Selasa, 24 Mei 2022
23 Syawal 1443

CORE Indonesia: BI Telat Naikkan Suku Bunga Acuan

CORE Indonesia: BI Telat Naikkan Suku Bunga Acuan - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Seiring peluang melambungnya inflasi, Bank Indonesia (BI) bakal telat menaikkan suku bunga acuan jika melakukannya pada Mei 2022. Kebijakan bank sentral menjadi behind the curve alias telat karena kenaikan suku bunga terjadi setelah inflasi tinggi.

“April ini, seharusnya BI sudah menaikkan suku bunga acuannya, karena bulan depan (Mei 2022) sudah masuk kategori telat,” kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam dalam webinar ‘Quarterly Review 2022: Menghadang Inflasi Menuju Kondisi Pra-Pandemi’ di Jakarta, Selasa (19/4/2022).

Sebab, kata dia, untuk skenario terburuk, rata-rata inflasi 2022 bisa mencapai 6 persen. “Ini akan berdampak negatif kepada tingkat konsumsi masyarakat karena turunnya daya beli dan menggerus pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Baca juga
Inilah Saham-saham Pilihan Rabu, 13 April 2022

Untuk mengurangi risiko tersebut, lanjut Piter, BI dengan fungsi moneternya harus bisa mencegah agar inflasi tidak mencapai level tersebut. “Inflasi bisa berada di atas 4-5%, tapi jangan sampai 6%,” timpal dia.

Dengan kondisi inflasi tersebut, bank sentral bukan hanya harus memperketat kebijakan motenternya tapi juga harus menaikkan suku bunga acuan agar tidak terjadi apa yang disebut behind the curve. “Ini artinya, kebijakan BI menjadi telat karena inflasi sudah naik duluan,” tuturnya.

Skenario Inflasi Terburuk di Level 6 Persen

Terkait proyeksi inflasi 2022, CORE Indonesia membuat beberapa skenario. Pertama, skenario inflasi tanpa adanya kebijakan terkait kenaikan harga-harga. Angkanya berada di atas 2,5%.

Baca juga
IMF Dinilai ‘Kepagian’ Semprot BI soal Borong Surat Utang Negara Rp831 Triliun

Kedua, skenario penerapan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai alias PPN menjadi 11% dan kenaikan harga Pertamax pada April 2022. Angka inflasinya akan berada di atas 3,5%.

Ketiga, skenario kedua tersebut ditambah dengan kenaikan harga Pertalite dengan asumsi kenaikan menjadi Rp9000 per liter. Angka inflasinya akan berada di atas 5%.

Skenario keempat, skenario ketiga ditambah kenaikan harga gas LPG 3 kilogram dengan asumsi kenaikan dari Rp17.000 menjadi Rp20.000. Proyeksi angka inflasinya berada di atas 5,5%. “Skenario terburuknya, inflasi mencapai 6%,” imbuh Piter.

Pada Selasa (19/4/2022), Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di angka 3,5%. Keputusan ini BI umumkan usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi April 2022.

Baca juga
Kementerian PUPR Terus Percantik Jalan Lintas Tengah Sumatera

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16-17 Maret 2022 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Alhasil, suku bunga acuan sebesar 3,5% ini sudah bertahan selama 14 bulan. Suku bunga ini merupakan angka terendah dalam sejarah di Indonesia.

Tinggalkan Komentar