Jumat, 07 Oktober 2022
11 Rabi'ul Awwal 1444

Data Ekspor Tunjukkan Kenaikan Harga Pangan dan Energi Untungkan Indonesia

Minggu, 31 Jul 2022 - 13:31 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Kenaikan Harga Pangan dan Energi Untungkan Indonesia - inilah.com
(Foto: iStockphoto.com)

Secara historis, harga pangan dan energi yang tinggi mendorong ekspor yang cepat di negara-negara yang kaya komoditas Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun, ekonomi China yang melambat menimbulkan risiko bagi pertumbuhan kawasan.

Mengutip Nikkei Asia, Minggu (31/7/2022) ekspor Malaysia naik 39% secara tahunan di bulan Juni 2022 ke rekor bulanan 146,1 miliar ringgit Malaysia. Angka ini setara US$32,7 miliar, menurut angka pemerintah Malaysia terbaru.

Ekspor energi sangat kuat, dengan nilai gas alam cair 150% lebih tinggi dari tahun sebelumnya dan minyak mentah naik 80%. Minyak sawit dan produk pertanian berbasis minyak sawit, kategori terbesar ketiga, naik 52%.

Invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga untuk masing-masing produk ini, memicu harga tertinggi sepanjang masa.

Begitu juga dengan ekspor Indonesia yang melonjak 41% pada Juni 2022 menjadi US$26 miliar. Indonesia sebagai pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, telah melonggarkan larangan ekspor komoditas yang diberlakukan sejak April.

Industri pertambangan Indonesia dua kali lipat ekspor bulan lalu, menunjukkan bahwa minyak sawit dan energi mendorong peningkatan, sebagaimana halnya dengan Malaysia.

Baca juga
Harga Cabai Merah Tembus Rp125 Ribu Setara Sekilo Daging Sapi

Thailand, eksportir utama produk pertanian, melaporkan Rabu (27/7/2022) bahwa ekspor keseluruhan naik 12% di bulan Juni. Produk pertanian naik 25% bulan itu, didorong oleh permintaan global yang meningkat untuk mengamankan pasokan makanan.

Di Singapura, ekspor makanan jadi atau olahan naik 48% di bulan Juni.

Sebaliknya, Jepang yang miskin sumber daya melaporkan rekor defisit perdagangan untuk paruh pertama tahun ini. Negara Asia Timur itu mengimpor LNG dan batu bara dari Indonesia dan Malaysia.

Keuntungan ekspor makanan dan bahan bakar terutama menguntungkan 10 anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil. Perdagangan regional juga diuntungkan, karena ekspor Malaysia pada Juni naik 72% ke Singapura dan 76% ke Indonesia.

Terlepas dari kekhawatiran bahwa inflasi dan pengetatan moneter oleh bank sentral akan memicu resesi global, anggota ASEAN dipandang memiliki risiko penurunan ekonomi yang lebih rendah.

Dana Moneter Internasional memproyeksikan Selasa (26/7/2022), lima ekonomi utama ASEAN akan tumbuh secara kolektif sebesar 5,3% tahun ini, tidak berubah dari perkiraan April. Tetapi IMF menurunkan prospek pertumbuhan global menjadi 3,2%.

Baca juga
Inilah Saham-saham Pilihan Selasa, 31 Mei 2022

Perkiraan pertumbuhan dipotong untuk AS, China dan ekonomi besar lainnya, menggarisbawahi ketahanan rekan-rekan Asia Tenggara.

Bank Pembangunan Asia pekan lalu meningkatkan prospek pertumbuhan 2022 untuk Asia Tenggara menjadi 5% dari perkiraan April 4,9%.

Pakta perdagangan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional, yang mencakup anggota ASEAN serta Jepang dan China, mulai berlaku pada Januari. Lebih banyak perusahaan di Asia Tenggara diharapkan untuk mengambil keuntungan dari aturan perdagangan yang diliberalisasi. Impor tumbuh tajam di Malaysia dan Indonesia.

Satu kekhawatiran yang tersisa adalah China, yang ekonominya hanya tumbuh 0,4% pada tahun ini di kuartal II-2022. Banyak negara Asia Tenggara menganggap China sebagai pasar ekspor terbesar mereka, dan ekonomi yang berkinerja buruk di sana dapat berdampak pada seluruh kawasan.

Pada bulan Juni, Malaysia dan Singapura melihat ekspor ke China naik hanya 4%, menandakan perlambatan.

“Kami memperkirakan pertumbuhan ekspor domestik non-minyak [Singapura] akan turun ke pertumbuhan satu digit rendah pada paruh kedua tahun ini,” tulis Chua Hak Bin dan Lee Ju Ye dari Maybank Research. “Prospek perdagangan global diredam oleh perlambatan China, perang Rusia-Ukraina, dan pengetatan moneter global.”

Baca juga
Malaysia Pertimbangkan Produk Alternatif untuk Potong Generasi Perokok

Permintaan China yang lebih lemah dapat membuat harga energi dan pangan internasional merosot, bersama dengan ekspor cepat Asia Tenggara.

Bank Sentral AS, The Federal Reserve dengan tajam menaikkan suku bunga acuannya lagi selama pertemuan kebijakan hari Rabu (27/7/2022). Mata uang Asia Tenggara telah terdepresiasi terhadap dolar, dan kenaikan suku bunga Amerika yang besar dan kuat lainnya berisiko menekan nilai mata uang lebih jauh.

Mata uang yang lebih lemah biasanya meningkatkan ekspor suatu negara. Tetapi potensi pelarian modal dari Asia Tenggara juga ada, yang akan merugikan ekonomi dan perdagangan.

Tinggalkan Komentar