Sabtu, 28 Mei 2022
27 Syawal 1443

Data WHO, 233.600 Limbah Medis COVID-19 Ancam Kesehatan

Limbah Medis Covid
Dokumentasi jabarprov.go.id

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan data tentang limbah medis dari pandemi COVID-19. Hal tersebut dapat menjadi ancaman keehatan bagi manusia dan lingkungan. Limbah medis COVID-19 tersebut berupa bekas jarum suntik, alat uji, botol vaksin, hingga Alat Pelindung Diri (APD).

Barang-barang bekas yang sebagian dapat menularkan virus corona itu berpotensi menimbulkan luka bakar, luka tertusuk jarum suntik, dan kuman penyakit terhadap para petugas kesehatan, hal tersebut menurut laporan WHO yang dirilis pada Selasa, (01/02/2022).

WHO juga memperingatkan masyarakat yang dekat dengan tempat pembuangan sampah yang dikelola dengan buruk juga dapat terpengaruh melalui udara yang terkontaminasi dari pembakaran sampah, kualitas air yang buruk, atau hama pembawa penyakit.

Baca juga
Keras! Putin Ancam Negara Barat Jika Ikut Campur

Laporan tersebut menyerukan reformasi dan investasi termasuk melalui pengurangan penggunaan kemasan yang menyebabkan tumpukan plastik dan bahan yang dapat didaur ulang.

Diperkirakan sekitar 87.000 ton alat pelindung diri (APD), atau setara dengan berat beberapa ratus paus biru, telah dipesan melalui portal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hingga November 2021. Sebagian besar APD diperkirakan berakhir sebagai limbah medis COVID-19.

Laporan itu juga menyebutkan sekitar 140 juta alat uji berpotensi menghasilkan 2.600 ton sebagian besar sampah plastik dan limbah kimia yang cukup untuk mengisi sepertiga kolam renang Olimpiade.

Selain itu, diperkirakan bahwa sekitar 8 miliar dosis vaksin yang disalurkan secara global telah menghasilkan tambahan 144.000 ton limbah dalam bentuk botol kaca, jarum suntik, jarum, dan kotak pengaman.

Baca juga
Pandemi COVID-19, OctaFX dan ACT Kolaborasi Berikan Bantuan Kemanusian

Laporan WHO tidak menyebutkan contoh spesifik di mana penumpukan limbah paling mengerikan terjadi, tetapi merujuk pada tantangan seperti pengolahan dan pembuangan limbah resmi yang terbatas di pedesaan India serta sejumlah besar lumpur tinja dari fasilitas karantina di Madagaskar.

Bahkan sebelum pandemi, sekitar sepertiga fasilitas kesehatan tidak dilengkapi untuk menangani beban limbah yang ada, kata WHO.

Tinggalkan Komentar