Senin, 27 Juni 2022
27 Dzul Qa'dah 1443

Cacar Monyet jangan Sampai Masuk Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 - 17:21 WIB
cacar monyet Monkeypox - inilah.com
ilustrasi

Kementerian Kesehatan (Kemkes) mengungkapkan cacar monyet yang disebabkan oleh virus Human Monkeypox (MPVX) belum terdeteksi di Indonesia.

Juru Bicara Kemkes Mohammad Syahril memastikan pemerintah terus memantau kasus secara global dan meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk Indonesia.

“Indonesia belum ada laporan kasus cacar monyet ini, artinya seluruh fasilitas kesehatan, puskesmas, rumah sakit dan dinas kesehatan belum ada laporannya itu,” kata Syahril dalam konfrensi pers, Selasa (24/5/2022).

Penyakit cacar monyet ini telah menjadi endemi di 12 negara di antaranya yakni Benin, Sudan Selatan, Ghana, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo dan Sierra Leone.

Baca juga
Chris Martin Ungkap Coldplay Akan Berhenti Bermusik pada 2025

Syahril menjelaskan virus ini biasanya tidak mudah menyebar namun dapat ditularkan melalui kontak dekat atau kontak dengan barang-barang yang digunakan oleh orang yang menderita cacar monyet, seperti pakaian, tempat tidur, atau peralatan makan.

Kemenkes telah menyiapkan Surat Edaran (SE) untuk meningkatkan kewaspadaan baik di wilayah dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

Kemkes juga akan melakukan revisi pedoman pencegahan dan pengendalian cacar monyet dengan menyesuaikan situasi dan perkembangan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang berisi tatalaksana klinis, komunikasi risiko dan pengelolaan laboratorium.

“Dan juga menyiapkan kapasitas laboratorium pemeriksaan dan rujukan,” ujarnya.

Cacar monyet paling banyak menular melalui kontak erat dan sentuhan langsung, baik dengan manusia yang sedang sakit cacar monyet, atau dengan hewan monyet yang terpapar virus tersebut.

Baca juga
Sudah 129 Orang Meninggal Akibat Wabah Meningitis di Kongo

“Penularan pertama bisa darah air liur maupun cairan tubuh. Yang kedua lesi di kulit, kan cacar ini seperti ada cairannya, maka itu kalau pecah bisa memberikan penularan. Kemudian juga ada dugaan droplet di pernapasan,” tutur Syahril.

Masa inkubasi penyakit ini biasanya 6-16 hari namun dapat mencapai 21 hari. Selama 1-3 hari gejala awal, seseorang yang terpapar akan merasakan sejumlah gejala. Seperti demam tinggi, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening atau limfadenopati. Kemudian nyeri punggung dan nyeri otot serta lemas.

“Ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar