Sabtu, 02 Juli 2022
03 Dzul Hijjah 1443

David Jacobs, Dari Cacian Menjadi Tepuk Tangan

Jumat, 03 Sep 2021 - 05:50 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
David Jacobs, Dari Cacian Menjadi Tepuk Tangan - inilah.com

Dian David Michael Jacobs atau biasa dipanggil dengan David Jacobs sudah berusia 44 tahun, dari angka umurnya mungkin sudah terbilang tua ditambah memiliki keterbatasan fisik, petenis meja Paralimpiade Indonesia menunjukkan tetap bisa menggapai kasta tertinggi dunia. Kemantapan disertai fokus David sebagai atlet dalam kurun kurang lebih 20 tahun adalah buah dari kedisiplinan menjaga pola hidup, latihan, tidak mudah putus asa, menghindari rasa sombong, dan selalu bersyukur.

Ia menjadi atlet senior dari total 12 atlet yang
berpartisipasi pada tenis meja kategori TT10 atau kelas dengan gangguan
disabilitas rendah Paralimpiade Tokyo 2020 dengan petenis meja Nigeria Alabi Olufemi (48), atlet Perancis Gilles de la Bourdonnaye (48), dan atlet Spanyol Jose Manuel Ruiz Reyes (43). Sisanya, atlet berusia jauh lebih muda, yakni usia 20-30-an tahun.

Namun, usia dan keterbatasan fisik bukan penghalang bagi David untuk berprestasi. Pada Paralimpiade Tokyo, David yang terlahir dengan gangguan fungsional pada tangan kanan yang sedikit tertekuk ke atas ini mampu mendulang perunggu bersama wakil Montenegro, Filip Radovic, yang masih berusia 21 tahun.

David yang menjadi unggulan kedua takluk 2-3 (9-11, 8-11, 11-3, 11-5, 8-11) dari wakil Perancis, Mateo Boheas, yang berusia 24 tahun sekaligus unggulan keempat di babak semifinal di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Jepang, Sabtu (28/8/2021). Meski demikian, keberhasilannya mencapai semifinal sudah cukup bagi David untuk bernostalgia dengan perunggu yang pernah diraihnya di Paralimpiade London 2012.

Baca juga
Marak Investasi Bodong, Steven Richard Buktikan Jadi Trader Sukses

”Capaian dan target saya sebenarnya melakukan yang terbaik saja dalam Paralimpiade 2020. Dengan usia yang tak muda lagi, saya cuma berusaha melakukan yang terbaik dalam latihan ataupun tanding. Jadi, perunggu ini amat saya syukuri,” tutur David dikutip dari tayangan akun youtube kemenpora RI.

Prestasi David membuat perolehan medali Indonesia bertambah menjadi satu perak dan dua perunggu serta berada di peringkat ke-47 dunia per Minggu (29/8) pukul 15.00. Sebelumnya, lifter angkat berat putri 41 kg Ni Nengah Widiasih menyumbang perak pada 26 Agustus dan pelari 100 meter T37 Sapto Yogo Purnomo membawa pulang perunggu pada 27 Agustus. David bersama Komet Akbar berpeluang menambah sumbangan medali dari tenis meja tim C9-C10 mulai Selasa (31/8).

Peran keluarga dalam membangun karakter

Baca juga
David Jacobs Persembahkan Medali Perunggu untuk Indonesia

David berkisah, dengan kekurangan fisik, dirinya sempat tidak percaya diri karena sering menjadi bahan bercandaan hingga hinaan di pergaulan umum. Di awal belajar tenis meja, banyak yang memandangnya sebelah mata. Akan tetapi, dirinya amat bersyukur punya keluarga, dari kedua orangtua, istri, sampai anak-anak yang setia mendampingi, memberikan motivasi, dan mendoakan.

”Dengan keterbatasan fisik, pasti banyak yang meremehkan, bahkan menertawakan saya. Untuk membuktikan kepada mereka, itu tidak cukup dengan omongan, tetapi dengan buktinya nyata berupa prestasi. Saya berharap ini bisa diikuti oleh generasi muda disabilitas. Jangan malu dengan kondisi. Kekurangan bukan penghalang untuk berprestasi. Kepada semua orangtua yang memiliki anak difabel, jangan malu karena berprestasi itu terbuka untuk semua golongan,” ucap David dalam wawancara dengan Official Net news.

David selalu bersemangat dan sikap rendah hati patut terus dijaga. Sejak dahulu, dia menyadari bahwa untuk mencapai prestasi itu mesti sabar menjalani proses yang panjang karena tidak ada yang instan dalam berprestasi. Untuk itu, jangan mudah terpuruk saat menuai kekalahan dan cepat berpuas diri atau sombong ketika menang atau juara.

Baca juga
Kisah Sukses Erwin Laisuman yang Bisa Dicontoh Anak Muda

Seusai merebut perunggu pada Paralimpiade London 2012, David tersingkir di 16 besar dalam Paralimpiade Rio de Janeiro 2016. Namun, dia tidak putus asa. Dirinya menjaga motivasi dan terus berusaha mengulangi prestasi itu sehingga tercapai pada Paralimpiade Tokyo 2020.

Sekarang, David tetap memupuk semangat untuk mendapatkan emas di Paralimpiade. Jika belum berhasil di tahun ini, dia berkomitmen mengejarnya di Paralimpiade Paris 2024. Dia merasa masih bisa bersaing dalam perburuan medali untuk tiga tahun ke depan.

Dari David kita belajar untuk bisa berjuang merubah segala hinaan menjadi pujian. Saatnya merubah cacian menjadi tepuk tangan. Karena dengan Kerja keras memberikan dampak positif bagi seseorang dan akan selalu mendapatkan energi positif dan termotivasi karena fokus pada tujuan akhir.

Tinggalkan Komentar