Carilah Berita yang Memberi Solusi

Carilah Berita yang Memberi Solusi - inilah.com

Di era milenial ini semua orang bersaing untuk menjadi yang terdepan dalam mengabarkan peristiwa di sekitarnya. Hanya bermodal fitur kamera di ponsel pintar, informasi bisa langsung dimunculkan di media sosial yang bisa dibaca atau disaksikan semua pengguna internet.
 
Dengan begitu, tentu masyarakat terbantu untuk mendapatkan informasi secara cepat. Bahkan tak jarang media massa cetak maupun elektronik yang merangkum informasi tersebut menjadi sebuah berita tanpa cek dan ricek terlebih dulu.
 
Jika berita yang disampaikan itu benar, tentu sangat membantu dalam penyampaian informasi kepada khalayak. Namun jika informasi yang disampaikan adalah tidak benar atau bohong dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, tentu hanya menjadi keresahan di masyarakat.
 
Berita yang tak bisa dipertanggungjawabkan itulah yang mengakibatkan munculnya berita-berita hoaks di sejumlah media. Karena hanya mengandalkan kecepatan dan sensasi.

Baca juga  Kementerian PUPR Percepat Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Banjir Bandang NTT

Padahal sejatinya media massa harus memiliki tanggungjawab atas pemberitaan yang disampaikan. Sehingga tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
 
Jika informasi yang disampaikan hanya untuk sekadar sensasi tentu tidak memunculkan solusi di masyarakat. Malah justru bisa memecah belah publik karena perang opini mempertahankan pendapatnya terkait informasi yang beredar.

Seperti halnya istilah ‘cebong’ dan ‘kampret’ saat Pilpres 2019 lalu.

Fenomena cebong-kampret muncul ketika dua pendukung calon presiden berseteru memperjuangkan jagoannya. Cebong adalah julukan untuk kubu Joko Widodo (Jokowi), sedangkan kampret sebutan untuk kubu pesaingnya ketika itu, Prabowo Subianto.

Perseturuan itu dipanaskan lagi dengan munculnya buzzer-buzzer politik yang ikut meramaikan jagad maya.

Baca juga  Wujudkan Merdeka Belajar, CIMB Niaga Finance Gelar Vaksinasi Pelajar

Buzzer merupakan sebutan untuk kelompok yang tidak jelas identitasnya dan memiliki motif ideologis atau ekonomi untuk menyebarkan informasi membela junjungannya.

Umumnya mereka (para buzzer) menggunakan akun palsu untuk mem-bully atau menyudutkan lawan politiknya agar tidak diketahui identitasnya. “Kan tidak ada konsekuensi hukum. Ketika dianggap melanggar, tinggal tutup saja akunnya,” kata Enda Nasution, Pengamat Media Sosial.

Kemunculan buzzer inilah yang justru membuat kebingungan di masyarakat mengenai informasi yang beredar di jagad maya. Karena kehadiran buzzer tak hanya ramai saat pilpres tapi juga di beberapa kasus lain seperti kebijakan pemerintah maupun hal lainnya.

Terlebih lagi saat pandemi Covid-19 ini, seluruh masyarakat membutuhkan informasi yang menyegarkan, bukan menyesatkan. Karena itu kehadiran media massa sangat dibutuhkan, khususnya media yang bertanggungjawab dan berimbang, sekaligus memunculkan solusi.

Baca juga  Bea Cukai Gresik Sita Minuman Keras Ilegal

Di sinilah inilah.com berperan membawa suasana lebih baik di masyarakat tepat di Bulan Kemerdekaan. Di awal Agustus 2021, Inilah.com terlahir kembali dengan penampilan barunya mengusung Jurnalisme Solusi.

Jurnalisme Solusi? Ya Jurnalisme Solusi adalah upaya media mengupas permasalahan yang terjadi di masyarakat sekaligus menjawab permasalahan itu secara utuh. Caranya, yaitu dengan mengonfirmasi ke pihak terkait atas masalah yang ada tersebut.

Sehingga masyarakat mendapat jawaban dari informasi yang didapat. Hal ini tentu tidak menimbulkan kebingungan lagi ketika publik mendapat informasi..

Konsep Jurnalisme Solusi di inilah.com diharapkan bisa membawa pencerahan di tengah masyarakat. Sesuai dengan tagline inilah.com, titik tengah titik cerah’.

Tinggalkan Komentar