Senin, 05 Desember 2022
11 Jumadil Awwal 1444

Ciuman Kudus Jadi Modus Utama Pendeta di Bogor Lecehkan Sejumlah Jemaat

Selasa, 06 Sep 2022 - 19:38 WIB
ilustrasi (Shutterstock)

Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Tiberias Bogor, Jawa Barat berinisial YB terhadap sejumlah jemaat perempuan hingga kini masih belum tuntas.

Berdasarkan keterangan korban berinisial RV yang disampaikan oleh rekannya bernama Yoshua melalui akun Twitter @JoLibertyFilio, pelaku YB kerap melancarkan aksi bejatnya dengan kedok pemberkatan kudus. Semua jemaat perempuan GPdI dipaksa untuk mengikuti ritual tersebut.

Proses pengkudusan itu dilakukan pelaku terhadap korban perempuan satu per satu ketika siswa laki-laki sedang melakukan bersih-bersih dan merapihkan alat musik setelah digunakan. Adapun ritual yang dilakukan adalah ciuman kudus antara pelaku dengan korban di salah satu ruangan yang telah disiapkan.

Baca juga
Berkukuh Putri Candrawathi Dilecehkan di Magelang, Pengacara Putar Video

“Sahabat-sahabat gw ini ditakut-takutin, ‘Kalo ga ngelakuin pengkudusan ini kalian ga akan diberkati, ga akan dapet jodoh dll’, akhirnya mulailah mereka satu persatu memberanikan diri ngelakuin ini dengan dasar ibadah,” tulis Yoshua.

Modus ini dilakukan terhadap jemaat perempuan setelah melewati masa remaja dengan cara dikuduskan, dengan alasan mendapat bisikan dari Tuhan.

Meski tidak semua jemaat perempuan menjadi korban, namun Yoshua memastikan korban pelecehan yang dilakukan YB cukup banyak. Karena apa yang diminta ke korban selalu mengatasnamakan Tuhan.

“Emang sih ga semuanya ngalamin ini, tapi cukup banyak yang kena, dan parahnya lagi karena mengatas namakan Tuhan (YB selalu bilang Tuhan bicara sama saya untuk melakukan ini),” kata Yoshua.

Baca juga
Calon Pendeta di NTT Setubuhi 14 Wanita di Gereja dan Direkam

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, aksi ini terjadi sejak 2009 silam dan baru mencuat pada 2019 lalu. Bahkan pelaku telah dilaporkan ke pihak kepolisian atas dugaan pencabulan, namun kasusnya masih belum tuntas.

Pihak gereja pun mengaku telah memberhentikan pelaku sebagai pendeta sejak 9 Desember 2021 karena dianggap melanggar dan tidak menjalankan aturan gereja.

Tinggalkan Komentar