Senin, 28 November 2022
04 Jumadil Awwal 1444

Bukan Hanya Popularitas, Capres 2024 Harus Punya Visi Kepemimpinan Pancasila

Rabu, 16 Feb 2022 - 15:22 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Dimas Eko Nugroho - inilah.com
Menyongsong Pemilu 2024 sekaligus merespons situasi Indonesia pascapandemi, Perkumpulan Kader Bangsa menggelar diskusi situasi sosial ekonomi, politik dan kepemimpinan (Foto Dok.Pri)

Ketua Perkumpulan Kader Bangsa Dimas Oky Nugroho menilai Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 harus menghasilkan pemimpin yang memiliki kualitas yang handal dan pengalaman politik.

Dimas memaparkan akan pentingnya para pemimpin nasional mendatang khususnya menggunakan momentum Pilpres 2024 semakin memahami dan menjalankan visi dan model kepemimpinan Pancasila secara konsisten dan integratif.

Pertama, yakni pemimpin yang berbasis pada spiritualitas kebangsaan yang termanifestasikan dari sila pertama. Seorang pemimpin dengan nilai spiritualitas vertikal akan memberikan kekuatan besar untuk mewujudkan bangsa, negara dan masyarakat yang memiliki ‘virtue’ dan karakter yang kokoh.

“Dari semangat spiritual tersebut, masyarakat bangsa dan negara akan memiliki pegangan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan, dan krisis. Namun, spiritualitas ini harus mampu menghadirkan humanisme atau semangat kemanusiaan yang merupakan terjemahan sila kedua. Relasi ketuhanan menghadirkan semangat, aksi, empati, solidaritas, toleransi, dan kolaborasi. Yang gilirannya mewujud dalam sebuah harmoni kohesi sosial, sebuah manifestasi dari sila ketiga persatuan Indonesia,” terang Dimas dalam acara Ngobrol Bareng “Transformasi Indonesia dan Visi Kepemimpinan Nasional: Bunga Rampai Pemikiran Aceh sampai Papua” yang digelar secara hybrid pada Senin, (14/2/2022).

Baca juga
Soal Kasus Pemerkosaan Putri Candrawathi, Komnas HAM Lempar Batu Sembunyi Tangan

Ia melanjutkan untuk model ketiga dibutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan, merangkul seluruh golongan di Indonesia secara inklusif dari berbagai suku bangsa, budaya, agama, politik, kelas sosial, desa-kota, tua-muda. Kohesi, kolaborasi dan persatuan ini, membutuhkan mekanisme, organisasi dan demokrasi, sebuah permusyawaratan perwakilan.

“Namun demokrasi tanpa dibarengi dengan hikmat kebijaksanaan hanya akan mengantarkan negara dan bangsa pada situasi yang buruk, terjadi kesenjangan dan manipulasi terhadap rakyat,” tegas Dimas.

Untuk itu penting bagi kepemimpinan model sila keempat Pancasila ini untuk menghadirkan kualitas pendidikan dan SDM yang baik untuk masyarakat, serta demokrasi yang berkualitas dan berkelanjutan berdasarkan kesadaran kewargaan.

Baca juga
Dubes Najib Rela Jadi Tour Guide untuk Perkenalkan Peradaban Islam di Spanyol

“Sebuah demokrasi yang baik, penuh kesadaran dan kebijaksanaan akan membawa kita pada model kepemimpinan kelima, yakni keadikan sosial bagi seluruh rakyat,” ujarnya.

Whatsapp Image 2022 02 16 At 3.12.23 Pm (1) - inilah.com
Dimas Oky Nugroho (Foto Dok. Pri)

Dimas menambahkan seorang pemimpin harus mampu membawa bangsa dan negara bertransformasi menjadi adil dan sejahtera secara merata untuk seluruh rakyat Indonesia.

“Ini gongnya, di tengah era transformasi, digitalisasi dan demografi anak muda saat ini, Indonesia butuh kepemimpinan ke depan yang mampu menunjukkan kualitas dan konsistensi model kepemimpinan Pancasila demi terwujudnya negara yang guyub, aman, sejahtera dan demokratis,” tegas Mantan Stafsus Kantor Kepresidenan ini.

Dimas berkesimpulan bahwa tantangan mendatang harus disambut dengan semangat kolaborasi. Bergerak bersama tidak hanya meraup keuntungan pribadi semata, namun juga memberikan manfaat dan nilai tambah kepada lingkungan sekitar.

“Sosiopreneurship istilahnya, kita ingin melahirkan calon-calon pemimpin bangsa yang berkapasitas dan berintegritas serta memiliki kepedulian dan keberanian untuk menjadi pemimpin yang baik dan bermanfaat bagi komunitas maupun bagi warga secara luas,” pungkas doktor alumnus Universitas New South Wales Australia ini.

Baca juga
Foto: Kawal Pemilu 2024, PKB Luncurkan Lembaga Saksi Pemenangan Nasional

Melalui Perkumpulan Kader Bangsa dan Kolaborasi Positif, Dimas secara konsisten bertemu dan berdialog dengan anak-anak muda di berbagai daerah di Indonesia. Ia juga menggagas sekolah kepemimpinan dan kebangsaan anak muda, serta program pertukaran dan dialog pemimpin muda Indonesia dengan sejumlah pemimpin muda negara sahabat.

Tinggalkan Komentar