Delapan Gempa Merusak di Selat Sunda Sejak Tahun 1851

Gempa Selat Sunda - inilah.com
Gempa Selat Sunda - dok. BMKG

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, ada delapan gempa yang merusak di sekitar Selat Sunda/Banten. Gempa destruktif itu telah terjadi sejak tahun 1851 hingga Agustus 2019.

Dwikorita merinci pada Mei 1851 gempa kuat terjadi di sekitar Teluk Betung dan Selat Sunda. Gempa itu menyebabkan gelombang tsunami setinggi 1,5 meter, namun tidak ada laporan berapa kekuatannya.
Kemudian pada 9 Januari 1852, gempa yang juga tidak diketahui kekuatannya menyebabkan tsunami kecil.

Pada 27 Agustus 1883 terjadi tsunami di atas 30 meter akibat letusan Gunung Krakatau. Lalu pada 23 Februari 1903 terjadi gempa magnitudo 7,9 yang berpusat di selatan Selat Sunda dan menyebabkan kerusakan di Banten.

Baca juga  Ini Alasan Tak Boleh Nyalakan Lampu Hazard Saat Hujan

Pada 26 Maret 1928 terjadi tsunami kecil yang teramati di Selat Sunda pasca gempa kuat. Namun tidak diketahui berapa kekuatan getarannya.

Kemudian 22 April 1958 terjadi gempa kuat di Selat Sunda dengan kenaikan permukaan air laut/tsunami.

Selanjutnya tanggal 22 Desember 2018 terjadi longsoran akibat letusan Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami. Terakhir pada 2 Agustus 2019 terjadi gempa magnitudo 7,4 yang merusak di Banten dan terjadi tsunami.

Mengingat wilayah sekitar Banten/Selat Sunda kerap terjadi gempa dengan kekuatan merusak, Dwikorita meminta agar bangunan di sekitar wilayah tersebut dibangun dengan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi guna menghindari dari risiko kerusakan.

Baca juga  Foto: Ibadah Misa Malam Natal 2021 di Gereja Katedral Jakarta

“Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi,” kata Dwikorita dalam konferensi pers, Jumat (14/1/2022).

Gempa M 6,6 Jumat 14 Januari 2022

Sementara itu, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno mengatakan bahwa Indonesia merupakan wilayah pertemuan lempeng sehingga rawan terjadi gempa.

Menurut dia, sudah semestinya masyarakat membangun hunian yang tahan gempa. Di samping itu, setelah gempa 6,6 M pada Jumat, masyarakat diminta untuk mengecek kondisi bangunannya dan jika menemukan kerusakan dan berpotensi rusak, untuk mengungsi untuk sementara.

“Gempa bumi ini tidak membunuh tapi yang membunuh itu dampaknya dari bangunan yang kurang kuat dan sebagainya, ini sangat membahayakan jadi tolong diperhatikan dengan baik-baik,” katanya.

Tinggalkan Komentar