Selasa, 29 November 2022
05 Jumadil Awwal 1444

Derbi Jatim Berujung Petaka, Kapolda Nico Afinta Tak Perlu Dipertahankan

Kamis, 06 Okt 2022 - 13:39 WIB
72b3beed C18a 44b2 B0de C9c99c28db01 - inilah.com
Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta meminta maaf atas kejadian di Stadion Kanjuruhan. (Foto: Humas Polri)

Derbi Jawa Timur (Jatim) yang mempertemukan Arema FC Vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jatim, pada Sabtu (1/10/2022) lalu berujung petaka. Hingga kini data resmi menyebutkan sebanyak 131 orang tewas, 440 luka sedang dan 29 luka berat imbas tembakan gas air mata aparat ke arah tribun penonton. Kontan Kanjuruhan menjadi salah satu tragedi terburuk dalam sejarah pelaksanaan pertandingan sepak bola di dunia.

Aremania, suporter Arema FC, yang menjadi korban terbanyak tragedi itu secara bisik-bisik dengan identitas disamarkan mulai berani memberikan kesaksian. Mereka meyakini tragedi kemanusiaan disebabkan ketidakprofesionalan dan arogansi aparat melaksanakan pengamanan. Mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya menangkap kegetiran para suporter yang menanti keadilan. Dalam gelar aksi damai di depan Mapolda Jatim, Rabu (5/10/2022), mahasiswa meminta Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta mundur dari jabatannya.

Baca juga
Libatkan Ahli, The Washington Post Simpulkan Polisi Bersalah dalam Tragedi Kanjuruhan

“Harus legowo (mundur), tidak cukup hanya meminta maaf saja,” kata koordinator aksi, Husni Nurin.

Anggota Komisi I DPR, Fadli Zon, turut menyampaikan aspirasi senada. Politisi Gerindra menyebut, apabila tragedi Kanjuruhan terjadi di luar negeri, pejabat yang bertanggung jawab pasti berjiwa kesatria, mundur dari jabatannya.

Dia menilai, sepatutnya Kapolri Jenderal Sigit mencopot Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta bersamaan dengan pencopotan Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat pada Senin (3/10/2022). “Harusnya kapolda juga diganti saja, kan itu aspirasi masyarakat juga,” kata Fadli.

Desakan serupa turut disampaikan peneliti Imparsial Hussein Ahmad, yang mengadvokasi Aremania. Hussein meyakini adanya tanggung jawab komando dalam pengamanan pertandingan yang berbuntut tewasnya ratusan suporter termasuk anggota Polri. Represi aparat diyakini terjadi karena pembiaran penggunaan kekuatan berlebihan di dalam stadion.

Hussein menilai, tindakan represi dan arogansi aparat dalam pengamanan stadion dapat dikategorikan dengan pembunuhan. Artinya, selain Kapolda Nico, Kapolri Sigit juga harus bertanggung jawab. “Semuanya harus bertanggung jawab atas korban jiwa segini banyak, sampai level Kapolda dan kemudian dalam taraf yang lebih luas ini Kapolri juga harus bertanggung jawab,” tegas Hussein.

Baca juga
Cerita Sepatu Berserakan di Stadion Kanjuruhan

Selain memakan ratusan korban dari Aremania, tragedi Kanjuruhan turut menewaskan dua orang anggota Polri. Terhadap mereka Polri memberi kenaikan pangkat luar biasa anumerta. Kenaikan pangkat itu diberikan kepada Aipda Anumerta Andik Purwanto, Bintara Polres Tulungagung, dan Brigpol Anumerta Fajar Yoyok Pujiono, Bintara Polres Trenggalek yang gugur dalam insiden mematikan itu.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Dedi Prasetyo menyebutkan, penanganan kasus Kanjuruhan menjadi prioritas Polri. Sedikitnya 30 orang termasuk pihak panitia penyelenggara telah diperiksa. Ketika ditanyai mengenai potensi pencopotan Nico Afinta, Kadiv Humas hanya menjawab diplomatis. “Kita tidak berandai-andai,” ujarnya.

Nico Afinta, selepas membesuk korban luka di RSUD Syaiful Anwar bersama Forkopimda Jawa Timur, Selasa, (4/10/2022), secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Dia tidak menyinggung siap menanggung segala risiko lantaran tak mampu menjaga keamanan di wilayah hukumnya.

Baca juga
Berduka Tragedi Kanjuruhan, Raja Charles III Kirim Pesan ke Jokowi

“Saya sebagai Kapolda prihatin sekaligus meminta maaf jika di dalam proses pengamanan yang berjalan terdapat kekurangan,” kata Nico.

 

 

Tinggalkan Komentar