Selasa, 21 Maret 2023
29 Sya'aban 1444

BPS: Pertumbuhan Ekonomi 2022 Cetak Rekor Tinggi Setelah 2013

Senin, 06 Feb 2023 - 21:27 WIB
Kepala Bps Foto Humas Bps - inilah.com
Menurut Margo Yuwono, Kepala BPS di Jakarta, Senin (16/1/2023), besaran surplus Desember 2022 relatif lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya dan lebih tinggi dari posisi Desember 2021. (Foto: Humas BPS)

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyebut, realisasi pertumbuhan ekonomi 2022 yang mencapai 5,31 persen (year on year/yoy) adalah rekor tertinggi sejak 2013.

“Saat itu di tahun 2013, perekonomian Indonesia mampu tumbuh sebesar 5,56 persen (yoy),” ujar Margo dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/2/2023).

Selain itu, secara nominal pun perekonomian Indonesia sudah lebih tinggi dari sebelum pandemi COVID-19 yakni di tahun 2019, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp15,83 ribu triliun dan PDB atas dasar harga konstan (ADHK) Rp10,95 ribu triliun.

Sementara di tahun 2022, Margo menyebutkan PDB ADHB berhasil meningkat mencapai Rp19,59 ribu triliun dan PDB ADHK Rp11,71 ribu triliun, dengan PDB per kapita mencapai Rp71 juta atau 4.783,9 dolar AS.

Baca juga
Ganggu Hilirisasi Mineral dan Minyak Sawit, Uni Eropa Biang Kerok

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tertinggi pada tahun 2022 terjadi pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 19,87 persen (yoy), diikuti sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 11,97 persen (yoy), dan jasa lainnya sebesar 9,47 persen (yoy).

Adapun industri pengolahan yang memiliki peran dominan tumbuh 4,89 persen (yoy), sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor masing-masing tumbuh sebesar 2,25 persen (yoy) dan 5,52 persen (yoy).

Ia menjelaskan lapangan usaha transportasi dan pergudangan serta akomodasi dan makan minum berhasil tumbuh paling tinggi didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat serta peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara.

Baca juga
Mi Instan Dikonsumsi 20 Persen Rakyat Indonesia, DPR Usulkan Ada Subsidi

“Namun industri pengolahan yang mendominasi pertumbuhan ekonomi sebesar 1,01 persen masih tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.

Dari sisi pengeluaran, sambung dia, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa sebesar 16,28 persen (yoy), yang didorong oleh windfall alias penerimaan tak terduga dari komoditas unggulan.

Pertumbuhan tertinggi selanjutnya diraih oleh impor sebesar 14,75 persen (yoy), yang didorong kenaikan impor barang modal dan bahan baku. Kemudian, konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh 5,64 persen (yoy), konsumsi rumah tangga 4,93 persen (yoy), serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 3,87 persen (yoy).

Baca juga
Inilah Perkembangan Pasar Keuangan yang Perlu Dicermati Investor

Kendati demikian, konsumsi pemerintah tercatat mengalami kontraksi sebesar 4,51 persen (yoy). Secara keseluruhan, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 2,61 persen.

Tinggalkan Komentar