Rabu, 17 Agustus 2022
19 Muharram 1444

Bullying Anak, Cek Tanda-tanda dan Tips Pencegahannya

Rabu, 27 Jul 2022 - 01:15 WIB
Bullying anak
(ilustrasi)

Kasus bullying atau perundungan pada anak masih saja terus terjadi. Tidak hanya penderitaan fisik, tapi juga mental yang bisa membuat korbannya meninggal dunia. Seperti yang terjadi pada seorang bocah SD di Tasikmalaya yang meninggal dunia setelah depresi gara-gara mengalami bullying.

Kasus perundungan terakhir ini memang membuat kita prihatin. Korban berinisial PH warga Singaparna, Tasikmalaya itu mengalami perundungan ekstrem oleh rekan sebayanya. Ia dipaksa mencabuli hewan kucing dan videonya beredar hingga menjadi viral. Akhirnya, bocah kelas 6 SD tersebut mengalami depresi hingga sakit keras dan meninggal dunia.

Kasus ini pun ini mendapat perhatian banyak pihak. Tak terkecuali Presiden Joko Widodo. Presiden berharap agar kasus perundungan (bullying) dan segala bentuk kekerasan terhadap anak-anak tidak akan terjadi lagi.

“Saya kira perundungan yang namanya penyiksaan fisik, yang namanya kekerasan secara verbal, kekerasan fisik saya kira semuanya jangan terjadi lagi. Dan ini sekali lagi tanggung jawab orang tua, tanggung jawab para pendidik, tanggung jawab sekolah, dan tanggung jawab masyarakat, kita semuanya,” ucap Kepala Negara pada peringatan Hari Anak Nasional yang digelar di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Sabtu (23/7/2022) lalu.

Lebih lanjut, Presiden Jokowi menegaskan bahwa semua kasus kekerasan, baik kekerasan fisik maupun seksual harus diproses secara hukum dengan tegas sesuai dengan peraturan yang ada sehingga kasus tersebut tidak akan terjadi lagi ke depannya.

Kasus perundungan dengan beragam bentuk dan cara masih sering terjadi. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, bullying menjadi masalah besar bagi dunia pendidikan Indonesia.

Bahkan berdasarkan hasil asesmen nasional ditemukan fakta bahwa bullying bisa menimpa sebagian besar pelajar. “Sebesar 24,4 persen dari peserta didik kita berpotensi mengalami insiden perundungan, ini angka yang sangat besar,” kata Nadiem, baru-baru ini.

Sebelum kasus di Tasikmalaya ini, publik sudah sering disuguhkan kasus-kasus perundungan yang bikin miris. Yang sempat heboh adalah yang menimpa lalu, seorang siswi SMPN 147 Jakarta berinisial SN pada 14 Januari 2020. Ia meninggal dunia setelah melompat dari lantai 4 gedung sekolahnya karena depresi setelah mengalami bullying dari teman-temannya.

Apa itu Bullying?

UNICEF menyebut, bullying adalah pola perilaku, bukan insiden yang terjadi sekali-kali. Anak-anak yang melakukan bullying biasanya berasal dari status sosial atau posisi kekuasaan yang lebih tinggi, seperti anak-anak yang lebih besar, lebih kuat, atau dianggap populer sehingga dapat menyalahgunakan posisinya.

Baca juga
Lima Tips Atasi Ngantuk saat Nyetir Mudik

Kita dapat mengidentifikasi bullying melalui tiga karakteristik. Yakni disengaja (untuk menyakiti), terjadi secara berulang-ulang, dan ada perbedaan kekuasaan.

Seorang pelaku bullying memang bermaksud menyebabkan rasa sakit pada korbannya, baik menyakiti fisik atau kata-kata atau perilaku yang menyakitkan, dan melakukannya berulang kali. Anak laki-laki lebih mungkin mengalami bullying fisik, sedangkan anak perempuan lebih mungkin mengalami bullying secara psikologis, walaupun jenis keduanya tentu cenderung saling berhubungan.

Anak-anak yang paling rentan menghadapi risiko lebih tinggi untuk di-bully seringkali adalah anak-anak yang berasal dari masyarakat yang terpinggirkan, anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah, anak-anak dengan penampilan atau ukuran tubuh yang berbeda, anak-anak penyandang disabilitas, atau anak-anak migran dan pengungsi.

Kasus bullying ini sangat mengkhawatirkan. Hal ini karena masalah sosial ini bisa memiliki dampak yang sangat fatal pada mental seseorang, terutama anak-anak, jika terus diabaikan.

Mungkin Anda tidak akan mengetahui tentang perudungan yang dialaminya karena kebanyakan korban cenderung menutupi rasa sakit yang mereka derita. Namun, luka yang mereka terima akan terus berbekas dalam waktu yang lama, dan bahkan bisa mempengaruhi masa depan mereka sebagai seorang individu. Atau dalam skenario terburuk, dapat merenggut nyawa mereka seperti yang terjadi pada pelajar SD di Tasikmalaya dan siswi SMPN 147 Jakarta itu.

Pencegahan

Bullying bisa terjadi pada anak-anak siapa saja. Dari mulai usia dini sekolah hingga di perguruan tinggi bahkan di tempat bekerja. Yang perlu mendapat banyak perhatian adalah perundungan yang terjadi pada anak-anak sekolah.

Pencegahan yang terpenting adalah dilakukan sejak dini. Ajari anak-anak tentang bullying. Ini penting agar mereka tahu apa itu bullying sehingga mereka dapat mengidentifikasinya dengan lebih mudah, apakah itu terjadi pada mereka atau teman-temanya.

Kembangkan gaya komunikasi dengan anak-anak sejak kecil dengan lebih terbuka. Bicaralah dengan anak tentang apa yang dianggap sebagai perilaku baik dan buruk di sekolah dan lingkungan sekitar. Ini menjadi bekal ketika anak Anda bisa lebih terbuka jika mengalami sesuatu peristiwa di sekolahnya. Karena ia biasa berbicara terbuka dengan orang tua, tentu tidak akan takut atau canggung berbicara tentang yang ia alami di sekolah.

Baca juga
Tips Agar Terhindari dari Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Covid-19

Anda bisa memulainya dengan memancing anak-anak bercerita apa saja yang dialaminya setiap hari di sekolah. Tanyakan pula perasaan mereka, perhatikan saat berbicara apakah ia terlihat gugup, ada yang disembunyikan atau cek tampilan fisik maupun psikis saat pulang sekolah.

Tanda-tanda Korban Bully

Ada beberapa tanda-tanda apa yang bisa Anda perhatikan. Amati keadaan emosinya, karena beberapa anak mungkin tidak mengungkapkan kekhawatiran mereka secara lisan. Tanda-tanda lain bisa berupa tanda fisik, seperti memar yang tidak dapat dijelaskan, goresan, nyeri atau luka dalam penyembuhan. Ada juga mengeluh sakit kepala, sakit perut atau penyakit fisik lainnya.

Perhatikan pula apakah anak takut pergi ke sekolah atau mengikuti acara sekolah. Biasanya juga diikuti dengan rasa cemas, gelisah, atau sangat waspada. Bisa juga lebih pendiam, ingin terus bersama orang tua, tidur tidak nyenyak atau mengalami mimpi buruk, kadang lebih agresif dan emosi yang mudah meledak. Cek pula pakaiannya, alat elektronik, atau barang-barang pribadi lainnya apakah hilang atau rusak.

Anak yang mengalami perundungan juga sering seringkali meminta uang untuk alasan yang mungkin kurang jelas atau mencurigakan, prestasi yang rendah, ketidakhadiran, bolos, atau menelepon dari sekolah untuk meminta pulang.

Beri keyakinan bahwa Anda memberikan dukungan untuk anak, jika mendapat perilaku bullying. Pastikan si anak tahu bahwa ia dapat berbicara dengan Anda kapan saja dan meyakinkannya bahwa semuanya akan menjadi lebih baik.

Lalu bagaimana jika ternyata anak Anda menjadi pelaku bullying kepada teman-teman lainnya? Penting untuk diingat bahwa mereka pada dasarnya tidak jahat, tetapi mungkin bertindak karena sejumlah alasan. Anak-anak yang sering melakukan bullying hanya ingin menyesuaikan diri, membutuhkan perhatian atau hanya mencari tahu bagaimana menghadapi emosi yang rumit. Dalam beberapa kasus, pelaku bullying sendiri adalah korban atau saksi kekerasan di rumah atau di lingkungan mereka.

Yang harus Anda lakukan pertama kali adalah instrospeksi pada diri sendiri. Tak jarang, anak-anak yang melakukan bullying seringkali meniru apa yang mereka lihat di rumah. Apakah mereka terpapar perilaku berbahaya secara fisik atau emosional dari Anda atau pengasuh lain? Lihatlah pada diri sendiri sebagai orang tua dan pikirkan dengan jujur tentang bagaimana Anda memperlakukan anak Anda.

Baca juga
5 Tips Perencanaan Keuangan bagi Pasangan Muda

Berkomunikasilah apa yang mendasari tindakannya. Cobalah gambarkan jika anak Anda berada di posisi korban yang di-bully. Ingatkan bahwa perbuatannya akan menyakitkan bagi orang lain. Lakukan pembatasan aktivitasnya secara tegas misalnya berkumpul dengan teman-teman genknya. Ajarkan ia meminta maaf dan mengakui perbuatannya.

Bullying Anak Dewasa

Bagaimana jika bullying terjadi pada pelajar yang sudah lebih besar seperti siswa SMP atau SMA? Selain peran orang tua dan guru, siswa yang lebih dewasa harus punya keberanian untuk melawan dan melindungi diri sendiri.

Bullying terjadi karena ada orang-orang atau kelompok yang toxic atau negatif di sekitarnya. Jauhi lingkungan negatif. Biasanya lingkungan pertemanan seperti ini bersifat selalu merendahkan atau menghina secara fisik maupun verbal. Lebih baik carilah teman baru yang positif dan kompak.

Persahabatan bisa menjadi pelindung terhadap perundungan. Carilah lebih banyak teman karena bisa lebih mudah mendapat pertolongan jika mendapat perlakuan bullying.

Untuk menghindari perundungan, tunjukkan bahwa anak memiliki kepribadian yang tegas, percaya diri dan berjalan dengan tegak tidak menunduk. Ini menjadi bahasa tubuh sebagai orang yang berani dan tidak takut. Gunakan gaya bicara yang tegas dan lebih keras untuk menunjukkan ketegasan dan tidak lemah.

Belajar ilmu bela diri bisa menjadi pilihan karena baik untuk pria juga wanita. Tak hanya memiliki keterampilan untuk membela diri tetapi akan mampu mengendalikan diri dan lebih percaya diri. Dalam bela diri juga diajarkan teknik-teknik untuk menghindari serangan hingga melumpuhkan lawan sebagai cara terakhir.

Terakhir adalah peduli dengan kondisi sekitar. Lihatlah lingkungan di sekitar apakah ada yang aneh dalam persahabatan teman-teman. Segera laporkan saja. Jangan pernah takut meminta pertolongan pada siapapun, di manapun berada. Sehingga tak ada lagi korban bullying.

Tinggalkan Komentar