Rabu, 17 Agustus 2022
19 Muharram 1444

Cerita Bawang Merah Deli Serdang Bikin Emak-emak Menangis

Selasa, 28 Jun 2022 - 12:49 WIB
Cerita Bawang Merah Deli Serdang Bikin Emak-emak Menangis
Bawang merah. (Sumut24)

Indonesia yang dikenal punya lahan pertanian luas nan subur, ternyata tak ramah kepada rakyatnya. Harga bahan pangan lokal lebih mahal ketimbang impor.

Ambil contoh bawang merah. Kejadiannya di Deli Serdang, Sumatera Utara. Harga bawang merah lokal berada di kisaran Rp58 ribu-Rp60 ribu per kilogram (kg).

Sedangkan bawang merah impor dari India yang ukurannya lebih gede, dibanderol separonya. Atau paling mahal Rp30 ribu per kg. “Harga bawang lokal semakin mahal atau paling murah Rp58.000 per kg.Jadi terpaksa beralih ke bawang impor yang hanya Rp20.000 – Rp30.000 per kg,” ujar Lina, warga Tirta Deli, Deli Serdang, dikutip dari Antara, Selasa (28/6/2022).

Baca juga
Tiga Saham Jadi Pilihan di Tengah Volatilitas IHSG Sesi Kedua

Kalau diamati lebih dalam, Bawang Merah lokal memang lebih digemari para emak-emak. Meski lebih kecil, bawang merah lokal lebih kuat dari segi rasa dan aromanya.

Namun, masalahnya ya itu tadi. Harganya mahal. Lantaran anggaran terbatas, para emak terpaksa membeli bawang Indiia. Belum lagi mereka harus beli bahan pangan lain yang harganya naik semua. “Apa boleh buat, belanja diirit, karena semua mahal. Cabai merah aja udah Rp130 ribu per kg,” ujar Lina.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut, Barita Sihite menerangkan, saat ini, ada tren kenaikan harga bawang merah.

Baca juga
BI Akui Risiko Stagflasi Ancam Stabilitas dan Ekonomi

“Harga bawang merah di pasar sebesar Rp58ribuan. Ada kenaikan terus dari harga biasanya yang berkisar Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kg,” katanya.

Kenaikan harga, katanya dipicu kenaikan permintaan. “Yang pasti, stok cukup aman untuk kebutuhan yang rata-rata 4.598 ton per bulan,” katanya.

Hingga saat ini, Sumut masih mengandalkan pasokan bawang dari Pulau Jawa dan sebagian impor dari luar. Karena produksi lokal belum mampu mencukupi kebutuhan daerah itu.

Mahalnya harga bahan pangan bisa disebabkan produksi pangan tersendat lantaran hujan. Atau belum efisiennya sistem logistik di Indonesia. Padahal, sejak periode awal, Presiden Jokowi bercita-cita memurahkan biaya logistik.

Tinggalkan Komentar