Sabtu, 02 Juli 2022
03 Dzul Hijjah 1443

BPS Catat Neraca Perdagangan Oktober 2021 Surplus Ke-18

Senin, 15 Nov 2021 - 14:27 WIB
Margobps02 - inilah.com

Sepanjang Oktober 2021, nilai ekspor mencapai US$22,03 miliar, mengalahkan nilai impor US$16,29 miliar. Lagi-lagi, neraca perdagangan menorehkan surplus ke-18.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2021, mengalami surplus US$5,73 miliar. Dengan nilai ekspor US$22,03 miliar dan impor US$16,29 miliar. “Kalau kita lihat trennya, neraca perdagangan Indonesia telah membukukan surplus 18 bulan secara beruntun,” kata Kepala BPS, Margo Yuwono dalam konferensi pers virtual, Senin (15/11/2021).

Margo menyampaikan, komoditas penyumbang surplus terbesar adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja. Sedangkan, negara penyumbang surplus terbesar untuk Indonesia adalah Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Filipina.

Baca juga
Buka APBN untuk Biayai Proyek Kereta Api Cepat, Janji Jokowi tak Seindah Aslinya

Dengan AS, perdagangan RI mengalami surplus US$1,7 miliar dengan komoditas utama penyumbang surplus yaitu lemak dan minyak hewan nabati, diikuti pakaian dan aksesorinya atau rajutan.

Kemudian, perdagangan RI dengan Tiongkok juga mengalami surplus US$1,3 miliar dengan komoditas penyebab surplusnya adalah bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Sedangkan, perdagangan Indonesia dengan Filipina mengalami surplus US$685,7 juta dengan komoditas yang berkontribusi terhadap surplus adalah bahan bakar mineral serta kendaraan dan bagiannya.

Sebaliknya, perdagangan RI mengalami defisit dengan beberapa negara, di antaranya dengan Australia defisit US$595 juta yang disebabkan komoditas bahan bakar mineral, serta bijih logam perak dan abu.

Baca juga
China Buru Buah Jernang Asal Aceh

Kemudian perdagangan RI dengan Thailand juga mengalami defisit sebesar US$295,6 juta. Adapun komoditas utama penyumbang defisit adalah plastik dan barang dari plastik, kemudian mesin, peralatan mekanik dan bagiannya.

Defisit perdagangan juga dialami Indonesia dengan Ukraina sebesar US$216,4 juta, di mana komoditas terbesar penyumbang defisit adalah serelia, serta besi dan baja.

Margo menyampaikan, secara kumulatif, selama Januari-Oktober 2021, surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$30,81 miliar. “Dari grafik ini bisa dilihat dari 2016 sampai 2021, yang menggembirakan adalah surplus selalu mengalami peningkatan, dan 2021 ini cukup tinggi. Harapannya akan berdampak pada pemulihan ekonomi,” papar Margo.

Baca juga
Omicron Kembali Merebak di China, Asian Games Ditunda

 

Tinggalkan Komentar