Minggu, 14 Agustus 2022
16 Muharram 1444

Bursa Saham RI Tertekan Sentimen Negatif Pasar China karena ‘Lockdown’ Lokal

Rabu, 29 Des 2021 - 12:04 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Whatsapp Image 2021 12 29 At 12.08.20 - inilah.com
Tamplilan platform trading Indopremier Sekuritas. Foto: Inilah.com/Munjin

Bursa saham domestik tak bisa lepas dari sentimen negatif bursa saham China karena pemerintah negeri Tirai Bambu itu melakukan kebijakan lockdown lokal secara berulang. Padahal, sentimen positif sempat berhembus dari bursa saham AS.

Pada sesi pertama perdagangan Rabu (29/12/2021), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 7,718 poin (0,12%) ke posisi 6.590,625. Posisi tertingginya di angka 6.621,579 atau menguat 23,236 poin dan terendahnya di angka 6.585,396 atau melemah 12,947 poin dari posisi pembukaan di angka positif 6.603,756.

Pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, pelemahan IHSG dipicu oleh tekanan negatif dari bursa saham China, Hang Seng. “Mereka tertekena sentimen negatif karena kebijakan pemerintah China yang ketat terhadap korona. Lockdown lokal berulang diterapkan di negara itu,” katanya kepada INILAH.COM, Rabu (29/12/2021).

Baca juga
Lima Rekomendasi Saham di Tengah Status Bullish IHSG

Dia menegaskan, dari ratusan bursa global, yang perlu dipantau oleh para pelaku pasar di bursa saham hanya dua, yakni bursa saham AS dan China. “Masing-masing memiliki pengaruh US sebesar 40% dan China 60%,” ungkap dia.

Menurut Sem, korelasi antara pasar saham domestik dengan China lebih tinggi karena negeri Tirai Bambu tersebut merupakan satu kawasan Asia dengan Indonesia. “Selain itu, China merupakan konsumen utama komoditas, sementara kita merupakan produsen utama komoditas,” papar dia.

Namun demikian, Sem mengungkapkan, risiko pasar China kini semakin terbatas setelah mereka melarang kripto dan ‘meluruskan’ sektor properti dan tehnologi

Baca juga
Inilah Saham-saham Pilihan Jumat, 20 Mei 2022

“Yang perlu kita pantau lebih ketat saat ini adalah bursa saham AS. Kebijakan pemerintah AS terlalu longgar. Karena itu, enggak perlu heran. Sekitar 95% big crash global bersumber dari AS,” imbuhnya.

Sebanyak 217 saham menguat, 353 saham melemah, 184 saham stagnan, dan 132 saham tidak ditransaksikan.

Nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp4,33 triliun dan Rp502,5 miliar di pasar negosiasi. Total transaksi mencapai Rp4,86 triliun. Sementara itu, investor asing mencatatkan pembelian saham bersih senilai Rp581,5 miliar dan penjualan saham senilai Rp718,3 miliar. Alhasil, asing mencatatkan penjualan saham saham bersih (net foreign sell) sebesar Rp136,8 miliar.

Tinggalkan Komentar