Jumat, 19 Agustus 2022
21 Muharram 1444

China Batalkan Kerja Sama dengan AS, Urungkan Pertemuan Bersama Menlu Jepang

Jumat, 05 Agu 2022 - 23:59 WIB
China AS
Seorang pendukung pro-China menginjak foto Ketua DPR AS Nancy Pelosi saat memprotes kunjungannya ke Taiwan di luar Konsulat Jenderal AS di Hong Kong, Rabu (3/8/2022). (foto: EPA)

China mengumumkan delapan tindakan balasan terhadap AS sebagai respons atas kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan baru-baru ini.

Akibat pengabaian terhadap protes keras China terkait dengan kunjungan Pelosi ke Taiwan, maka Kementerian Luar Negeri China mengumumkan beberapa tindakan balasan.

Dari delapan tindakan balasan tersebut, tiga di antaranya pembatalan kerja sama militer China-AS yang meliputi Dialog Tingkat Komando Armada (TCT), Dialog Koordinasi Kebijakan Pertahanan (DPCT), dan Forum Pertemuan Kesepakatan Konsultatif Militer Laut (MMCA).

Sementara lima sisanya berupa penangguhan kerja sama China-AS dalam hal repatriasi pendatang haram, kerja sama perbantuan hukum terkait masalah kriminal, kerja sama memerangi kejahatan transnasional, kerja sama penanggulangan narkotika, dan dialog perubahan iklim, demikian pengumuman Kemenlu China di Beijing, Jumat (5/8/2022).

Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga batal melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu Jepang Hayashi Yoshimasa di sela-sela pertemuan antarmenlu ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, yang dijadwalkan pada Kamis (4/8/2022).

Baca juga
Xi Jinping Teken Panduan Operasi Militer, Segera Serbu Taiwan?

Pembatalan pertemuan bilateral tersebut sebagai buntut dari pernyataan bersama anggota Kelompok Tujuh Negara (G7) dan Uni Eropa yang memojokkan China terkait permasalahan Taiwan.

“China tidak jadi menggelar pertemuan antarmenlu dengan Jepang di Phnom Penh. Jepang bertanggung jawab historis terhadap permasalahan Taiwan sehingga tidak seharusnya membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab,” kata juru bicara Kemenlu China, Hua Chunying.

Menurut dia, secara historis Taiwan berada di bawah kekuasaan kolonial Jepang selama 50 tahun sehingga menyebabkan kesengsaraan bagi warga Taiwan.

Dalam pernyataan bersamanya, G7 merasa prihatin atas tindakan ancaman China di Selat Taiwan sehingga meningkatkan ketegangan di Selat.

Baca juga
KPK China Tahan Menteri Industri dan Teknologi Informasi

G7 mendesak China tidak mengubah status quo secara sepihak dengan tindakan kekerasan di Selat Taiwan dan menyelesaikan perbedaan dengan cara damai.

Tinggalkan Komentar