Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

Bukan Hanya Resesi Ekonomi, IEA Ramalkan Eropa Krisis Energi Tahun Depan

Kamis, 06 Okt 2022 - 20:36 WIB
Krisis energi membayangi Eropa, tahun depan.

Tahun depan, Benua Biru dirundung apes. Bukan saja terancam krisis ekonomi, Eropa diprediksi mengalami krisis energi. Setelah jor-joran saat musim dingin.

Berdasarkan laporan Kepala Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), dikutip Kamis (6/10/2022), Eropa kemungkinan besar mengalami krisis energi pada 2023.

Sejak Rusia menghentikan pasokan gas ke Eropa sebagai respons sanksi barat, negara-negara di Eropa telah mengisi tangki penyimpanan energi hingga 90 persen dari kapasitas.

Harga gas yang melonjak dalam beberapa bulan setelah invasi pada Februari, telah menurun. Namun, penurunan hanya berlangsung singkat, karena negara-negara bersaing memborong gas alam cair (LNG) serta alternatif lain untuk pengiriman pipa Rusia.

Pihak Uni Eropa, kini, sedang mempertimbangkan pembatasan harga gas, sebuah masalah yang telah memecah blok 27 negara itu karena beberapa negara khawatir hal itu dapat mempersulit mengamankan pasokan.

Baca juga
Ketatkan Anggaran, PM Anwar Ibrahim Potong Gaji Menteri 20 Persen

“Dengan penyimpanan gas hampir 90 persen, Eropa akan bertahan pada musim dingin mendatang dengan hanya beberapa memar selama tidak ada kejutan politik atau teknis,” kata Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA yang berbasis di Paris.

Tantangan berat tengah dihadapi Eropa yang secara historis mengandalkan Rusia untuk sekitar 40 persen dari pasokan gas alamnya, akan dimulai pada Februari atau Maret ketika penyimpanan perlu diisi ulang. Setelah permintaan musim dingin yang tinggi telah mengurasnya hingga 25-30 persen. “Musim dingin ini sulit tetapi musim dingin berikutnya mungkin juga sangat sulit,” kata Birol.

Pemerintah Eropa telah bergerak untuk melindungi konsumen dari dampak harga yang lebih tinggi dan pada Rabu (5/10/2022), Jerman mengatakan akan mensubsidi tagihan listrik tahun depan dengan membayar di bawah 13 miliar euro (12,8 miliar dolar AS) terhadap biaya penggunaan yang dibebankan oleh empat perusahaan jaringan transmisi tegangan tinggi (TSO).

Baca juga
Hantu Krisis 2023 

Biaya tersebut merupakan bagian dari tagihan listrik, terhitung sekitar 10 persen dari biaya keseluruhan untuk pelanggan ritel dan sepertiga untuk perusahaan industri di sektor seperti baja atau bahan kimia.

Intervensi Berlin menstabilkan biaya, yang jika tidak akan meningkat tiga kali lipat mengingat harga listrik grosir yang tidak terkendali dan meningkatnya biaya operasional untuk TSO, kata menteri ekonomi Jerman Robert Habeck.

Sampai perang Ukraina pecah pada akhir Februari, pipa Nord Stream 1 di bawah Laut Baltik dari Rusia ke Jerman adalah salah satu sumber utama gas Eropa barat.

Nord Stream 1 terdiri dari dua jalur terpisah seperti halnya Nord Stream 2, yang diisi dengan gas, tetapi tidak pernah diizinkan untuk mengirimkan pasokan ke Eropa karena Jerman menangguhkan otorisasi sebelum Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari.

Baca juga
Transisi ke Energi Bersih Genjot Investasi US$2 Miliar per Tahun hingga 2030

Tiga dari empat saluran telah dinonaktifkan oleh apa yang dikatakan Barat dan Rusia sebagai sabotase yang menyebabkan kebocoran besar dan pihak berwenang Denmark mengatakan saluran keempat sedang tertekan pada Selasa (4/10/2022).

 

Tinggalkan Komentar