BPS: Ekonomi Kuartal III Tumbuh Cuman 3,5 Persen, Sri Mulyani Meleset

BPS: Ekonomi Kuartal III Tumbuh Cuman 3,5 Persen, Sri Mulyani Meleset - inilah.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, perekonomian kuartal III-2021 tumbuh 3,51%. Jauh di bawah proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani sebesar 4,5%. Terjun bebas dibandingkan kuartal II-2021 sebesar 7,07% (year on year/yoy).

Kepada Inilah.com, Jumat (5/4/2021), ekonom Bank Permata, Josua Pardede pernah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 sebesar 3,48%. Hitung-hitungan Josua ternyata lebih mendekati angka BPS ketimbang proyeksi Sri Mulyani. “Akhirnya benar kan, kuartal III, pertumbuhan sulit bisa 4 persen, apalagi lebih,” ungkapnya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional periode Juli-September 2021, sangatlah sulit mencapai 4%. Karena, pada Juli hingga Agustus, terjadi lonjakan kasus varian Delta COVID-19 yang berdampak kepada melambatnya perekonomian. “Pada bulan-bulan itu, kasus varian Delta melonjak tajam. Berdampak kepada turunnya konsumsi. Itu juga ditunjukkan indeks keyakinan konsumen dari Bank Indonesia,” papar Josua.

Baca juga  Lampung jadi Juara Umum Gelar TTG Nasional ke-22

Namun demikian, lanjut Josua, perekonomian Indonesia kuartal III, tertolong melompatnya nilai ekspor sejunlah komoditas, seperti minyak sawit, batubara dan karet. “Ekspor kuartal III cukup tinggi. Khususnya Agustus, cetak rekor baru,” tuturnya.

Josua benar. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa ekspor pada kuartal III/2021 mencapai US$61,42 miliar atau sekitar Rp872,16 triliun (kurs Rp14.200 per dolar AS). Angka ekspor melesat 50,9 persen secara tahunan.

Khusus Agustus 2021, BPS mencatat ekspor naik 64,1 persen secara tahunan (yoy). Nilainya mencapai US$21,42 miliar. Menendang rekor ekspor Agustus 2011, yang mencapai US$18,60 miliar.

Lalu bagaimana dengan investasi? Menurut Josua, kuartal III-2021, belum banyak menyokong bertumbuhnya ekonomi. Kementerian Investasi mencatat realisasi investasi tumbuh 3,7%, atau setara Rp216,7 triliun (yoy).

Baca juga  Harga CPO Dikendalikan Asing, Minyak Goreng di Dalam Negeri Tidak akan Murah

Capaian ini turun 2,8 persen dibandingkan kuartal II-2021. “Bisa jadi investor masih wait and see di kuartal III, lantaran adanya varian Delta di Indonesia. Mereka terpaksa menunda investasinya,” ungkap Josua.

Tinggalkan Komentar