Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Di Balik Kenaikan Harga Beras, Cadangan Nasional dalam Ancaman

Rabu, 02 Nov 2022 - 23:03 WIB
Presiden Jokowi sambangi gudang beras Perum Bulog. (Foto: Suara Surabaya).

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kenaikan harga beras premium 10 persen, kelas medium naik 11 persen. Pertanda cadangan beras menipis. Menyikapi ini, dua menteri terbelah.

Pada Selasa (1/11/2022), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Setianto menyebutkan kenaikan harga beras premium 10 persen, menjadi Rp10.402 per kilogram (kg). Sedangkan beras medium naik 11,46 persen, menjadi Rp10.043 per kg.

Sejatinya, sebelum diumumkan BPS, Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan sudah menyampaikan soal menipisnya cadangan beras pemerintah (CBP) yang tersimpan di gudang Perum Bulog. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional atau National Food Agency Agency (NFA), CBP Perum Bulog per September 2022 hanya 791 ribu ton. Agar aman selama 5 bulan atau sampai Februari 2023, CBP minimal 1,2 juta ton. Artinya, masih kurang sekitar 500 ribu ton.

Baca juga
Lepas Kontingen SEA Games, Presiden Jokowi Targetkan RI Masuk 3 Besar

“Mengenai beras kami dari kementerian memang sudah ratas. Presiden juga sudah menugaskan Bulog agar segera membeli panen dari petani dengan harga berapapun,” ujar Zulhas usai acara Konferensi Maju Digital di Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Kamis (27/10/2022).

Disebut cadangan beras tergerus, Menteri Pertanian (Mentan) Syahril Yasin Limpo tak terima. Apalagi dikaitkan dengan kenaikan harga. Politisi NasDem ini, menyebut persediaan beras nasional cukup, bahkan over stock.

“Puncak panen pertama kita Januari-April 18 juta lebih dan panen kedua sekitar Agustus 13 juta lebih. Berasnya setara 32 juta, sedangkan yang kita makan kurang lebih 30 juta. Artinya apa? Overstock kita cukup,” tegas Mentan SYL dalam keterangan tertulis, Rabu (2/11/2022).

Dia mencontohkan, panen raya di Jawa Timur pada September-Desember 2022 menghasilkan 1,15 juta ton. Sementara Jawa Tengah mencapai 1,01 juta ton. Adapun di Jawa Barat 1,5 juta ton, dan Sulawesi Selatan 1,6 juta ton. Perum Bulog diharapkan punya cukup dana untuk menyerap hasil panen petani dengan harga bagus.

Baca juga
Mendag Zulhas Siap Bantu Produk UMKM Go Internasional

“Jadi kalau ada yang bilang terjadi penipisan beras suruh datang ke Kementan dan akan saya tunjukan di mana tempatnya. Kan Bapak Presiden juga melakukan cek setiap minggu,” tegas Mentan SYL.

Ekonom dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR), Gede Sandra menilai, semakin dekat Pemilu 2024, para menteri khususnya bidang ekonomi, sudah mulai tidak fokus. “Mendekati Pemilu dan pilpres 2024, para menteri sudah tidak fokus. Masing-masing punya agenda sendiri. Ini juga kesalahan Presiden. Karena memilih politisi menjadi menteri strategis,” ungkap Gede kepada Inilah.com, Rabu (2/11/2022).

Gede menilai, politisasi beras sedang terjadi saat ini. Di mana, Mendag Zulhas bilang cadangan beras menispis. Kasat mata, pernyataan ini menohok keras Mentan SYL yang kader Partai Nasdem.

Baca juga
INILAHREWIND: Ironi Minyak Goreng di Negeri Penghasil CPO Terbesar Dunia

“Kasihan rakyat, hanya sebagai obyek penderita. Harga beras semakin mahal, menyumbang inflasi pangan yang sudah 15 persen. Sementara menterinya sibuk menjadi capres atau caleg. Punya agenda politik sendiri-sendiri. Ini yang harus menjadi fokus Presiden Jokowi,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar