Minggu, 25 September 2022
29 Safar 1444

Cara Keluarkan Beban Batin Agar Tak Menjurus Gila Seperti Ibu Gorok Anak

Senin, 21 Mar 2022 - 18:31 WIB
Ibu Gorok Anak
unsplash

Kanti Utami, seorang ibu muda di Desa Tonjong, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah tega gorok anaknya sendiri. Hal itu dia akui karena ingin menyelamatkan anak-anaknya dari kehidupan yang susah dan miskin. Dia menganggap anak-anaknya harus mati agar tidak merasakan kesedihan seperti sang ibunda.

Melihat kasus tersebut, Dr. Seto Mulyadi, S.Psi, M.Si atau biasa dikenal dengan sebutan Kak Seto menjelaskan bahwa melindungi setiap anak memang tanggungjawab orang dewasa. Namun, hal tersebut sangat tidak baik untuk dilakukan.

“Intinya gini, melindungi anak perlu orang sekampung prinsip itu selalu termuat dalam undang undang perlindungan anak. Semua orang harus peduli dengan keselamatan anak, pada perlindungan anak,” papar Kak Seto sebagai psikolog anak dan keluarga kepada Inilah.com di Jakarta, Senin, (21/3/2022).

Masih menurut Kak Seto, berkaca dari kasus tersebut, tentu masalah yang menumpuk di kepala sang ibu tidak sedikit. Ketika membiarkan masalah berlarut maka sangat mungkin seseorang akan meledak seperti bom waktu.

Baca juga
Kenali Gejala Fisik, Mental, dan Emosional pada Pria Alami Depresi

Lantas, bagaimana caranya agar tidak mengalami hal serupa seperti ibu yang gorok anak kandungnya itu? Berikut adalah beberapa caranya:

1. Adakan pertemuan teratur antar warga di lingkup RT (Rukun Tetangga)

Seto menjelaskan, jika seseorang tinggal jauh dari saudara kandung dan kerabatnya, hal yang bisa dilakukan dengan cepat adalah untuk meminta bantuan kepada tetangga terdekat.

Ketua RT di lingkungan tempat tinggal bisa menginisiasi kegiatan ini agar satu sama lain bisa saling menjadi pendengar dan tempat berkeluh kesah.

“Pertemuan itu bisa mengurangi beban psikologisnya jadi bukan beban ekonomi saja, beban psikologis yang sering tidak terdeteksi. Saling curhat. Jadi tekanan itu harus sering dikeluarkan, tapi kalau disimpan terus, secara psikologis ibarat gunung berapi itu tertutup kemudian magma yang membara itu meledak,” kata Seto.

Baca juga
Fenomena Bunuh Diri, Mengapa Terus Terjadi?

Dia juga menjelaskan, jika emosi yang terus terpendam dan tidak ada pelampiasannya, akan membahayakan orang sekitarnya.

“Bisa bunuh diri atau membahayakan membunuh orang-orang di sekitarnya. Termasuk anak kesayangannya, mungkin istrinya, suaminya, dan sebagainya,” tambahnya.

2. Adakan rapat keluarga

Bila keadaan anggota rumah tangga sehat, bisa menggelar rapat keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.

Anak-anak yang sudah beranjak masuk SD (Sekolah Dasar) bisa mulai terlibat dalam pembicaraan keluarga agar komunikasi antar anggota keluarga dapat berjalan dengan lancar.

“Tapi kalau tidak, ya dibantu dengan warga kiri dan kanan di bawah koordinasi RT gitu. Yuk kita bicara, apa masalahnya ibu, apa kendalanya. Jadi sampai meledak. Jangankan ibu itu, saya pun dalam kondisi seperti itu bisa melakukan hal yang serupa. Karena itu manusiawi, sesuatu yang terus ditekan tekan enggak ada tempat ledagan, akan menimbulkan suatu hal yang berbahaya,” ungkapnya.

Baca juga
Dampak Negatif dari Digitalisasi Terhadap Kesehatan Mental

3. Biasanya seminggu sekali ngobrol dari hati ke hati dengan suami atau istri

Dalam sebuah hubungan rumah tangga, Seto juga menekankan perlunya komunikasi yang intens antar keluarga dari hati ke hati. Jika melihat kasus ibu yang menggorok anaknya tersebut, komunikasi antar suami dan istri harus terus terjalin dari hati ke hati.

“Misalnya seminggu sekali atau seminggu dua kali. Itu sudah lumayan ya. Karena ada orang yang tertekan oleh suaminya, istrinya, anak-anaknya,” tambahnya.

Tinggalkan Komentar