Jumat, 27 Mei 2022
26 Syawal 1443

Di Balik Ekonomi Melejit 5,01 Persen, Analis Ini Bilang Keropos

Di Balik Ekonomi Melejit 5,01 Persen, Analis Ini Bilang Keropos
BPS merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022 meroket 5,01 persen.

Analis dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR) Gede Sandra mempertanyakan klaim pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022 sebesar 5,01 persen (year on year/yoy) itu pertanda baik.

Beberapa waktu lalu, kata Gede, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2022 tumbuh 5,01 persen, bila dibandingkan dengan kuartal I-2021. “Tetapi bila pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2022 dibandingkan dengan kuartal IV-2021, hasilnya ekonomi Indonesia justru mengalami kontraksi sebesar negatif 0,96 persen. Ini bagaimana,” tukasnya kepada Inilah.com, di Jakarta, Jumat (13/5/2022).

Berdasarkan lapangan usahanya, kata dia, industri pengolahan atau manufaktur hanya berkontribusi 19,19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2022. “Nilai ini sebenarnya kecil untuk ukuran Indonesia. Sialnya lagi lebih kecil dari kontribusi pada 2021 sebesar 19,25 persen,” tuturnya.

Baca juga
SoftBank Mundur dari IKN, Pertemuan Luhut dan MBS Berpotensi ‘Zonk’

Bila dibandingkan dengan rata-rata kontribusi industri pengolahan terhadap PDB sepanjang 1968-2004 yang mencapai 28,1 persen, menurut Gede, jelas capaian tahun ini tidak ada apa-apanya.

“Atau jangan dibandingkan dengan angka kontribusi sektor pengolahan terhadap PDB negara-negara tetangga saat ini: China 30 persen, Thailand 34 persen, Vietnam 26 persen, dan Malaysia 25 persen,” ungkapnya.

Artinya, menurut Gede, Indonesia mengalami deindustrialisasi. Ini terkonfirmasi dari data BPS tentang tingkat pengangguran. Data BPS menunjukkan terjadi penurunan persentase penduduk bekerja yang berstatus sebagai buruh/karyawan/pegawai dari 37,02 persen pada Februari 2021, menjadi 36,72 persen pada Februari 2022.

Baca juga
Aktivitas Masyarakat Pulih, BPS: Ekonomi Tumbuh 5,01 Persen

“Buruh yang menjadi tulang punggung industrialisasi, komposisinya malah berkurang. Sementara terjadi peningkatan persentase penduduk yang bersatus berusaha sendiri. Realitasnya dari buruh industri, kemudian ter-PHK, lalu jadi jaga warung atau kaki lima atau jadi ojek online (ojol). Ini pertumbuhan ekonomi diklaim tinggi tapi keropos,” imbuhnya. [ikh]

 

Tinggalkan Komentar