Selasa, 12 Mei 2026 | 24 Dzulqa'dah 1447
inilah.commarketsektor riilCNG 3 Kg Disiapkan Jadi ‘Lawan’ LPG, Bahlil Target Uji Coba 3 Bulan

CNG 3 Kg Disiapkan Jadi ‘Lawan’ LPG, Bahlil Target Uji Coba 3 Bulan

Vonita Medium.jpeg
Selasa, 5 Mei 2026 - 20:55 WIB
Share
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: Inilah.com/Vonita).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: Inilah.com/Vonita).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung
KecilBesar

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pihaknya terus mencari alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Salah satunya dengan menggunakan Compressed Natural Gas (CNG).

Bahlil menjelaskan kebutuhan LPG di Indonesia masih ditopang oleh impor sebesar 75 persen hingga 80 persen. Di mana 7 sampai 8 juta tonnya dipakai untuk kebutuhan rumah tangga.

"Atas itu, maka kita merumuskan untuk mencari alternatif lain. CNG adalah salah satu alternatifnya. Nah CNG ini kan sudah dipakai oleh hotel, restoran, MBG, sudah ada, tapi pada klasifikasi yang 20 kilogram ke atas, ada yang 10-10 kilogram ke atas," kata Bahlil kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

Bahlil menjelaskan saat ini pihaknya sedang menguji coba untuk menghadirkan CNG dengan ukuran yang lebih kecil atau 3 Kilogram. Nantinya, uji coba tersebut bisa diselesaikan dalam waktu 2 hingga 3 bulan.

"2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya kemudian kalau itu sudah dinyatakan firm, kita akan melakukan konversi. Sebab apa? CNG ini bahan bakunya ada semua di kita. C1, C2 gas," ujarnya.

Sebelumnya, Bahlil Lahadalia mengungkapkan, devisa yang dikeluarkan untuk impor LPG mencapai Rp137 triliun per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp80–87 triliun merupakan beban subsidi pemerintah.

Menurut Bahlil, kebutuhan LPG dalam negeri mencapai 8,6 juta ton per tahun. Sementara produksi domestik hanya berada di kisaran 1,6–1,7 juta ton, meski kapasitas terpasang mencapai 1,9 juta ton.

“Kebutuhan LPG kita 8,6 juta ton per tahun. Produksi kita, meski kapasitas terpasang 1,9 juta ton, realisasinya hanya sekitar 1,6–1,7 juta ton. Jadi kita masih impor sekitar 7 juta ton per tahun,” kata Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).

Bahlil kemudian menjelaskan akar persoalan mengapa Indonesia masih bergantung pada impor LPG, meskipun memiliki cadangan gas melimpah.

Ia menuturkan, gas bumi Indonesia umumnya mengandung C1 (metana) dan C2 (etana), yang bahkan sebagian diekspor. Sementara LPG membutuhkan komponen C3 (propana) dan C4 (butana), yang kandungannya relatif kecil di dalam negeri.

“Gas kita tidak pernah impor, bahkan sekitar 30 persen dari total lifting masih diekspor. Lalu kenapa LPG impor? Karena LPG berbasis C3 dan C4, sementara gas kita didominasi C1 dan C2. Kandungan C3 dan C4 sangat kecil,” jelas Ketua Umum Partai Golkar itu.

0 suka
0 bookmark
Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com