Senin, 30 Januari 2023
08 Rajab 1444

Cekcok Xi Jinping dengan Justin Trudeau Cermin Runyamnya Relasi China-Kanada

Jumat, 18 Nov 2022 - 05:04 WIB
Xi Trudeau China Kanada
(ist)

Terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial, Presiden China Xi Jinping memarahi Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau di sela-sela KTT G20. Pertengkaran tidak biasa yang menjadi tontonan publik ini mencerminkan runyamnya hubungan kedua negara selama ini.

Dalam video itu terungkap Xi marah karena sejumlah isi pembicaraannya dalam pertemuan tertutup dengan Trudeau di sela KTT G20, di Bali, Selasa (15/11/2022) lalu dibocorkan oleh sumber pemerintahan Kanada ke media. Xi dan Trudeau memang bertemu di sela KTT G20, tapi tak diumumkan secara resmi.

Terlihat pada video satu menit itu, Xi memberi tahu Trudeau melalui seorang penerjemah: “Semua yang kami diskusikan telah bocor ke surat kabar. Itu tidak pantas.” Berbicara datar dan sedikit tersenyum, Xi berkata: “Dan itu bukan cara (diskusi kita) dilakukan, bukan?”

Masih dalam video, terlihat Xi memberi tahu Trudeau: “Jika ada ketulusan, kita dapat melakukan percakapan berdasarkan sikap saling menghormati. Jika tidak, hasilnya tidak dapat diprediksi.” Xi kemudian muncul untuk mencoba berjalan melewati pemimpin Kanada itu.

“Di Kanada, kami percaya pada dialog yang bebas, terbuka dan jujur, dan itulah yang akan terus kami lakukan. Kami akan terus bekerja sama secara konstruktif, tetapi akan ada hal-hal yang tidak kami setujui,” timpal Trudeau, mengutip AFP.

Sambil mengangkat tangannya, Xi memotongnya dan berkata terus terang: “Buat kondisinya. Ciptakan kondisinya.” Dia kemudian mengembangkan senyumnya, hampir tidak menatap Trudeau saat dia menjabat tangannya dan meninggalkannya untuk keluar dari ruangan.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan pertemuan kedua pemimpin itu sebelumnya? Reuters melaporkan bahwa sumber membeberkan dalam pertemuan tersebut, Trudeau menyampaikan kekhawatiran serius atas dugaan campur tangan China di Kanada. Campur tangan itu diduga merujuk pada laporan media yang mengungkap pengakuan intelijen Kanada. Intelijen itu mencurigai China mencampuri urusan pemilu 2019 di Kanada.

Baca juga
Delegasi G20 Dukung 4 Agenda Prioritas Indonesia di Bidang Pendidikan

Sementara itu mengutip CNN, China membantah Xi Jinping memarahi Justin Trudeau. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan Beijing mendukung pertukaran yang jujur selama pembicaraan berlangsung atas dasar kesetaraan. Ia juga mengatakan China bakal mengambil tindakan untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan Kanada.

“Video yang Anda sebutkan itu memang percakapan singkat yang dilakukan kedua pemimpin selama KTT G20. Ini sangat normal. Saya kira itu tak boleh diartikan bahwa pemimpin Xi mengkritik atau menuduh siapa pun,” kata Mao, seperti dikutip Reuters, Kamis (17/11/2022).

Sebelumnya, Trudeau juga buka suara soal video itu. Ia mengatakan pemerintah Kanada tak pernah merilis secara resmi hasil pertemuannya dengan Xi. Meski demikian, Trudeau mengonfirmasi pertemuan itu memang terjadi. Trudeau juga mengakui tak semua perbincangan dengan kepala negara lain akan berjalan dengan mudah.

Ia menyinggung bahwa sistem di China dan Kanada memang berbeda. “Tak selalu ada keterbukaan yang sama, seperti yang bisa dan harus dimiliki oleh seorang pemimpin demokratis,” katanya.

Sikap menekan

Sikap Xi Jinping dalam video ini memang unik. Profesor ilmu politik di National University of Singapore mengatakan, sangat jarang bagi para pemimpin China menunjukkan ketidaksenangan mereka dengan cara langsung.

Pernyataan Xi menunjukkan dia merasa “dapat menekan Trudeau dengan sedikit dampak, jika ada,” kata Chong kepada AFP. Ia menambahkan bahwa tingkat kepercayaan yang tinggi pemimpin China itu mungkin menunjukkan dia tidak menganggap serius Trudeau atau Kanada sebagai lawan bicara. Bahasa tubuh Xi ketika bertemu Presiden AS Joe Biden beberapa hari sebelumnya jauh berbeda dengan menunjukkan sikapnya yang lebih ramah.

Nada suara pemimpin China itu mirip dengan ‘kekuatan besar berbicara dengan kekuatan yang kurang besar’, kata Van Jackson, dosen senior hubungan internasional di Victoria University of Wellington, Selandia Baru. “Bahasa dan postur tubuh Xi sama sekali tidak biasa bagi pejabat pemerintah yang kurang bersahabat, secara pribadi,” kata Jackson kepada AFP.

Ketegangan antara China dan AS menempatkan Kanada dalam posisi yang ‘sangat canggung’, kata Jackson. “Kedekatan Ottawa dalam jaringan Anglo-Saxon, demokrasi berbagi intelijen memastikan hal itu akan semakin menarik kemarahan China seiring berjalannya waktu.”

Baca juga
Indonesia Hadapi China di Perempat Final Piala Thomas 2022

Konflik lama

Pertemuan Xi pada Selasa dengan Trudeau adalah dialog tatap muka pertama antara kedua pemimpin sejak 2019. Hubungan antara kedua negara membeku ketika otoritas Kanada menangkap eksekutif Huawei Meng Wanzhou pada 2018 karena diduga melanggar sanksi AS terhadap Iran.

Beijing kemudian menahan dua warga negara Kanada di China, Michael Spavor dan Michael Kovrig, dalam apa yang oleh para kritikus disebut sebagai tanggapan tit-for-tat. Meng dan kedua warga Kanada itu dibebaskan tahun lalu setelah negosiasi yang panjang.

Setelah itu, relasi keduanya semakin buruk karena berbagai masalah, termasuk terkait berbagai isu perdagangan. Bahkan ketika pandemi melanda, Trudeau sempat menyatakan bahwa ada sejumlah pertanyaan yang harus dijawab China terkait awal mula COVID bisa merebak, seperti diberitakan Global News.

Kala Rusia mulai menginvasi Ukraina, Kanada juga meminta Negeri Tirai Bambu itu menegaskan sikapnya terhadap negara pimpinan Presiden Vladimir Putin itu. South China Morning Post bahkan melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Kanada, Melanie Joly, menyampaikan langsung kekhawatiran itu saat bertemu dengan Menlu China, Wang Yi.

Di tengah peningkatan ketegangan ini, baik Trudeau maupun anggota senior kabinetnya sering melempar kritik ke China secara terbuka. Baru-baru ini, Joly juga menyebut China sebagai kekuatan global yang semakin mengganggu.

The New York Times pernah menulis, Joly memperingatkan perusahaan-perusahaan Kanada tentang potensi risiko jika melakukan bisnis di China. Pernyataan Joly ini senada dengan Trudeau di tahun 2021.

Kepada Global News, Trudeau mengatakan pemerintah komunis China menggunakan kekuatan ekonominya untuk dengan sangat cerdik mempermainkan negara-negara demokrasi.

Baca juga
Pecalang Bangga Ikut Jaga Keamanan KTT G20 di Bali

Trudeau menuding Beijing sengaja membuat Kanada bersaing dengan sejumlah negara seperti Australia dan lainnya untuk memecah belah mereka. “Kami telah bersaing dan China dari waktu ke waktu dengan sangat cerdik mempermainkan kami satu sama lain di pasar terbuka dengan cara yang kompetitif,” tuturnya.

“Kita perlu melakukan taktik yang lebih baik untuk bekerja sama dan berdiri kuat sehingga China tidak bisa lagi memainkan sudut pandang dan memecah belah kita satu sama lain.”

Pekan lalu, Polisi Federal Kanada mengatakan mereka sedang menyelidiki apa yang disebut kantor polisi yang didirikan secara ilegal oleh Beijing di negara Amerika Utara itu.

Trudeau juga mengatakan pekan lalu bahwa China memainkan ‘permainan agresif’ setelah penyiar Kanada Global News melaporkan ‘jaringan rahasia’ kandidat pemilihan federal yang didanai oleh Beijing.

Buntut dari kerenggangan ini, Trudeau dan Xi tak bertemu secara formal di sela KTT G20 Bali. Padahal, Xi dan sejumlah pemimpin negara lainnya terang-terangan menggelar pertemuan resmi. Bahkan saat bertemu dengan Presiden AS Joe Biden, Xi berbicara hingga tiga jam untuk membicarakan banyak hal.

Xi dan Trudeau hanya melakukan pembicaraan tertutup. Kanada maupun China tak merilis pernyataan resmi mengenai pembicaraan kedua pemimpn negara itu di sela KTT G20. Yang jelas episode lanjutan dari video Xi dan Trudeau bakal berlanjut dan konflik kedua negara masih belum akan selesai.

Tinggalkan Komentar