Senin, 23 Mei 2022
22 Syawal 1443

Bos Studio Foto Bisnis SIM Palsu karena Modal Kecil Untung Gede

Bos Studio Foto Bisnis SIM Palsu karena Modal Kecil Untung Gede

Bos studio foto berinisial IA (28) menjalankan bisnis pemalsuan SIM di Kota Puruk Cahu, Kalimantan Tengah. Kasus pemalsuan surat izin mengemudi (SIM) itu terungkap setelah Satuan Reskrim Polres Murung Raya, membekuk bos studio foto itu.

“Pelaku melakukan aksinya berbekal dari pengalaman dan peralatan,” kata Kasat Reskrim AKP Deni Langie di Puruk Cahu, Jumat (4/2/2022).

Dalam beraksi pelaku mengedit SIM asli menggunakan aplikasi di laptop. Setelah selesai pelaku mencetak SIM yang sudah edit. Pelaku melakukan aksinya mulai 2021 sampai Januari 2022. Lokasi pembuatan di studio foto, sekaligus menjadi tempat tinggalnya yang beralamat di Jalan Akhmad Yani, Puruk Cahu.

Baca juga
Gempa Magnitudo 4.9 Guncang Jember

Awalnya petugas mendapatkan informasi dari masyarakat. Bahwa telah terjadi pemalsuan dokumen berupa SIM di kios studio foto milik terduga pelaku.

Kemudian kepolisian dari unit Reskrim melakukan penyelidikan dan penggerebekan. Hasil penggeledahan terdapat SIM palsu yang belum  pemohonnya ambil.

Dari hasil pemeriksaan penyidik pelaku memasang biaya penerbitan satu SIM dengan harga bervariasi, mulai dari Rp150.000-Rp500.000. Pelaku mengakui nekat melakukan aksi itu karena tergiur medapat banyak keuntungan.

Pelaku dapat melakukan itu karena pengalaman selama lima tahun bekerja di percetakan. Ia juga mahir menggunakan aplikasi editing.  Pelaku juga mengaku bahwa telah mencetak sebanyak delapan buah SIM palsu.

Baca juga
Pembayaran Insentif Nakes Hingga Rp7,4 Triliun

Pelaku juga mengaku melalukan itu atas dasar permintaan dari pelanggan yang datang ke studio foto miliknya. Lantaran meminta persyaratan melamar pekerjaan di perusahaan.

Untuk barang bukti yang telah Polisi amankan berupa satu handphone merek Vivo Seri Y12s warna hitam. Lalu ada juga Sim Card +62812-5540-4455, satu handphone merek Vivo warna silver dengan Sim Card +62822-4134-1719.

“Berdasarkan pelanggaran yang dilakukan pelaku, polisi menjeratnya dengan Pasal 263 KUHP tentang Pembuatan Surat Palsu dengan ancaman pidana enam tahun penjara,” tutup Deni.

Tinggalkan Komentar