan 5G dan hape yang lebih murah nantinya kemungkinan ada perubahan,” ungkapnya.

Baca juga  Imbangi Thailand 2-2, Indonesia Runner Up Piala AFF 2020

Di sisi lain ketika ditanya soal divisi game e-sports di EVOS, Hartman mengungkapkan sekarang setelah melakukan ekspansi ke beberapa game dan bahkan negara lain, saat ini EVOS memiliki tim League of Legends yang berbasis di Vietnam.

“Selain itu, EVOS juga memiliki tim untuk divisi DotA 2, Arena of Valor dan Mobile Legends yang berbasis di Indonesia,” tuturnya.

Diluar game, kini Hartman juga telah melirik industri basket Indonesia. Di IBL, Hartman ingin memberi wadah agar pemain muda bisa berkembang.

“Kami ingin memberi wadah kepada pemain basket muda di Indonesia. Bila semakin banyak tim IBL, maka talenta-talenta itu bisa terserap semuanya,” ujar Hartman.

Menggaet Komunitas

Indonesia memiliki 44,2 juta pemain gim esport. Jumlah ini diyakini akan mengalami pertumbuhan mencapai 37 persen dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Baca juga  Wall Street Tersungkur, Awan Mendung masih Selimuti IHSG

Persebarannya pun cukup merata dari Sabang sampai Merauke. Selain itu komunitas-komunitas yang dibentuk tersebut tidak hanya melakukan bermain game bareng saja, akan tetapi juga melakukan aksi-aksi sosial yang produktif untuk daerahnya masing-masing. Namun masih banyaknya komunitas yang belum tersentuh masih menjadi tantangan tersendiri.

Berangkat dari fakta ini Hartman bersama EVOS dan AVGI ingin terus merangkul banyak komunitas untuk lebih memajukan indsutri video game di Indonesia.

“Jadi kita fokus penetrasi kepada pengembangan komunitas serta mencarikan dan menyediakan wadah untuk menjadikan mereka (komunitas) tempat untuk berkreasi lalu membuat kompetisi untuk pengembangan konten serta berperan aktif untuk memajukan industri video game dan esports di Indonesia,” terangnya.

Baca juga  Bertemu Thailand, Pelatih Vietnam Tak Lagi Garang?

Fasilitas 

Menilik perkembangan e-sports di Indonesia, peluang dan prospeknya pun tak kalah cerahnya. Terlebih saat para pelakunya memiliki keinginan yang kuat untuk membangun inisiatif berorganisasi.

Bahkan EVOS Esports misalnya meluncurkan Integrated Training Facility (ITF) baru ini. Dengan fasilitas pelatihan terintegrasi itu diharapkan bisa mendorong pertumbuhan industri esports di Indonesia dan Asia Tenggara.

“Disini kan (nama tempatnya) EVOS ITF, klo dibaca ‘be positive’. Kami mencoba mencontohi hal-hal positif,” ujarnya

Hartman Harris berharap dengan inisiatif tersebut bisa menjadi semangat dan pendorong dalam perkembangan industri esports di Indonesia.

Fakta itu menjadikan bukti bahwa setidaknya di Indonesia telah berkembang infrastruktur pendukung e-sports yang ke depan diharapkan akan terus bermunculan.

Tinggalkan Komentar