Selasa, 07 Februari 2023
16 Rajab 1444

Capres Perempuan Punya Popularitas Tanpa Taji

Minggu, 20 Nov 2022 - 14:50 WIB
467ec33c Fca3 48d8 B422 4d6fb97b6ba6 - inilah.com
(Ilustrasi: Inilah.com)

Ragam survei yang kerap tersaji belakangan ini mengungkap fakta masyarakat juga menghendaki capres perempuan. Tanpa bermaksud menyinggung isu gender, mengingat sejarah Indonesia pernah dipimpin seorang perempuan, namun untuk mengulangi situasi tersebut bukan perkara mudah.

Voxpol Center merilis hasil survei pada Jumat (18/11/2022) mengungkapkan dua nama pemimpin perempuan yang cukup populer yakni Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Ketua DPR Puan Maharani. Khofifah memiliki tingkat popularitas mencapai 53,4 persen dengan tingkat kesukaan 40,4 persen sedangkan Puan memiliki popularitas 65,2 persen dengan kesukaan 28,2 persen. Apabila pemilu digelar hari ini, keduanya kandas.

Baca juga
Puji Koalisi Indonesia Bersatu, PKB Butuh Waktu untuk Bergabung

“Di Indonesia, ketokohan perempuan untuk capres belum ada yang teruji kecuali Ibu Megawati,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, kepada Inilah.com, di Jakarta, Minggu (20/11/2022), membeberkan mengapa perempuan belum mampu mendongkrak suara.

Hasil survei Voxpol Center menyebutkan, Anies Baswedan merupakan capres yang paling disukai publik mengalahkan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto. Apabila pilpres digelar hari ini, Anies bakal unggul karena memiliki tingkat kesukaan publik mencapai 34,5 persen berdasarkan suara dari 1.200 responden yang tersebar di 34 provinsi yang disurvei selama 22 Oktober – 7 November 2022.

Menurut Pangi, figur atau politisi perempuan meski memiliki popularitas namun belum memiliki taji untuk bertarung pada pilpres, kendati tak sedikit perempuan menjabat gubernur, wali kota atau bupati. “Kepemimpinan perempuan termasuk elektabilitas nggak ada yang punya nilai jual lebih. Positioning mereka baru selevel menteri, bukan capres maupun cawapres,” ujar Pangi.

Baca juga
Koalisi Parpol Mulai Terbentuk, akan Dinamis Saat Penentuan Capres-Cawapres

Pangi menilai, hal itu terjadi tak lepas dari kedudukan perempuan yang paling tinggi menjabat menteri kendati kader parpol. Nama menteri seperti Sri Mulyani, Retno Marsudi maupun Siti Nurbaya bahkan tidak tembus bursa capres kalah dari Khofifah dan Puan.

Disuka atau tidak, masyarakat juga masih tergiring bahwa kepemimpinan laki-laki lebih kuat dibanding perempuan. “Namun, bagi sebagian pemilih Indonesia, tetap trust building mereka lebih kuat ke laki-laki ketimbang perempuan,” tandas Pangi.

 

Tinggalkan Komentar